jurnalistik.co.id – FIFA menjatuhkan skors dua pertandingan kepada bek Inggris, Jarell Quansah, setelah ia menerima kartu merah saat menghadapi Meksiko di Piala Dunia 2026.
Kejadian itu bermula pada menit ke-54 saat Inggris menang 3-2 atas Meksiko. Quansah dikeluarkan dari lapangan karena sebuah tekel yang dianggap melanggar keras terhadap Jesus Gallardo.
Komite disiplin FIFA kemudian menilai insiden tersebut sebagai serious foul play. Keputusan itu membuat Quansah tidak hanya menjalani skors otomatis satu pertandingan, tetapi juga mendapat tambahan satu laga.
Dengan demikian, Quansah dipastikan absen pada partai perempat final melawan Norwegia yang dijadwalkan pada Sabtu pukul 22:00 BST. Ia juga terancam tidak tampil pada kemungkinan laga semifinal melawan Argentina atau Swiss.
Quansah baru bisa kembali jika Inggris melaju hingga final. FIFA menyebut ia dapat tersedia untuk pertandingan final yang digelar di New Jersey pada 19 Juli.
Pihak Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat menimbang opsi banding. Namun, menurut regulasi turnamen, tidak ada jalur untuk melawan keputusan skors tersebut.
BBC Sport melaporkan bahwa FA menyampaikan keberatan yang kuat kepada FIFA terkait proses yang berujung pada keputusan kartu merah. Keberatan itu menyoroti tayangan yang ditunjukkan kepada wasit sebelum memutuskan.
Menurut laporan, wasit sempat melihat cuplikan gambar diam dan tayangan ulang dengan gerakan lambat sebelum menyaksikan insiden secara real-time lewat layar di pinggir lapangan. FA menilai hal tersebut dapat memengaruhi penilaian, yang dinilai sebagai ‘outcome bias’.
Dalam konteks Liga Premier, otoritas wasit umumnya lebih dulu meninjau insiden pada kecepatan penuh. Inggris dianggap menjadi pengecualian di Piala Dunia 2026 karena urutan tontonan yang dinilai berbeda itu.
Skors Quansah tentu menjadi persoalan baru bagi manajer Thomas Tuchel, terutama di posisi bek kanan. Sebelum pertandingan melawan Meksiko, Quansah memang dipilih mengisi kebutuhan tersebut.
Di laga tersebut, Inggris tidak diperkuat Reece James karena cedera. Sementara itu, Djed Spence baru digunakan sebagai pemain pengganti setelah mengalami masalah kebugaran ringan.
Tuchel menyatakan bahwa ia mengharapkan James bisa kembali ketika Inggris menghadapi Norwegia. James absen pada sejumlah pertandingan karena cedera hamstring yang ia alami pada laga grup kedua melawan Ghana.
Bagi Tuchel, kabar soal Quansah terasa “menambah panjang” daftar masalah yang harus diatasi dalam tempo singkat. Wakil pelatihnya, Anthony Barry, juga menanggapi keputusan itu dengan nada kecewa.
Barry mengatakan, “Disappointing, not with the decision, just the fact that we lose a good player.” Ia melanjutkan, “He was excellent in training, and of course we have some injuries in that position, so it looked like a space had opened up for Jarell.”
Ia menegaskan, keputusan sudah dibuat dan tim harus segera beradaptasi. “But the decision’s been made, we won’t waste any more energy on it. Overall for us, we lose a good player for two games, but it’s just another hurdle that we have to overcome.”
Pemain sayap Bukayo Saka turut menyampaikan frustasi yang sama. Saka menyebut, “incredibly frustrating for us, and for him”.
Ia menambahkan, “But it is what it is. We have to adapt and pick a team to win against Norway.” Pernyataan itu mencerminkan fokus tim yang harus segera bergeser dari kekecewaan menuju strategi menghadapi lawan berikutnya.
Untuk urusan kepemimpinan pertandingan, FIFA mengumumkan bahwa wasit asal Prancis, Clement Turpin, akan memimpin laga Norwegia vs Inggris. Turpin sebelumnya bertugas saat Inggris menang 4-2 atas Kroasia.
Berita Terkait
Selain dampak langsung bagi skuat Inggris, keputusan Quansah juga kembali mengundang sorotan soal konsistensi hukuman di ajang ini. Artikel BBC menyoroti perbedaan perlakuan terhadap Folarin Balogun, penyerang Amerika Serikat.
Dalam laporan disebutkan, Balogun semestinya menerima hukuman yang sejenis dengan Quansah. Balogun mendapat kartu merah untuk serious foul play saat melawan Bosnia-Herzegovina, dan ia dianggap juga layak diskors dua pertandingan.
Namun FIFA hanya melarang Balogun untuk satu pertandingan dan menerapkan skors tambahan selama 12 bulan. Sebelumnya, ia dijadwalkan absen pada babak 16 besar melawan Belgia, tetapi perubahan keputusan membuat dampaknya tidak setara dengan yang semestinya.
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, juga dikaitkan dengan upaya peninjauan ulang. Trump mengonfirmasi bahwa ia menelepon presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta adanya review atas kartu merah tersebut.
FIFA kemudian merilis pernyataan panjang terkait situasi Balogun. Dalam laporan, disebutkan pernyataan itu berjumlah 871 kata dan menyatakan keputusan diambil dengan “considering all of the specific circumstances surrounding the incident and evidence available”. FIFA tidak merinci detail faktor apa saja yang dimasukkan ke dalam pertimbangan.
Akibatnya, muncul kritik yang meluas di dunia sepak bola. Laporan menyebut kritik datang dari UEFA, Belgia, serta Tuchel, dan keputusan itu berujung pada reaksi lanjutan terkait hukuman lain.
Lebih jauh, disebutkan Prancis mengajukan tantangan atas kartu kuning Michael Olise dari kemenangan mereka atas Paraguay. FIFA menolak tantangan tersebut, sebagaimana disebut dalam laporan.
Persoalan komposisi bek kanan Inggris
Dengan Quansah dipastikan absen hingga final jika Inggris melaju sejauh itu, pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi bek kanan kembali menjadi fokus utama. Situasi itu tidak muncul tiba-tiba, karena sejak sebelum turnamen bergulir posisi ini sudah menyimpan masalah.
Tino Livramento, yang semula menjadi opsi, harus keluar dari skuad karena cedera betis. Di sisi lain, Trent Alexander-Arnold tidak dipilih untuk skuad turnamen.
Akibat berkurangnya alternatif spesialis, tekanan kemudian bertumpu pada Reece James dan kemampuannya menjaga kebugaran. James pernah menyatakan bahwa pembicaraan soal kondisi fisiknya adalah hal yang “boring”, namun ia tidak tampil lagi untuk Inggris sejak cedera hamstring saat melawan Ghana.
Quansah sendiri juga membawa catatan cedera sebelum kartu merah itu terjadi. Ia mengalami masalah pada pergelangan kaki sebelum akhirnya dikeluarkan saat Inggris menang dramatis di Mexico City.
Dalam laga tersebut, Ezri Konsa menuntaskan pertandingan sebagai bek kanan. Konsa juga pernah melakukan debut untuk Inggris di posisi yang sama, tetapi Tuchel mungkin ragu untuk memindahkan salah satu bek tengah yang paling konsisten ke area sayap.
Pertimbangan utamanya karena kebutuhan di lini tengah ketika menghadapi Erling Haaland. Bila bek tengah yang stabil digeser terlalu jauh ke kanan, Tuchel khawatir komposisi pertahanan menghadapi striker lawan besar akan kehilangan keseimbangan.
Trevoh Chalobah dipanggil sebagai bek tengah untuk menggantikan Livramento, sehingga ia memiliki peluang dimainkan di posisi itu. Djed Spence juga disebut dapat dipertimbangkan, meski laporan menekankan bahwa ia terlihat lebih nyaman saat bermain sebagai bek kiri untuk Inggris.
Ada pula faktor tambahan yang tidak bisa diabaikan: Tuchel akan memilih full-back yang mampu melengkapi gaya permainan pemain sayap di sisi kanan, baik Noni Madueke maupun Saka, sesuai karakter serangan yang diinginkan.
James yang kian mendekati kondisi fit bisa menjadi solusi cepat. Tetapi, tetap ada risiko ketika memasukkannya langsung ke pertandingan berdensitas tinggi dan sarat tekanan, terlebih pada tahap penting turnamen.
Dalam situasi seperti ini, semua keputusan Tuchel akan menguji keseimbangan antara kebutuhan hasil segera melawan Norwegia dan antisipasi untuk perjalanan berikutnya. Skors dua pertandingan Quansah menjadikan pergantian pemain bukan sekadar pergantian posisi, melainkan perubahan strategi yang harus langsung berjalan.












