jurnalistik.co.id – Bloomberg Technoz mencatat, pada perdagangan saham Selasa (15/9/2026) IHSG ditutup melemah 1,13% ke level 6.461. Pelemahan terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.
Menurut laporan tersebut, kenaikan yang diperkirakan adalah sebesar 25bps menjadi 4% pada pertemuan The Fed dini hari nanti. Seiring sentimen ini, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham reguler.
Di sesi reguler, investor asing mencatat net sell sebesar Rp354,16 miliar. Sementara itu, jika dihitung untuk seluruh pasar, investor asing membukukan net sell Rp349,28 miliar.
Tekanan jual paling besar tercatat pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dengan net sell mencapai Rp282,92 miliar. Setelah arus jual tersebut, BMRI melemah 2,25% dan berada di level Rp4.340 per saham.
Dalam rincian penjualan bersih terbesar di sepanjang perdagangan kemarin, daftar sepuluh saham dengan net sell paling masif oleh investor asing adalah sebagai berikut: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp282,92 miliar; PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp99,93 miliar; PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp95,84 miliar; PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp48,74 miliar; PT Astra International Tbk (ASII) Rp35,02 miliar; PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp33,49 miliar; PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Rp23,85 miliar; PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) Rp21,88 miliar; PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp21,62 miliar; serta PT Singaraja Putra Tbk (SINI) Rp20,23 miliar.
Di sisi lain, investor asing juga mencatat pembelian bersih (net buy) terbesar pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Nilai net buy ANTM mencapai Rp176,08 miliar, dan saham tersebut menguat 2,51% hingga berada di level Rp3.270 per saham.
Pelaku pasar pun menaruh perhatian pada keputusan suku bunga The Fed yang diproyeksikan naik 25bps menjadi 4%. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa kenaikan ini menjadi yang pertama sejak periode 2023.
Berita Terkait
Laporan Bloomberg Technoz ini ditulis oleh Muhammad Julian Fadli pada 16 September 2026 pukul 09:55.
Dari sisi sentimen, pelemahan indeks yang mencapai 1,13% mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter AS. Proyeksi kenaikan suku bunga tersebut dipandang sebagai pemicu pergeseran posisi, terutama pada aset yang sensitif terhadap perubahan imbal hasil global.
Dalam konteks arus modal, pelaporan net sell investor asing menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada satu sektor. Penjualan bersih di pasar reguler sebesar Rp354,16 miliar mengindikasikan kecenderungan pembalikan posisi, sementara total net sell untuk seluruh pasar masih berada di kisaran Rp349,28 miliar.
BMRI menjadi salah satu emiten yang paling terdampak dari aksi jual tersebut, dengan nilai net sell Rp282,92 miliar. Setelah arus jual berlangsung, saham Bank Mandiri tercatat melemah 2,25% ke level Rp4.340 per saham, selaras dengan dominasi penjualan pada daftar saham dengan net sell terbesar.
Sementara itu, di tengah net sell yang lebih dominan, terdapat pengecualian pada saham ANTM. Investor asing justru mencatat net buy Rp176,08 miliar pada Aneka Tambang, dan pergerakan harga ikut menguat 2,51% hingga berada di level Rp3.270 per saham. Perbedaan respons harga ini turut memperlihatkan bahwa pelaku pasar tetap melakukan seleksi posisi menjelang keputusan The Fed.
Perbedaan antara tekanan jual yang lebih luas dan respons yang tidak seragam pada tiap saham juga terlihat dari komposisi angka transaksi. Sementara dana asing tercatat melakukan net sell di pasar reguler sebesar Rp354,16 miliar, pergerakan harga tidak bergerak seragam karena masih ada emiten yang justru mengalami arus masuk bersih.
Jika dilihat dari daftar sepuluh saham dengan net sell paling masif, saham-saham perbankan menjadi kelompok yang paling menonjol dalam arus penjualan. Pada sisi lain, aksi net buy pada ANTM menjadi pengecualian penting yang memperlihatkan bahwa investor asing tetap menyeleksi posisi, bukan sepenuhnya menarik diri menjelang keputusan kebijakan The Fed.
Dengan IHSG yang melemah 1,13% dan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25bps menjadi 4% yang diperkirakan terjadi pada pertemuan dini hari nanti, kehati-hatian pasar tampak tercermin pada pilihan waktu transaksi. Pelaku pasar menunggu arah kebijakan, sehingga strategi penempatan modal berubah lebih cepat, tercermin dari besarnya net sell dan adanya pola pembalikan yang hanya terjadi pada saham tertentu.












