Bisnis & Ekonomi

BEI: Dampak Tekanan Jual IHSG Setelah Batas Harga Rp50 Saham Gocap Dicabut Terukur

×

BEI: Dampak Tekanan Jual IHSG Setelah Batas Harga Rp50 Saham Gocap Dicabut Terukur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BEI Antisipasi Tekanan Jual Usai Lepas Gembok Saham Gocap - Market

jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan antisipasi terhadap kemungkinan tekanan jual pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah rencana pembukaan saham berharga “gocap” pada akhir bulan ini. Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menilai potensi dampaknya relatif terbatas berdasarkan simulasi yang telah dilakukan.

Dalam keterangannya di BEI, Jakarta pada Jumat (18/8/2026), Iding menyampaikan bahwa lembaganya telah memodelkan skenario setelah penghapusan batas bawah harga saham sebesar Rp50 per saham. Dari hasil simulasi itu, ia memproyeksikan pergerakan harga tidak akan menimbulkan gangguan yang berlebihan terhadap pasar.

Iding mengatakan, “Kalaupun terjadi penjualan, tekanan harga itu impact -nya sudah kita ukur ke market , tidak terlalu besar, jadi masih manageable ,” kata Iding kepada awak media di BEI. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BEI tidak hanya menunggu kejadian, tetapi juga sudah mengukur dampaknya dalam kalkulasi terhadap kondisi pasar.

Ia menekankan bahwa fokus simulasi berada pada kemungkinan reaksi harga bila ada pelaku yang melakukan penjualan setelah aturan batas bawah dilepas. Dengan pendekatan itu, BEI berupaya memastikan arus jual yang mungkin muncul tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.

Selain menilai dampak pada IHSG secara umum, simulasi BEI juga memperhitungkan kemungkinan tekanan jual pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Iding menyebut bahwa perhatian terhadap GOTO menjadi bagian penting karena pergerakan saham tersebut dinilai berpotensi lebih sensitif terhadap perubahan batas harga.

Pada periode belakangan, transaksi saham GOTO disebut telah ramai terjadi pada level di bawah harga Rp50. Kondisi tersebut, menurut Iding, turut menjadi pertimbangan ketika BEI menyusun proyeksi mengenai apa yang bisa terjadi setelah “lepas gembok” batas bawah harga.

Dengan mempertimbangkan aktivitas transaksi yang sudah terbentuk sebelumnya, BEI mencoba membaca pola tekanan yang mungkin berlanjut atau berubah arah pada saat batas bawah harga resmi tidak lagi menjadi acuan. Simulasi itu, dalam kerangka pemantauan BEI, digunakan untuk menilai besaran dampak yang perlu diwaspadai.

Iding juga menggambarkan bahwa skenario yang disiapkan bukan sekadar asumsi, melainkan sudah diarahkan untuk melihat efek pada dinamika market. Artinya, ukuran yang digunakan berorientasi pada respons pasar secara lebih luas, bukan hanya pada satu titik harga atau satu periode.

Dalam pandangan BEI, pelepasan batas bawah harga Rp50 per saham berpotensi memengaruhi perilaku transaksi, terutama bila ada ekspektasi pelaku pasar terhadap ruang pergerakan setelah aturan berubah. Karena itu, proyeksi tekanan jual dibuat dengan memasukkan faktor reaksi terhadap rencana pembukaan saham gocap yang dijadwalkan pada akhir bulan ini.

Untuk GOTO, Iding menyoroti bahwa transaksi negosiasi yang ramai pada level di bawah Rp50 menjadi indikator yang relevan dalam penilaian sensitivitas harga. BEI memanfaatkan informasi dari aktivitas yang terlihat di pasar sebagai masukan dalam simulasi terkait perubahan rezim batas harga.

Simulasi sebagai dasar antisipasi Langkah BEI yang memasukkan skenario IHSG dan GOTO bertujuan memperjelas batas kewajaran dampak yang mungkin muncul. Melalui simulasi tersebut, BEI berusaha memastikan bahwa jika tekanan jual terjadi, besarnya tetap berada pada kategori “manageable”.

Iding menyampaikan bahwa pihaknya sudah mengukur dampak “ke market” dan menyimpulkan bahwa potensi gangguan tidak terlalu besar. Penegasan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa BEI percaya kondisi likuiditas dan mekanisme pasar mampu menyerap perubahan setelah batas bawah Rp50 dicabut.

Di saat yang sama, BEI tetap memasukkan faktor transaksi yang telah berlangsung, termasuk yang terjadi di saham GOTO belakangan. Dengan demikian, antisipasi BEI bukan hanya berbentuk reaksi, melainkan bertumpu pada perhitungan terhadap perilaku pasar yang sudah terlihat.

Rencana pembukaan saham gocap pada akhir bulan ini karenanya dipandang sebagai peristiwa yang perlu disiapkan dari sisi manajemen risiko harga. BEI menempatkan IHSG sebagai indikator utama, sementara GOTO menjadi salah satu titik pengamatan penting karena pola transaksi di bawah Rp50 yang ramai.

Secara keseluruhan, keterangan Iding Pardi menunjukkan bahwa BEI memandang tekanan jual yang mungkin timbul setelah batas bawah harga Rp50 dilepas berada dalam proyeksi yang relatif terkendali. Simulasi yang mencakup dampak pada IHSG dan kemungkinan pada saham GOTO menjadi dasar bagi penilaian BEI bahwa respons pasar masih dapat dikelola.