jurnalistik.co.id – Lonjakan laba pada sektor minyak dan gas muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan global. Pada kuartal II-2026, delapan perusahaan terbesar di bidang ini membukukan keuntungan gabungan yang mencapai hampir 93 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 1.655,77 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.804 per dollar AS.
Angka tersebut bergerak hampir dua kali lipat dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya. Saat itu, total laba perusahaan-perusahaan sejenis berada sedikit di bawah 50 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 890,2 triliun.
Menurut rujukan yang sama, kenaikan laba terjadi ketika konflik di kawasan berimbas langsung pada rantai distribusi energi. Perang Iran disebut menjadi salah satu pemicunya, bersamaan dengan gangguan besar terhadap kelancaran suplai minyak dunia setelah arus kapal tanker melalui Selat Hormuz hampir berhenti.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Ketika jalur ini terganggu, konsekuensinya tidak hanya terkait volume pengiriman, tetapi juga biaya untuk mendapatkan pasokan.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Iran menutup jalur tersebut setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Konflik yang kemudian berkembang menjadi perang membuat perdagangan yang melintasi selat tersebut tidak lagi berjalan seperti biasa.
Kondisi yang membatasi aktivitas tanker terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan mendorong harga minyak mentah bergerak naik. Kenaikan harga ini kemudian memberikan ruang keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan minyak dan gas, terutama bagi pelaku yang berbasis di Amerika Serikat dan Eropa.
International Energy Agency (IEA) juga menilai gangguan pada lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Penilaian ini memperkuat gambaran bahwa efeknya luas, mencakup pasokan yang lebih sulit diperoleh dan waktu pengiriman yang lebih tidak pasti.
Ketika ketersediaan pasokan menipis, negara-negara harus membayar lebih mahal untuk memperoleh minyak dan gas. Pada saat yang sama, beberapa perusahaan minyak besar dari Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah meningkatkan produksi untuk menutup kekurangan pasokan yang muncul akibat selat yang terbatasi.
Dengan adanya penyesuaian produksi tersebut, lonjakan harga yang sempat terpicu oleh gangguan di jalur utama kemudian ikut menopang kinerja keuangan perusahaan. Itulah alasan tren laba tinggi diperkirakan berlanjut selama perdagangan minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas.
Berita Terkait
Delapan perusahaan yang mencatat keuntungan gabungan
Perusahaan-perusahaan yang disebut berada di balik akumulasi keuntungan tersebut meliputi Aramco, BP, Shell, Equinor, TotalEnergies, Eni, Chevron, serta ExxonMobil. Kombinasi kinerja dari grup ini menjadi pengungkit utama untuk total laba kuartalan yang disebutkan mencapai hampir 93 miliar dollar AS.
Di antara nama-nama tersebut, hasil yang paling menonjol datang dari Saudi Aramco. Perusahaan ini tercatat mengalami kenaikan laba bersih kuartalan sebesar 34 persen menjadi lebih dari 33 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 587,53 triliun.
Aramco disebut tetap mampu membukukan keuntungan tinggi meskipun infrastrukturnya mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal. Serangan tersebut dikaitkan dengan pasukan Iran dan Houthi.
Peran pergerakan harga minyak
Lonjakan kinerja Aramco dikaitkan dengan perubahan harga minyak pada periode musim semi 2026. Disebutkan bahwa Brent berada di kisaran 68 dollar AS per barrel pada akhir Februari, setara sekitar Rp 1,21 juta per barrel.
Selanjutnya, harga Brent bergerak naik hingga mendekati 100 dollar AS per barrel pada bulan Mei, atau sekitar Rp 1,78 juta per barrel. Perubahan level harga ini menjadi faktor penting yang mendorong nilai pendapatan dan laba di sektor hulu.
Dalam kerangka yang sama, kenaikan harga minyak dalam beberapa bulan terakhir juga dipaparkan sebagai dampak dari hampir seluruh aktivitas perdagangan melalui Selat Hormuz yang terganggu. Jika akses jalur utama tersebut tidak pulih sepenuhnya, mekanisme kenaikan harga berpotensi terus memberi efek pada neraca keuntungan perusahaan-perusahaan energi.
Dengan demikian, rapatnya hubungan antara ketahanan pasokan dan harga di pasar terlihat jelas pada kuartal II-2026. Meski sejumlah perusahaan meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan pasokan, pembatasan arus tanker melalui Selat Hormuz tetap membuat distribusi tidak kembali sepenuhnya normal.
Akibatnya, tren keuntungan tinggi yang telah terlihat pada periode tersebut dinilai memiliki peluang untuk berlanjut, sepanjang aktivitas perdagangan minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas dan negara-negara maupun pelaku usaha menghadapi biaya pasokan yang lebih mahal.












