jurnalistik.co.id – Pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan mendapat ruang penguatan pada perdagangan Jumat (4/9/2026), menyusul proyeksi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang masih lesu.
Namun, laju penguatan tersebut juga berpotensi tertahan seiring harga minyak yang kembali bergerak naik dan menyentuh level tertinggi sejak Juli.
Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah bergerak dengan kecenderungan defensif. Berdasarkan data perubahan yang tercatat, rupiah hanya bergeser terbatas 0,09% ke level Rp17.670/US$.
Pada saat yang sama, harga minyak masih berada di kisaran US$95,78/barel, sebuah angka yang ikut memberi tekanan terhadap dinamika mata uang regional.
Penguatan yang sempat menguat di awal perdagangan juga tidak sepenuhnya berlanjut tanpa gangguan. Harga minyak diketahui mengalami kenaikan mingguan terbesar sejak Juli, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasokan energi yang membesar itu sempat memangkas penguatan sebagian mata uang Asia. Dengan latar tersebut, pergerakan mata uang menjadi lebih berimbang antara dorongan dari prospek data AS dan ketidakpastian dari komoditas energi.
Pergerakan mata uang Asia setelah pasar dibuka
Sejak pasar dibuka pada pukul 07.20 WIB, ringgit Malaysia memimpin kenaikan dengan pertumbuhan 0,16%. Dolar Singapura ikut menguat, meski pergerakannya lebih terbatas di level 0,04%.
Berita Terkait
Di sisi lain, mata uang lain menunjukkan arah yang tidak seragam. Yuan offshore dan mata uang China tercatat melemah masing-masing 0,01% pada periode yang sama.
Yen Jepang bahkan berbalik arah dan mencatat penurunan sebesar 0,06%. Kombinasi pergerakan tersebut menegaskan bahwa pasar regional masih merespons berbagai pemicu secara simultan.
Secara keseluruhan, prospek data ketenagakerjaan AS yang masih lesu menjadi salah satu pendorong utama ekspektasi penguatan rupiah pada perdagangan Jumat. Akan tetapi, dorongan dari sentimen tersebut terlihat dibayangi oleh pergerakan harga minyak yang tinggi, termasuk faktor kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Dengan kondisi itu, pelaku pasar kemungkinan akan terus memantau perkembangan komponen yang memengaruhi aset berisiko dan komoditas energi. Di saat yang sama, respons NDF rupiah yang bergerak defensif menjadi sinyal bahwa ruang apresiasi rupiah masih perlu diuji pada sesi berjalan.
Untuk perdagangan Jumat (4/9/2026), perbedaan arah beberapa mata uang Asia—mulai dari ringgit yang menguat, dolar Singapura yang naik tipis, hingga yuan dan yen yang melemah—menggambarkan pasar yang tetap selektif. Dalam konteks tersebut, penguatan rupiah tetap mungkin terjadi, tetapi laju kenaikannya berpeluang tidak sepenuhnya mulus.
Dalam konteks tersebut, kenaikan rupiah di awal perdagangan pada dasarnya berjalan bersama respons pasar terhadap prospek data ekonomi AS yang belum terlalu kuat. Namun, ketika harga minyak tetap tinggi dan mencetak level yang tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak lebih agresif, sentimen yang mendukung mata uang regional cenderung kehilangan momentum.
Gambaran tersebut terlihat dari respons di pasar NDF yang cenderung defensif. Perubahan rupiah yang relatif terbatas—hanya bergeser sekitar 0,09% menuju kisaran Rp17.670/US$—mengisyaratkan bahwa pelaku pasar masih menahan ekspektasi apresiasi, sehingga arah penguatan rupiah perlu diuji lebih lanjut seiring dinamika komoditas energi.
Setelah pasar dibuka pada pukul 07.20 WIB, perbedaan arah juga makin jelas di beberapa mata uang Asia. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan kenaikan 0,16%, sementara dolar Singapura bergerak lebih tipis di 0,04%. Sebaliknya, yuan offshore dan mata uang China melemah 0,01%, sedangkan yen Jepang turun 0,06%, sehingga pergerakan regional tidak bergerak satu arah, melainkan merespons pemicu secara bersamaan.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pasar tampak memilih pendekatan yang hati-hati. Dorongan dari ekspektasi data ketenagakerjaan AS yang lesu memang memberi ruang untuk penguatan rupiah, tetapi ketidakpastian dari harga minyak—termasuk kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz—menahan laju kenaikan. Karena itu, untuk perdagangan Jumat (4/9/2026), penguatan rupiah tetap mungkin terjadi, namun biasanya membutuhkan konfirmasi lanjutan pada sesi berjalan.












