Teknologi

Cerita Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi dan Teks Proklamasi yang Nyaris Tak Terselamatkan

×

Cerita Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi dan Teks Proklamasi yang Nyaris Tak Terselamatkan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi dan Teks Proklamasi yang Nyaris Terbuang

jurnalistik.co.id – Di balik pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno, ada rangkaian kerja yang sarat ketegangan—termasuk momen ketika naskah itu nyaris tidak bisa diketik tepat waktu.

Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap tahun pada akhirnya menempatkan teks proklamasi sebagai salah satu titik paling menentukan. Namun, proses yang mengantarkan pada pembacaan tersebut tidak berjalan lurus, melainkan berhadapan dengan hambatan-hambatan teknis dan situasional.

Dalam catatan sejarah, Sayuti Melik dikenal sebagai eksekutor yang mengetik naskah proklamasi. Sebelum tugas mengetik dilakukan, draf teks proklamasi itu lebih dulu ditulis tangan oleh Soekarno pada dini hari.

Konon, ada pertimbangan agar teks yang disiapkan Soekarno kemudian diketik oleh pihak lain. Tujuannya, supaya tidak muncul persepsi yang keliru mengenai naskah proklamasi.

Sayuti Melik tidak bekerja sendirian. Ia ditemani Burhanuddin Muhammad Diah (BM Diah) selama proses persiapan dan pengetikan berlangsung.

Gambaran mengenai kerumitan di tahap awal ini termuat dalam buku berjudul “17-8-1945, Fakta, Drama, Misteri” karya Hendri F Isnaeni yang terbit di Change pada 2015.

Masalah yang muncul di rumah Maeda

Di rumah Laksamana Tadashi Maeda, tempat naskah proklamasi diketik, muncul persoalan yang tidak terduga. Pada saat itu, tidak tersedia mesin tik berhuruf latin, melainkan hanya ada mesin tik berhuruf kanji—huruf Jepang.

Keadaan tersebut membuat rencana pengetikan harus segera diputuskan ulang, karena pekerjaan menyiapkan naskah tidak bisa menunggu lama. Dalam konteks inilah inisiatif datang dari Satsuki Mishima.

Satsuki Mishima, yang bekerja sebagai sekretaris urusan rumah tangga di rumah Maeda, kemudian berinisiatif meminjam mesin ketik yang akan digunakan Sayuti Melik.

Perjalanan peminjaman itu dilakukan dengan mobil Jeep. Mishima bergerak menuju kantor militer Jerman yang saat itu berada di Gedung KPM—yang kini menjadi Pertamina—di kawasan Koningsplein, atau yang dikenal saat ini sebagai Medan Merdeka Timur.

Setibanya di lokasi, Mishima bertemu dengan Perwira Angkatan Laut Nazi Jerman, Mayor Kandelar. Dari pertemuan tersebut, Mayor Kandelar bersedia meminjamkan mesin tik yang dibutuhkan.

Mesin tik lalu dibawa kembali oleh Mishima ke rumah Maeda. Setelah mesin tersebut tersedia, pekerjaan mengetik naskah Proklamasi pun harus segera dijalankan.

Proses mengetik yang disaksikan BM Diah

Ketika mesin tik pinjaman sudah ada, Sayuti Melik dan BM Diah menjalankan tugasnya. Tahap ini berlangsung dengan konsentrasi tinggi karena setiap menit berarti.

Diah kemudian mengisahkan situasi saat pengetikan berlangsung. “Dia (Sayuti Melik) menuju ke ruang lain yang ada meja tulis dan mesin ketik,” kata Diah.

Dalam lanjutan ceritanya, BM Diah juga menegaskan posisi pengamatnya saat proses berjalan. “Saya berdiri di belakang Sayuti Melik ketika dia mengetik,” sambungnya.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa keberhasilan menyiapkan teks proklamasi tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar, tetapi juga oleh kemampuan merespons masalah teknis yang muncul di tengah tekanan waktu.

Di satu sisi, draf proklamasi sudah ada karena Soekarno menulisnya pada dini hari. Di sisi lain, eksekusi akhir menuntut mesin yang sesuai—sementara yang tersedia justru berhuruf kanji.

Karena itulah, peminjaman mesin tik menjadi bagian dari cerita yang jarang terlihat, namun sangat menentukan. Perjalanan Mishima dengan Jeep menuju Gedung KPM, pertemuan dengan Mayor Kandelar, hingga mesin kembali ke rumah Maeda menunjukkan bagaimana solusi praktis bisa menentukan kelanjutan proses sejarah.

Ketika mesin tik itu akhirnya siap digunakan, tugas pengetikan berlangsung seperti yang diinginkan: Sayuti Melik menempati ruang dengan meja tulis dan mesin ketik, sementara BM Diah berada di belakangnya sambil menyaksikan proses berjalan.

Drama di balik naskah Proklamasi yang nyaris terbuang, pada akhirnya, tidak hanya berkutat pada siapa yang menulis dan siapa yang membacakan. Cerita ini juga menegaskan bagaimana keberlangsungan langkah-langkah penting bergantung pada keputusan cepat, dukungan orang-orang di sekitar, dan upaya yang dilakukan saat rintangan tiba-tiba menghalangi.