jurnalistik.co.id – LONDON — Sejumlah saingan politik Nigel Farage memutuskan tidak ikut bertarung dalam pemilu sela (by-election) Clacton yang dipicu oleh pengunduran dirinya sebagai anggota parlemen. Langkah itu menggeser kontestasi dari rencana “pemilu sela versi Farage” menuju isu-isu yang berkaitan dengan investigasi parlemen atas urusan finansialnya.
Partai-partai menolak ikut pemilu sela Clacton
Labour, Konservatif, Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Restore Britain telah menyatakan tidak akan mencalonkan kandidatnya di pemilu sela tersebut. Labour juga menilai rencana Farage sebagai “circus”, dengan menyebutnya sebagai panggung politik yang tidak perlu.
Farage sendiri mengatakan ia akan “mengulang” pertarungan di kursi Essex itu setelah pengunduran dirinya diumumkan. Ia membingkai by-election sebagai “people versus the establishment”, dengan menyatakan “the people of Clacton should be the judge of my actions” terkait tindakannya selama ini.
Dari pihak pemerintah, Sekretaris Negara Luar Negeri Yvette Cooper menilai pemilu sela itu “shouldn’t be happening”. Ia menuduh Farage melakukan “throwing a ‘political tantrum’” sebagai pengalih perhatian, serta mengatakan “Nobody is going to get drawn into what is a political stunt by Nigel Farage because he wants to duck and dive around the rules that apply to everyone”.
Farage membalas pada Selasa dengan menegaskan “done nothing wrong” terkait persoalan finansialnya. Ia juga mengaitkan konflik ini dengan perlakuan media terhadap keluarganya, yang ia sebut sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas.
Kepemimpinan Konservatif lewat Kemi Badenoch menyatakan partainya tidak akan berpartisipasi pada “the fake election, which Nigel Farage is causing to distract people from what is happening”. Sementara itu, Liberal Demokrat mendorong pemerintah agar menahan pengunduran diri Farage sampai investigasi standar (standards investigation) selesai, dengan argumentasi bahwa konstituennya “needed ‘all the facts before they cast their votes’”.
Pimpinan Liberal Demokrat Sir Ed Davey menegaskan posisi tersebut melalui pernyataan “We shouldn’t be playing Mr Farage’s game to escape justice” dalam program Today di BBC Radio 4. Restore Britain, yang dibentuk oleh anggota parlemen Rupert Lowe setelah ia diskors dari Reform, menyatakan tidak akan maju pada pemilu sela ini, namun bersedia mencalonkan diri bila pada akhirnya pemilu sela kedua dipicu oleh proses investigasi standar.
Partai Hijau pada awalnya menyerahkan keputusan kepada organisasi lokal. Belakangan, anggota parlemen Partai Hijau Hannah Spencer menyampaikan bahwa anggota lokal memutuskan tidak mengajukan kandidat.
Di luar penolakan partai-partai besar, komedian Jon Harvey yang kerap bertanding dengan nama samaran Count Binface mengonfirmasi bahwa ia akan maju. Konfirmasi tersebut membuat pemilu sela ini tetap memiliki kompetisi meski sejumlah organisasi politik utama mundur.
Farage menegaskan “tidak bersalah” dan menyebut by-election sebagai taruhan
Dalam pernyataan video berdurasi sekitar 20 menit yang direkam di kantor pusat partainya di London, Farage menegaskan “done nothing wrong” terkait finansial dan menyerang media. Ia menyebut “the ‘establishment’ were using ‘foul means’ to target his party” dan menggambarkan by-election sebagai “a chance to stick two fingers up to the entire establishment to frankly tell them where to go”.
Sebagaimana dikutip dari sumber Reform, mereka menginginkan pemilihan dapat digelar cepat. Di bawah aturan parlemen, pemilu sela itu disebut bisa dijadwalkan seawal bulan Agustus.
Farage juga menyatakan partainya bersedia menanggung biaya by-election, yang normalnya dibayar dari dana pemerintah pusat. Estimasi pemerintah pada 2016 menyebut biaya by-election sebesar £228,964, namun angka itu disebut akan meningkat sejak saat itu.
Berita Terkait
Pada pemilu umum 2024, Farage memenangkan konstituensi Clacton dengan perolehan suara mayoritas lebih dari 8.000, sekaligus mengalahkan Partai Konservatif yang berada di posisi kedua. Labour finis ketiga disusul Liberal Demokrat dan Partai Hijau.
Investigasi standar parlemen, potensi skorsing, dan mekanisme recall
Farage tengah menghadapi investigasi dari commissioner standar parlemen Daniel Greenberg sejak Mei. Investigasi itu muncul karena Farage tidak mendeklarasikan hadiah senilai £5m yang diterimanya dari donatur Reform Christopher Harborne sebelum ia menjadi anggota parlemen.
Dalam pidatonya, Farage menyebut uang tersebut “the equivalent of a lottery win”. Ia mengatakan hadiah yang ia terima bersifat “the ‘unconditional’ gift” dan akan membantu menutup biaya keamanan pribadinya.
Sementara itu, Minggu Times menerbitkan laporan yang menyebut George Cottrell—sekutu Farage yang lama—memberikan dukungan sebelum pemilu umum 2024. Dukungan itu disebut mencakup pembayaran untuk staf yang menyediakan keamanan Farage serta kerja pada konten media sosialnya.
Aturan pedoman parlemen menyebut anggota parlemen terpilih wajib mendeklarasikan hadiah atau benefit, termasuk akomodasi, yang diterima dalam 12 bulan sebelum pemilihan dan terkait dengan “parliamentary or political activities”. Namun ada pengecualian untuk hadiah dan benefit yang “purely personal”. Farage berpendapat dukungan yang ia terima termasuk dalam pengecualian tersebut.
Investigasi commissioner standar dinyatakan dijeda setelah Farage mengundurkan diri, tetapi bisa dilanjutkan jika ia memenangkan pemilu sela dan kembali ke parlemen. Salah satu kemungkinan hasilnya adalah skorsing, yang kemudian memicu petisi recall petition.
Petisi recall memungkinkan anggota parlemen untuk dicabut dari jabatannya dan memicu pemilu sela lanjutan bila 10% dari pemilih terdaftar yang memenuhi syarat menandatangani petisi.
Isu terkait Cottrell, Tice, dan pelaporan ke NCA
Terpisah dari isu utama deklarasi hadiah, muncul pula bahwa Cottrell dan ibunya memberikan uang kepada sebuah perusahaan dan sebuah think tank yang dimiliki Richard Tice. Sebagaimana dilaporkan Telegraph, perusahaan Tice Tisun Investment menerima pinjaman £80,000 dari Cottrell pada akhir 2024, sedangkan think tank Britain Means Business menerima donasi £1m dari Fiona Cottrell pada Juni 2024.
Pembayaran-pembayaran itu disebut telah ditandai kepada National Crime Agency (NCA) melalui program Suspicious Activity Reports (SARs). Tice menyatakan ia baru mengetahui hal tersebut ketika dihubungi oleh Guardian.
Reform UK meyakini informasi itu kemungkinan berasal dari NCA. Tice juga menulis kepada pimpinan NCA untuk meminta klarifikasi apakah lembaga tersebut akan menyelidiki kemungkinan tanggung jawab atas kebocoran informasi keuangan pribadinya ke media.
Seorang juru bicara NCA menyatakan: “The NCA does not confirm or deny the receipt of suspicious activity reports (SARs), nor comment on how any SAR is used. SARs are confidential and breaching that confidentiality risks committing a tipping off offence under the Proceeds of Crime Act.”
Program SAR disebut bertugas memberi peringatan kepada aparat penegak hukum terkait potensi pencucian uang, dan melaporkan bahwa pada 2024/25 ada 866,616 laporan yang ditandai.












