jurnalistik.co.id – jurnalistik.co.id — Langkah Arthur Fery di Wimbledon 2026 terasa seperti cerita pulang-pergi. Dari arena yang dulu ia kenal sejak kecil, kini ia kembali ke Centre Court untuk melanjutkan perjalanan yang bahkan bagi banyak orang terasa tak terduga. Jumat ini, Fery dijadwalkan tampil pada pukul 13:30 BST untuk meneruskan kiprah di babak semifinal, menghadapi unggulan kedua Alexander Zverev.
Ini adalah momen besar bagi petenis yang berstatus wildcard dan menempati ranking dunia nomor 114. Tantangan yang ia hadapi juga datang dalam bentuk yang belum pernah ia singgahi dalam tahap sejauh ini—bertarung untuk satu tempat di final Wimbledon, di panggung yang menjadi tujuan sejak mimpi-mimpi masa kecilnya.
Fery pertama kali menginjak lapangan tenis pada usia empat tahun di Westside Tennis Club. Lokasinya hanya berjarak sedikit lebih dari satu mil dari All England Club, sehingga jarak antara keseharian dan impian terasa begitu dekat. Hampir dua dekade setelah langkah awal itu, ia justru menjadi “bintang baru” Inggris dengan capaian terbaik sepanjang kariernya, dan kini mendapat kesempatan bermain di tempat yang dulu ia idamkan.
Memulai dari Wimbledon, dan kembali lagi
Fery tumbuh di sekitar Centre Court, dengan ritme latihan yang melekat pada lingkungan tempat ia berharap suatu hari bisa bersaing. Pada semifinal Wimbledon kali ini, ia akan mencoba menjaga momentum “dongeng” run yang membawanya ke babak terakhir empat besar, saat menghadapi pemain setingkat unggulan.
Walau kini namanya menjadi sorotan sebagai petenis Inggris, Fery tidak mewakili negara kelahirannya. Ia lahir di Sevres, sebuah lingkungan di luar Paris, sebelum keluarganya pindah ke London tak lama setelah ia berusia satu tahun.
Dari sisi keluarga, Fery menyebut dukungan orang tuanya sebagai bagian penting dalam perjalanan panjangnya. Ibunya, Olivia, pernah bermain ganda di Prancis Terbuka 1991 dan juga berkompetisi di Fed Cup. Sementara ayahnya, Loic, bekerja sebagai pengelola keuangan, namun ia juga memahami tekanan dalam olahraga elit karena pernah memiliki klub sepak bola Ligue 1, Lorient.
Dalam pernyataannya kepada BBC Sport awal tahun ini, Fery mengatakan, “They’re both extremely supportive with my career, not only now but over the past 10 to 11 years I’ve been playing sport. It is important to recognise their help, not only now I’m having success, but also in the bad times.”
Pelajaran tenis pertama dari Alison Taylor
Saat Fery tumbuh di Wimbledon, ia juga menapaki jalur tenis di Westside club terdekat. Di sana, coach Alison Taylor—yang dekat secara keluarga dengan Roger, mantan semifinalis Wimbledon sebanyak tiga kali—menjadi orang yang memberi Fery pelajaran tenis pertama.
Taylor menggambarkan Fery sebagai sosok yang menonjol sejak awal. Menurutnya, “Arthur was incredibly athletic and gifted,” dan ia menambahkan bahwa “His footwork was exceptional. He could retrieve any ball and was very balanced.” Taylor juga menyebut ada sentuhan khas pada gaya bermain Fery, termasuk kebiasaan untuk melakukan drop shot dan berlari menuju net. Ia menegaskan, “You could see there was something special there.”
Bakat-bakat yang ia latih sejak dini itu, pada akhirnya menjadi fondasi yang terus dipakai Fery hingga semifinal Wimbledon. Ia masih mengandalkan pergerakan untuk bertahan terlebih dahulu, lalu melaju cepat saat momen beralih ke fase serangan. Cara itu juga menjadi alasan Fery mampu tampil melampaui “ekspektasi” bagi petenis yang tidak menempati posisi teratas di undian.
Langkah sebagai junior: pembinaan yang terukur
Seiring bertambah usia, kemampuan teknis Fery mulai mendapat perhatian bahkan sebelum ia memasuki usia remaja. Ketika berumur 10 tahun, kemampuan tekniknya sudah menandai Fery sebagai salah satu anak muda paling berbakat di negaranya.
Sosok yang kemudian masuk dalam rencana pembinaan Fery adalah Craig Veal dari Sutton Tennis Academy. Ia bekerja bersama Benoit Foucher, mantan pemain ATP asal Prancis. Bersama dua figur tersebut, keduanya memutuskan agar Fery berkembang melalui latihan dan pertandingan melawan pemain dewasa di Inggris, ketimbang langsung pergi ke berbagai turnamen internasional untuk bersaing dengan seumurannya.
Berita Terkait
Veal menjelaskan pertimbangannya kepada The i Paper: “[We decided to] let him develop his game and his passion for it, rather than putting a load of pressure on him to get an international ranking.” Ia juga menyebut bahwa ketika Fery mulai bermain di level junior secara internasional, perkembangan peringkatnya meningkat sangat cepat. “When he was 16, he then got his junior ranking up very, very fast compared to a lot of his peers, because he was ready to play.”
Ketika Fery akhirnya terjun ke sirkuit internasional, ia meraih gelar nomor tunggal dan ganda di World Tennis Junior. Ia juga mencapai peringkat 12 dunia. Namun, di fase Grand Slam untuk kategori junior, ia belum melewati babak ketiga di sektor tunggal putra. Meski begitu, ia mampu menembus semifinal di Australian Open dan Wimbledon untuk nomor ganda.
Alternatif di luar lapangan: Stanford
Peralihan ke level profesional tidak otomatis dianggap pasti. Karena itu, Fery juga menyiapkan rencana alternatif. Pada usia 18 tahun, ia mendaftar di Stanford University, California, untuk mengambil gelar di bidang science, technology and society.
Keputusan itu memberikan pijakan akademik bagi diri Fery yang memang dikenal serius dan tekun. Selain itu, kesempatan bermain melalui beasiswa tenis juga memberinya ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus menghadapi proses adaptasi.
Fery menyatakan, “I wasn’t necessarily ready to go and play professional tournaments straight away.” Ia menambahkan, “It gave me time to mature. I made great friends, still pursued academics and had great coaches.”
Brandon Coupe, yang melatih Fery selama tiga tahun di Stanford, menyoroti upaya Fery dalam memperbaiki sisi mental. Coupe menyebut suasana kompetisi tenis kampus Amerika cenderung lebih gaduh dan lebih berani dibanding level profesional, namun Fery tetap bisa bertahan dan berkembang di tengah situasi yang ramai.
Menurut Coupe, “The kid has got ice in his veins. He is so calm under pressure.”
Menjaga tubuh, dan mengubah servis
Melanjutkan performa di level tertinggi membutuhkan waktu, dan tidak selalu karena faktor yang datang dari diri Fery sendiri. Ia pernah mengalami masalah bone bruising di lengan—sejenis isu yang juga sempat menghambat Jack Draper dalam setahun terakhir. Kondisi ini membawa Fery ke “dark moments” selama periode yang berat.
Rasa nyeri itu kembali muncul dalam waktu belakangan, dan salah satu momen yang disebutkan terjadi setelah ia mencapai babak kedua di Australian Open tahun ini. Di tengah keadaan tersebut, Fery berkomitmen untuk menggunakan kemenangan £115,000 dari Melbourne sebagai bagian dari investasi untuk kariernya. Ia kemudian membawa physio penuh waktu serta seorang spesialis biomekanika untuk membantu mengubah servisnya.
Pelatihnya, Jeroen Benard, menjelaskan bahwa perubahan servis berhubungan langsung dengan pengurangan tekanan pada tulang. Ia mengatakan, “The serve is helping cause less force through the bones and it’s clearly working because he is not in pain anymore.”
Benard juga menekankan perjalanan yang tidak singkat. “We have only been together a year but it has been a long journey already because of the injury.” Ia menambahkan bahwa semua proses itu kini menemukan momentumnya, khususnya karena Wimbledon menjadi panggung yang ia jalani sendiri. “I know how hard he works and everything coming together now, in his backyard at Wimbledon, is a dream.”
Menunggu hari besar di Centre Court
Dengan seluruh rangkaian perjalanan tersebut, Fery kini berada di ambang pencapaian yang jarang terjadi. Jika ia mampu melewati Alexander Zverev di babak semifinal, ia akan membidik satu hal yang bahkan lebih istimewa: menjadi wildcard kedua setelah Goran Ivanisevic pada 2001 yang mencapai final Wimbledon nomor tunggal putra.
Fery sendiri akan menghadapi pertandingan terakhir empat besar dengan modal pergerakan khasnya, keyakinan yang dibentuk melalui pembinaan bertahap, serta pengalaman yang ia dapat dari rintangan-rintangan yang sempat menguji kondisi tubuhnya. Kini, semua itu akan diuji di Centre Court—tempat ia pernah memulai, dan kini kembali untuk melangkah lebih jauh.












