jurnalistik.co.id – PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) tidak hanya menghasilkan LNG, tetapi juga mengolah kondensat di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Di fasilitas tersebut, Plant Deputy General Manager DSLNG Sugianto Darsani menyebut produksi kondensat harian mencapai 2.200 barel.
“Produksi kondensat kita satu hari itu 2.200 barel. Dibeli sama pembelinya sekarang PT Titis Sampurna, suplai ke PT Chandra Asri,” ucap Sugianto saat ditemui di Kabupaten Banggai, Senin (17/8/2026).
Sugianto menjelaskan, kondensat yang dihasilkan tergolong light condensate atau kondensat ringan.
Menurutnya, karakter kimia kondensat tersebut membuatnya tidak bisa langsung diarahkan menjadi bahan bakar minyak seperti Pertalite atau Pertamax.
“Jadi, dia itu isinya hanya C5, kebanyakan. Sedangkan untuk bensin itu kan C6 sampai C8, kemudian C9 ke sana itu diesel. Nah, kita ini tidak bisa dicampurkan dijadikan bensin, tetap tidak bisa,” sambung dia.
Ia menekankan perbedaan rantai hidrokarbon sebagai faktor utama yang menentukan kesesuaian bahan.
Kondensat DSLNG, kata Sugianto, didominasi hidrokarbon dengan lima atom karbon (C5).
Sementara itu, bahan bakar bensin membutuhkan rentang rantai yang lebih panjang, sehingga komposisi C5 tidak memenuhi kebutuhan proses pencampuran maupun pengolahan untuk menjadi bensin.
Dalam penjelasannya, Sugianto juga mengaitkan batas komposisi dengan kebutuhan jenis bahan bakar lain.
“Jadi, dia itu isinya hanya C5, kebanyakan,” katanya lagi, sebelum merinci bahwa C6 hingga C8 terkait bensin, sedangkan C9 cenderung masuk ke kategori diesel.
Dengan komposisi tersebut, pihak DSLNG menilai kondensat lebih cocok diproses melalui fasilitas pemecah (cracker) kimia tertentu.
Sugianto menyebut penggunaan cracker ethylene propylene sebagai jalur pengolahan yang relevan untuk kondensat.
“Yang bisa mengolah kondensat hanya cracker ethylene propylene ,” kata Sugianto.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keluaran dari pengolahan dengan jalur tersebut bukan produk BBM secara langsung.
Berita Terkait
Hasil yang ditargetkan adalah etilen atau propilen, yang termasuk produk petrokimia, bukan bahan bakar seperti bensin atau diesel.
Meski demikian, Sugianto menegaskan bahwa kondensat tetap memiliki potensi untuk diolah menjadi produk energi apabila ada teknologi tambahan yang mendukung.
Teknologi yang dimaksudnya adalah Gas to Liquid (GTL), yaitu pendekatan yang mengubah gas alam menjadi produk hidrokarbon cair.
“Gas to Liquid, GTL. Teknologi tersebut mengubah gas alam menjadi produk hidrokarbon cair. Produk akhirnya dapat berupa bahan bakar seperti bensin, diesel, hingga bahan bakar pesawat,” jelasnya.
Ia mencontohkan penerapan teknologi serupa yang sudah berjalan di Qatar.
Menurut Sugianto, di sana terdapat dua skema GTL yang dioperasikan dengan rujukan nama perusahaan.
“Itu ada di Qatar itu punya dua, Shell GTL sama Oryx GTL. Gas ini bisa diliquidkan, dijadikan kerojet, patrol itu bensin (gasoline), kerojet, diesel, bisa dia. Di Qatar sudah ada,” ungkap Sugianto.
Ia menilai Indonesia juga dapat mengembangkan teknologi yang sejenis, namun memerlukan investasi yang tidak kecil.
Sugianto menggambarkan bahwa besarnya kebutuhan modal menjadi salah satu tantangan utama, mengingat proses GTL membutuhkan fasilitas dan integrasi sistem yang kompleks.
Meski demikian, ia menilai proyek tersebut tetap menarik bila pemerintah mendorong pengembangan pengolahan gas menjadi produk bernilai tambah.
“Kalau pemerintah mau investasi, kita bisa. Harganya memang mahal, tapi saya yakin akan terbayarkan, karena negara yang sudah menerapkan teknologi itu profitnya tinggi,” ujar Sugianto.
Dengan kerangka tersebut, alasan kondensat DSLNG yang tidak dapat diolah langsung menjadi Pertalite atau Pertamax dipandang bersumber dari kesesuaian komposisi kimia.
Di sisi lain, kemungkinan pengembangan lebih lanjut dinilai bergantung pada ketersediaan teknologi tambahan, khususnya pendekatan GTL yang mengarah pada transformasi gas menjadi bahan bakar cair.
Penjelasan ini memberi gambaran bahwa rantai proses dari bahan baku menuju produk BBM tidak hanya dipengaruhi volume produksi, tetapi juga ditentukan oleh parameter komposisi dan kelayakan fasilitas pengolahan.
Dengan demikian, kondensat yang dihasilkan DSLNG dapat tetap memberi manfaat pada ekosistem industri melalui jalur petrokimia, sementara perluasan ke produk bahan bakar membutuhkan langkah teknologi dan investasi yang lebih besar.












