jurnalistik.co.id – Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, bank sentral di berbagai negara tetap menjadikan emas sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat cadangan devisa.
Polanya memang tidak selalu mulus. Namun, data terbaru menunjukkan minat terhadap emas kembali menguat setelah sempat melambat pada awal tahun.
Lonjakan pembelian pada kuartal II-2026
Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 dari World Gold Council (WGC) mencatat pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II-2026.
Angka tersebut melonjak hampir lima kali lipat dibandingkan kuartal I-2026 yang telah direvisi menjadi 57 ton, sekaligus menjadi rekor tertinggi untuk pembelian emas pada kuartal kedua.
Meskipun demikian, gambaran semester pertama tidak mengikuti kenaikan tajam yang sama. Secara kumulatif semester I-2026, pembelian bersih bank sentral tercatat 345 ton.
Ini merupakan level terendah untuk periode enam bulan pertama sejak 2022, seiring penjualan emas yang cukup besar oleh Turkiye, Rusia, dan Azerbaijan pada kuartal pertama.
Ritme akumulasi makin tidak merata
Temuan WGC memperlihatkan bahwa minat bank sentral terhadap emas tidak surut. Yang berubah adalah ritme akumulasi yang menjadi lebih tidak merata, bergerak mengikuti dinamika ekonomi serta geopolitik global.
Dengan kata lain, strategi penguatan cadangan devisa lewat emas masih dipertahankan, tetapi timing pembelian tampak lebih bervariasi antar periode.
Polandia dan China paling menonjol
Dalam daftar negara pembeli yang paling agresif sepanjang 2026, Polandia menempati posisi terdepan.
Bank Sentral Polandia membeli 51 ton emas pada kuartal II-2026, sehingga total pembelian pada semester pertama mencapai 82 ton.
Berita Terkait
Akumulasi tersebut membuat cadangan emas Polandia naik menjadi 632 ton pada akhir Juni 2026, dan semakin mendekati target 700 ton yang ditetapkan pemerintah negara itu.
Berdasarkan statistik WGC per Juni 2026, Polandia juga menjadi pembeli terbesar secara year-to-date, jauh melampaui negara-negara lain.
Di posisi berikutnya, Uzbekistan mencatat pembelian bersih 41 ton, disusul China 40 ton, serta Kazakhstan 27 ton.
Negara lain yang turut aktif membeli emas meliputi Republik Ceko, Singapura, Chile, Yordania, dan Ghana.
Pergerakan khusus di Juni 2026
Pada Juni 2026, Polandia kembali menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 19 ton emas.
China menyusul dengan pembelian 15 ton, sementara Uzbekistan membeli 9 ton dan Kazakhstan 7 ton.
Dominasi negara-negara berkembang dalam daftar pembeli emas terbesar mengindikasikan bahwa diversifikasi cadangan devisa tidak lagi sekadar agenda negara dengan ekonomi besar.
Langkah akumulasi oleh berbagai otoritas moneter tersebut juga memperlihatkan bahwa emas masih dipandang bernilai strategis di tengah ketidakpastian yang terus membayangi perputaran ekonomi dunia.
Lonjakan pembelian bank sentral pada kuartal II-2026 memberi sinyal bahwa emas kembali mendapat peran yang lebih penting dalam pengelolaan aset cadangan. Kenaikan yang sangat tajam dari kuartal I—yang bahkan telah direvisi—menjadikan Q2 sebagai titik puncak pembelian untuk periode kuartalan di tahun berjalan.
Meski begitu, pergerakan semester pertama menunjukkan gambaran yang lebih berlapis. Kenaikan besar pada kuartal II tidak langsung menghapus efek pelemahan di kuartal I, ketika penjualan emas dalam jumlah cukup berarti oleh sejumlah negara berdampak pada total enam bulan pertama.
Di sisi lain, perubahan ritme akumulasi yang disebut WGC tercermin pula pada dinamika bulanannya. Pada Juni 2026, Polandia kembali menjadi kontributor utama dengan tambahan 19 ton, disusul China 15 ton, serta Uzbekistan dan Kazakhstan dengan angka tambahan 9 ton dan 7 ton.
Komposisi pembeli yang menonjol dari negara-negara yang tergolong berkembang juga memperkuat pesan bahwa diversifikasi cadangan devisa lewat emas tidak hanya terkonsentrasi pada ekonomi besar. Aktivitas pembelian dari beberapa otoritas moneter—termasuk daftar yang disebut WGC untuk sepanjang 2026—menunjukkan bahwa minat terhadap emas bertahan meskipun arah ritme akumulasinya dapat berubah dari waktu ke waktu.












