Bisnis & Ekonomi

Rupiah Menguat hingga Rp17.660 per US$, Bursa Menyusul Penguatan Mata Uang Asia

×

Rupiah Menguat hingga Rp17.660 per US$, Bursa Menyusul Penguatan Mata Uang Asia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.660/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah ditutup lebih kuat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah pelaku pasar merespons meredanya tekanan di pasar global. Pada penutupan, rupiah menguat 0,57% menjadi Rp17.660 per US$.

Penguatan tersebut sejalan dengan perubahan harga minyak. Brent tercatat turun 0,19% ke level US$95,45 per barel, memberi ruang bagi sentimen yang sebelumnya cenderung terbebani.

Di sisi global, suasana pasar membaik setelah muncul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) yang menyebut serangan AS dan Iran ā€œtak berlangsung lamaā€. Kalimat itu membuat kekhawatiran investor mereda dan mendorong mata uang kawasan bergerak lebih solid.

Dampaknya tampak pada pergerakan sejumlah valuta Asia. Yen Jepang menguat paling tajam hingga 1,3%, kemudian disusul baht Thailand, rupiah, rupee India, dolar Singapura, won Korea Selatan, serta peso Filipina yang juga menguat.

Namun tidak semua mata uang bergerak searah. Dolar Taiwan dan yuan offshore justru melemah terbatas, menandakan bahwa respons pasar tidak sepenuhnya homogen di seluruh kawasan.

Di dalam negeri, sentimen yang menopang rupiah datang dari sektor pasar surat utang. Tenaga beli dinilai cenderung terbatas, tetapi tetap cukup untuk mengarahkan pergerakan imbal hasil sejalan dengan arah pasar hari itu.

Perubahan yang paling terasa terjadi pada tenor menengah. Yield tenor 5 tahun menyusut paling dalam, turun 9,7 basis poin (bps) ke level 7%, sementara tenor 1 tahun dan 2 tahun ikut turun masing-masing 7,4 bps dan 7,3 bps ke 6,9% serta 6,75%.

Sebaliknya, pada tenor lebih panjang, pola pergerakannya tidak sepenuhnya turun. Yield tenor 10 tahun justru terkerek 9,6 bps ke 7,14%, dan tenor 11 tahun naik 11,5 bps ke 7,18%, menunjukkan adanya perbedaan preferensi risiko di sepanjang kurva.

Secara keseluruhan, kombinasi meredanya harga Brent serta meredanya kekhawatiran pasar global membentuk dorongan awal bagi rupiah. Kendati dukungan domestik dari pasar obligasi terlihat, respons tersebut tetap disertai kehati-hatian, tercermin dari pola yield yang campuran antara tenor pendek dan menengah yang turun, serta tenor panjang yang bergerak naik.

Dengan kondisi itu, fokus pelaku pasar berikutnya kemungkinan bergeser pada arah sentimen global dan kelanjutan penyesuaian harga aset, termasuk minyak dan ekspektasi risiko kawasan. Pergerakan lintas mata uang yang cenderung menguat, kecuali dolar Taiwan dan yuan offshore, menjadi indikator bahwa pasar masih memberi ruang pemulihan bertahap pada hari-hari setelah kabar dari AS.

Pergerakan kurs yang menguat pada akhir sesi juga terlihat dari cara pelaku pasar menyeimbangkan faktor eksternal dan domestik. Setelah tekanan global mereda, arus transaksi di pasar valuta menjadi lebih berani, namun eskalasi risiko tetap diwaspadai. Itu sebabnya penguatan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak seiring membaiknya nada pasar kawasan.

Di pasar obligasi, gambaran kehati-hatian terlihat dari komposisi perubahan yield. Penurunan yang lebih dalam pada tenor menengah memperlihatkan bahwa ekspektasi harga aset pada segmen tersebut sedang disesuaikan mengikuti arah hariannya. Sementara itu, penurunan pada tenor pendek masih terjadi, tetapi intensitasnya tidak seragam, sehingga sinyal pasar tergambar sebagai proses penyesuaian bertahap, bukan respons yang sepenuhnya satu arah.

Pada kurva yang lebih panjang, kenaikan yield pada 10 tahun dan 11 tahun menegaskan adanya pertimbangan risiko yang berbeda antar segmen waktu. Pola campuran ini sejalan dengan konteks sebelumnya: Brent yang melemah dan kekhawatiran global yang mereda memberi ruang pemulihan, tetapi respons domestik tetap dibaca melalui batasan tenaga beli dan dinamika preferensi risiko. Karena itu, arah berikutnya diperkirakan tetap bergantung pada perkembangan sentimen global dan kelanjutan penyesuaian harga berbagai aset, termasuk minyak.