jurnalistik.co.id – Saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) kembali menguat tajam pada hari pertama perdagangan setelah masa suspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka kembali. Lonjakan tersebut bahkan mendorong harga saham menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) pada Kamis, 17 September 2026.
BEI sebelumnya menunda perdagangan saham PACK sejak Senin, 31 Agustus 2026. Setelah jeda tersebut berakhir, perdagangan saham kembali normal pada sesi awal bursa hari ini, tepatnya melalui Sesi I Periodic Call Auction.
Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan, saham PACK berakhir di level Rp615 per saham. Angka itu menunjukkan kenaikan 9,82% dibandingkan harga sebelumnya yang tercatat di Rp560 per saham.
Aktivitas perdagangan di hari pembukaan juga memperlihatkan tingginya minat pasar. Sepanjang sesi, sebanyak 504 juta saham diperjualbelikan dengan nilai transaksi mencapai Rp309 miliar.
Pergerakan harga yang cepat membuat tensi order di pasar turut terlihat dari antrean pembelian. Di order book, antrean beli tercatat mencapai 838 ribu lot dan tidak disertai antrean jual pada saat yang sama.
Kondisi tersebut berkontribusi pada melesatnya valuasi perusahaan di pasar. Kapitalisasi pasar saham PACK pada akhir perdagangan hari Kamis tercatat meningkat hingga Rp20,98 triliun.
Di sisi pengaturan bursa, BEI juga mengungkap bahwa pembukaan suspensi dilakukan melalui pengumuman terkait perdagangan hari ini. Dengan dibukanya kembali saham, proses transaksi kembali mengacu pada mekanisme perdagangan yang berlaku pada Sesi I Periodic Call Auction.
Berita Terkait
Sebelum suspensi dibuka, BEI telah menetapkan sejumlah penanda pemantauan terhadap saham PACK. Pada 24 Agustus 2026, saham PACK dimasukkan ke dalam kategori Unusual Market Activity (UMA).
Selain itu, saham PACK juga memperoleh notasi khusus X pada kode saham di papan perdagangan BEI. Notasi tersebut menandakan bahwa saham berada di Papan Pemantauan Khusus, sesuai ketentuan yang berlaku saat penetapan dilakukan.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa sepanjang periode suspensi hingga pembukaan hari ini memperlihatkan perubahan sentimen yang langsung tercermin pada harga. Penguatan sampai menyentuh ARA, kenaikan harian 9,82%, volume 504 juta saham, serta nilai transaksi Rp309 miliar menjadi indikator respons pelaku pasar setelah perdagangan dibuka kembali.
Dengan berakhirnya perdagangan hari Kamis di Rp615 per saham, pergerakan PACK sekaligus menjadi perhatian karena menyisakan antrean beli yang besar dan menonjol. Kapitalisasi pasar yang mencapai Rp20,98 triliun menegaskan bahwa dampak pembukaan suspensi terlihat bukan hanya pada harga, tetapi juga pada nilai yang terukur di bursa.
Lonjakan harga saat perdagangan kembali aktif juga terlihat dari bagaimana transaksi langsung menyerap likuiditas pasar. Setelah penundaan sejak Senin, 31 Agustus 2026 berakhir, pergerakan saham PACK langsung bergerak cepat pada sesi awal bursa melalui Sesi I Periodic Call Auction. Kondisi ini tercermin dari penutupan di Rp615 per saham, yang sekaligus memperlihatkan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi di awal, tetapi bertahan hingga akhir sesi.
Dari sisi kedalaman minat, data perdagangan menunjukkan aktivitas yang padat sekaligus terkonsentrasi pada sisi permintaan. Sebanyak 504 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sekitar Rp309 miliar, sementara pada order book antrean beli tercatat mencapai 838 ribu lot dan tidak diikuti antrean jual pada waktu yang sama. Penguatan yang disertai antisipasi order seperti ini kemudian tercermin pada kapitalisasi pasar yang meningkat hingga Rp20,98 triliun.
Periode penundaan yang berlangsung sejak Senin, 31 Agustus 2026 kemudian berakhir ketika bursa kembali menjalankan perdagangan pada hari ini. Pada tahap awal, mekanisme lelang berkala di Sesi I Periodic Call Auction menjadi titik awal yang langsung memengaruhi respons harga, sebelum hasilnya terlihat pada penutupan sesi di level Rp615 per saham.
Rentang kenaikan yang terjadi sejak pembukaan juga tampak dari indikator transaksi yang terkumpul dalam waktu singkat. Volume yang mencapai 504 juta saham dengan nilai Rp309 miliar menunjukkan bahwa minat pelaku pasar tidak sekadar muncul sesaat, melainkan terkonfirmasi melalui besarnya perpindahan saham. Pola permintaan yang dominan—tercermin dari antrean beli 838 ribu lot—ikut memperjelas bagaimana tekanan beli memberi ruang bagi kenaikan hingga menyentuh ARA sebelum akhirnya menetap pada penutupan.












