jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari ini, Kamis (17/9/2026), dengan sentimen yang mengarah ke zona hijau. Pergerakan indeks ditutup menguat 0,4% dan berada di level 6.462.
Sejak awal sesi, IHSG bergerak dengan volatilitas yang relatif tinggi. Indeks sempat melorot ke level terendah 6.418 sebelum kemudian kembali naik dan mencapai puncaknya di 6.500.
Penguatan indeks pada penutupan sesi II ditopang oleh melesatnya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Di antara yang menjadi penopang, tercatat PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) serta PT Petrosea Tbk (PTRO).
Aktivitas perdagangan pada hari ini juga terlihat ramai. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi jual–beli saham mencapai Rp13,93 triliun, dengan volume 28,54 miliar saham yang berpindah tangan.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,86 juta kali. Kondisi ini menunjukkan adanya keterlibatan pelaku pasar yang cukup aktif sepanjang sesi berjalan.
Dari komposisi pergerakan saham, sebanyak 384 saham mengalami penguatan terbaik. Sementara itu, 244 saham bergerak melemah, dan 164 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Dalam peta pasar Asia, IHSG turut bergerak sejalan dengan mayoritas indeks regional yang juga berakhir di wilayah positif. Di antaranya SETI (Thailand), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), KOSDAQ (Korea Selatan), PSEI (Filipina), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), Straits Times (Singapura), serta NIKKEI 225 (Jepang).
Berita Terkait
Dengan demikian, penutupan yang menguat ini mencerminkan konsistensi arah pasar yang dominan berada pada sentimen positif di level regional. IHSG yang berhasil bertahan dalam zona hijau menjadi penanda bahwa tekanan jual yang sempat muncul di bagian awal sesi tidak bertahan hingga akhir perdagangan.
Ke depan, pergerakan indeks berpotensi tetap menjadi sorotan terutama karena rentang harian yang cukup lebar, yakni dari 6.418 hingga 6.500. Perubahan tersebut sekaligus menegaskan bahwa dinamika perdagangan masih dipengaruhi pergerakan saham-saham penopang, termasuk BMRI dan PTRO.
Lebar pergerakan tersebut juga menggambarkan bahwa investor tidak hanya mengejar kenaikan sesaat, tetapi tetap merespons arus transaksi sepanjang sesi. Setelah sempat melemah pada bagian awal, IHSG akhirnya mampu kembali menguat dan mempertahankan arahnya menuju akhir perdagangan.
Indikasi keaktifan pasar tampak dari besarnya aktivitas di bursa. Nilai transaksi yang mencapai Rp13,93 triliun serta volume perdagangan 28,54 miliar saham mencerminkan perputaran yang besar, sementara frekuensi transaksi sebanyak 1,86 juta kali menunjukkan keterlibatan pelaku pasar yang tersebar dan tidak berhenti hanya pada segmen tertentu.
Dari sisi pergerakan saham, distribusi perubahannya memperlihatkan kecenderungan yang condong ke penguatan. Sebanyak 384 saham mencatat kenaikan, sedangkan 244 saham bergerak turun dan 164 lainnya tidak mengalami perubahan. Komposisi ini membantu menjelaskan mengapa indeks tetap mampu bergerak di jalur positif hingga penutupan.
Secara regional, pergerakan IHSG yang sejalan dengan indeks-indeks Asia turut memperkuat sinyal sentimen positif. Ketika mayoritas pasar tetangga berakhir menguat, tekanan jual yang sempat muncul di awal sesi cenderung melemah pada fase akhir. Dengan rentang harian 6.418 sampai 6.500, fokus berikutnya menjadi bagaimana kekuatan saham-saham penopang, termasuk BMRI dan PTRO, terus menjaga indeks tetap berada dalam area hijau.
Meski sempat turun ke level 6.418, IHSG mampu berbalik arah dan kembali memperlebar penguatan hingga menyentuh titik tertinggi di 6.500. Pergantian dinamika tersebut menggambarkan pasar yang merespons perubahan arah sentimen secara cepat, khususnya ketika arus beli kembali dominan setelah tekanan di awal sesi.
Intensitas perdagangan juga memperlihatkan bahwa pergerakan indeks berjalan bersama aktivitas transaksi yang besar. Nilai transaksi Rp13,93 triliun dengan volume 28,54 miliar saham serta frekuensi 1,86 juta kali menunjukkan keterlibatan pelaku pasar yang luas. Dengan 384 saham menguat dan komposisi yang condong positif, penguatan indeks pada akhirnya ikut ditopang oleh pergerakan emiten penopang seperti BMRI dan PTRO.












