Teknologi

Rahasia di Balik Teks Proklamasi: Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi Jerman

×

Rahasia di Balik Teks Proklamasi: Mesin Tik Pinjaman Perwira Nazi Jerman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Di Balik Teks Proklamasi, Ada Mesin Tik Pinjaman dari Perwira Nazi Jerman

jurnalistik.co.id – Menjelang detik pembacaan proklamasi, rangkaian persiapan kemerdekaan tidak hanya bergantung pada naskah, melainkan juga pada alat yang dipakai untuk mengetiknya. Di balik proses yang akhirnya sampai ke meja Soekarno, ada mesin tik yang justru dipinjam dari perwira Nazi Jerman.

Tahun ini Indonesia bersiap memeringati Hari Kemerdekaan ke-81. Proklamasi yang dibacakan Soekarno sendiri menjadi simbol perjuangan yang berlangsung di tengah banyak tantangan pada masa itu.

Sejarah mencatat nama Sayuti Melik sebagai eksekutor ketika naskah proklamasi mulai diketik. Namun, tahap awalnya tidak dimulai dari mesin tik, melainkan dari tulisan tangan Soekarno yang dikerjakan pada dini hari.

Konon, ada pertimbangan agar naskah proklamasi tidak menimbulkan persepsi keliru. Karena itu, teks yang telah disiapkan lebih dulu dituntaskan melalui pengetikan oleh pihak yang ditugaskan, yakni Sayuti Melik.

Dalam proses yang sama, Sayuti Melik tidak bekerja sendirian. Ia ditemani Burhanuddin Muhammad Diah atau BM Diah, yang hadir untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai kebutuhan saat waktu kian menipis.

Masalah yang muncul sebelum pengetikan

Dalam buku “17-8-1945, Fakta, Drama, Misteri” karya Hendri F Isnaeni (terbitan Change, 2015), disebutkan bahwa ada persoalan yang harus segera diselesaikan sebelum proses pengetikan dilakukan.

Lokasi kerja kala itu berada di rumah Laksamana Tadashi Maeda, tempat naskah proklamasi akan diketik. Di tempat tersebut, mesin tik yang tersedia ternyata tidak berhuruf latin, melainkan hanya memuat huruf kanji—huruf yang terkait dengan lingkungan Jepang pada masa itu.

Keterbatasan tersebut menjadi titik yang menentukan. Naskah proklamasi yang hendak diketik membutuhkan perangkat yang sesuai, sementara waktu untuk menuntaskan pekerjaan juga tidak panjang.

Di rumah Maeda, Satsuki Mishima—seorang sekretaris urusan rumah tangga—kemudian mengambil inisiatif untuk mencari mesin tik yang diperlukan.

Perjalanan meminjam mesin tik

Mishima bergerak ke kantor militer Jerman yang saat itu berlokasi di Gedung KPM. Gedung tersebut kini dikenal sebagai gedung Pertamina di kawasan Koningsplein, yang sekarang merujuk pada Medan Merdeka Timur.

Perjalanan itu dilakukan menggunakan mobil Jeep. Langkah cepat ini menunjukkan bahwa persoalan alat ketik harus segera diputuskan, sebelum pekerjaan mengetik naskah proklamasi benar-benar dimulai.

Setibanya di lokasi, Mishima bertemu dengan Mayor Kandelar, seorang perwira Angkatan Laut Nazi Jerman. Pertemuan itu kemudian berujung pada kesediaan Mayor Kandelar untuk meminjamkan mesin tik yang dimaksud.

Setelah mendapat izin, mesin tik tersebut dibawa kembali oleh Mishima ke rumah Maeda. Dengan tersedianya perangkat yang sesuai kebutuhan, pekerjaan mengetik dapat dilanjutkan tanpa harus menunggu lebih lama.

Pengetikan naskah proklamasi

Waktu terus berjalan, dan setiap jeda menjadi berarti. Begitu mesin tik tersedia, giliran Sayuti Melik dan BM Diah menunaikan tugasnya.

BM Diah kemudian menjelaskan suasana pelaksanaan pekerjaan. Ia menyebut Sayuti Melik menuju ke ruang lain yang memiliki meja tulis dan mesin ketik.

“Dia (Sayuti Melik) menuju ke ruang lain yang ada meja tulis dan mesin ketik,” kata Diah.

Pada bagian berikutnya, Diah menambahkan peran dirinya selama pengetikan berlangsung. Ia menyatakan berada di belakang Sayuti Melik ketika proses mengetik dilakukan.

“Saya berdiri di belakang Sayuti Melik ketika dia mengetik,” sambungnya.

Rangkaian keterangan tersebut menempatkan pengetikan sebagai tahap yang berjalan dengan pengaturan tempat dan kehadiran pendamping. Dari sejak awal, Soekarno menulis naskah pada dini hari, lalu pengetikan dikerjakan sesuai penugasan.

Dengan demikian, kisah yang semula tampak hanya soal naskah ternyata juga menyangkut detail teknis yang menentukan kelancaran proses. Mesin tik yang dipinjam dari perwira Nazi Jerman menjadi jembatan agar teks proklamasi bisa diketik dalam kondisi yang diperlukan.

Di titik inilah drama persiapan kemerdekaan terasa nyata: ada rintangan di ruang kerja, ada langkah inisiatif untuk mencari solusi, lalu ada pengetikan yang segera dilaksanakan setelah perangkat tersedia. Semua unsur itu akhirnya mengantar naskah proklamasi pada tahap pembacaan Soekarno.

Cerita mengenai mesin tik pinjaman tersebut tidak hanya memperlihatkan kerja di balik layar, tetapi juga menunjukkan bahwa kemerdekaan dirancang melalui rangkaian keputusan yang menyasar hal-hal paling praktis. Ketika huruf di mesin yang ada tidak memenuhi kebutuhan, respons yang cepat justru datang dari upaya meminjam alat yang tepat.

Pada akhirnya, pengetikan naskah proklamasi menjadi bagian dari kerja kolektif yang melibatkan Soekarno, Sayuti Melik, BM Diah, serta dukungan dari pihak-pihak yang berperan di tempat penulisan dan pengetikan. Bahkan detail seperti mesin tik dapat menjadi penentu kapan pekerjaan dapat dimulai dan bagaimana naskah bisa sampai ke tangan pembacanya.