Internasional

Citra Satelit: Kerusakan besar menutup pipa minyak vital di Arab Saudi

×

Citra Satelit: Kerusakan besar menutup pipa minyak vital di Arab Saudi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saudi Arabia: Satellite image reveals major damage that shut crucial oil pipeline

jurnalistik.co.id – Citra satelit menunjukkan adanya kerusakan besar pada sebuah pipa minyak penting di Arab Saudi, yang memaksa penutupan jalur ekspor dan memicu kekhawatiran terhadap pemulihan pasokan dalam waktu panjang. Perusahaan analisis dan pengamat energi menilai dampaknya bisa langsung terasa pada volume minyak yang tersedia di pasar.

Gambar satelit yang ditunjukkan BBC Verify memperlihatkan kerusakan paling signifikan berada di sebuah stasiun pemompaan di sepanjang East-West Pipeline. Pipa ini kian diandalkan Arab Saudi untuk mengirim minyak mentah ke luar negeri melalui Laut Merah, alih-alih melewati Selat Hormuz yang belakangan lebih sering menjadi target serangan di tengah eskalasi konflik regional.

Arab Saudi telah menuduh milisi yang didukung Iran di Irak berada di balik serangan ke pipa tersebut. BBC Verify menyebut penyerangan itu terjadi setelah beberapa hari serangan roket dan drone yang kembali meningkat terhadap wilayah Arab Saudi bagian barat daya, yang dilakukan kelompok Houthi di Yaman.

Kedua pihak saling menanggapi dengan pola serangan balasan. Arab Saudi melaporkan melakukan serangan terhadap wilayah di Yaman barat yang dikuasai Houthi sebagai respons atas rangkaian serangan yang menargetkan negaranya.

Dalam periode yang sama, citra satelit terbaru juga menampilkan kerusakan di King Khalid Air Base milik Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi mengatakan pada Selasa bahwa mereka akan merespons serangan Houthi dengan tegas, sejalan dengan meningkatnya kampanye kelompok tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Houthi, yang telah memerangi perang saudara berkepanjangan melawan kekuatan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi, menurut laporan tersebut memperbesar tekanannya di wilayah baru. Kelompok ini dilaporkan merebut kendali atas area penting di sepanjang pesisir barat daya Yaman pekan lalu, termasuk kawasan yang berada di dekat jalur Bab al-Mandab.

Penguasaan di sekitar Bab al-Mandab dinilai memperkuat kemampuan Houthi untuk menjalankan blokade yang mereka nyatakan terhadap pelayaran menuju dan dari Arab Saudi. Kondisi itu, menurut konteks yang sama dalam laporan, memperlihatkan bagaimana rute pengiriman minyak bisa menjadi lebih rentan saat ketegangan meningkat.

Penutupan pipa pada Jumat lalu juga berdampak pada harga minyak. Arab Saudi menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan, dan sejak pengumuman itu harga minyak bergejolak naik.

Pada Selasa, Brent crude diperdagangkan hingga sekitar $108 (£80) per barel. Angka itu turun sedikit dibanding harga pada Senin yang mencapai $109.80 per barel.

Para analis dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler menyampaikan bahwa penutupan pipa dapat memangkas pasokan minyak hingga 3,6 juta barel per hari. Mereka juga menyebut angka tersebut setara kira-kira 3,6% dari permintaan global.

Homayoun Falakshahi, kepala analisis minyak mentah di Kpler, mengaitkan perkiraan pemulihan dengan kondisi teknis dan ketersediaan komponen cadangan. Ia mengatakan, “Based on new information we’ve received, damage to the pipeline could take four to six weeks to resolve, given spare-parts availability and impaired supply chains,”

Anne-Sophie Corbeau dari Center on Global Energy Policy di Columbia University menilai kerentanan infrastruktur energi terhadap serangan menjadi pelajaran penting dari rangkaian peristiwa ini. Corbeau menyatakan, “pipelines are “like sitting ducks” and recent strikes are a “very important signal” indicating workarounds being used to avoid the Strait of Hormuz “may not be super useful because they can be destroyed”.

Selain merusak jalur utama, laporan juga menyinggung bahwa Houthi telah menargetkan fasilitas infrastruktur minyak Arab Saudi menggunakan drone dan rudal. Serangan-serangan tersebut disebut telah membuat beberapa operasi berhenti atau terganggu, menambah risiko pada stabilitas distribusi energi selama masa perbaikan.

Pada sisi lain, konflik juga berdampak ke pangkalan militer. Citra satelit yang diambil pada Senin menunjukkan kerusakan di King Khalid Air Base dekat Khamis Mushait.

Kelompok Houthi menyebut mereka menargetkan pangkalan itu dengan rudal balistik dan drone pekan lalu. Klaim tersebut muncul setelah pangkalan disebut digunakan untuk melancarkan serangan udara terhadap Yaman.

Di fasilitas Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi, minimal tiga hangar atau tempat penampungan pesawat terlihat mengalami kerusakan. BBC Verify menyebut area itu menjadi lokasi pangkalan F-15 buatan Amerika Serikat.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang menentang Houthi menyampaikan pada Selasa bahwa serangan Houthi menggunakan rudal dan drone telah melukai 13 orang. Koalisi tersebut menyebut serangan terjadi terhadap sasaran sipil yang mereka identifikasi sebagai “civilian objects”.

Houthi sendiri menyatakan Arab Saudi melakukan lebih dari 50 serangan di wilayah Yaman barat dalam kurun 24 jam sebelumnya. Di tengah eskalasi ini, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyampaikan bahwa lebih dari 100.000 orang telah mengungsi secara internal akibat konflik yang kembali memanas.

Dengan kerusakan pada pipa dan hambatan perbaikan yang diperkirakan berlangsung beberapa minggu, efeknya tidak hanya menyentuh rute ekspor, tetapi juga menambah tekanan pada rantai pasok energi. Sementara proses pemulihan berjalan, harga dan pasokan minyak tetap menjadi sorotan karena jalur alternatif yang sebelumnya diandalkan menghadapi risiko yang sama.