Bisnis & Ekonomi

EIA: Arus Minyak Selat Malaka Anjlok, Apa Implikasinya bagi Indonesia?

×

EIA: Arus Minyak Selat Malaka Anjlok, Apa Implikasinya bagi Indonesia?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Arus Minyak di Selat Malaka Turun Tajam, Apa Dampaknya ke Indonesia?

jurnalistik.co.id – Kelancaran jalur distribusi energi menjadi penentu ketahanan energi, bukan hanya ketersediaan minyak di dalam negeri. Laporan US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bagaimana gangguan geopolitik serta perubahan pola pelayaran minyak dunia ikut mengubah arus di titik-titik strategis.

Salah satu koridor yang paling relevan bagi Indonesia adalah Selat Malaka. Dalam rilis Short-Term Energy Outlook yang diterbitkan pada 11 Agustus 2026, EIA mencatat volume minyak yang melewati Selat Malaka turun menjadi rata-rata 16,6 juta barrel per hari (bph) pada kuartal II 2026.

Angka tersebut turun cukup tajam jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal I 2026, arus minyak melalui Selat Malaka tercatat 21,3 juta bph, sedangkan pada kuartal IV 2025 mencapai 24,9 juta bph.

Selat Malaka memang termasuk jalur pelayaran energi paling penting di dunia. EIA menyebut total arus di selat itu mencakup minyak mentah dan kondensat serta produk minyak, sehingga penurunan yang terlihat merefleksikan perubahan pada beberapa komponen pasokan.

Pada kuartal II 2026, arus minyak mentah dan kondensat melalui Selat Malaka tercatat 11,4 juta bph. Nilai ini lebih rendah dibandingkan kuartal I yang berada di 14,9 juta bph.

Sementara itu, arus produk minyak juga menurun. Dari 6,4 juta bph pada kuartal I 2026, angka tersebut turun menjadi 5,2 juta bph pada kuartal II 2026.

Perubahan arus tidak berhenti pada minyak saja. EIA juga mencatat arus liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Malaka turun dari 8,3 miliar kaki kubik per hari pada kuartal I 2026 menjadi 5,5 miliar kaki kubik per hari pada kuartal II 2026.

Penurunan di Selat Malaka terjadi ketika tekanan pada jalur lain membuat pola perdagangan energi ikut bergeser. EIA memperlihatkan gambaran serupa pada Selat Hormuz yang juga mengalami kemerosotan arus energi pada periode yang sama.

Pada kuartal II 2026, arus minyak melalui Selat Hormuz anjlok menjadi hanya 4,9 juta bph. Padahal, pada kuartal I 2026 volumenya masih mencapai 14,9 juta bph.

Jika dibandingkan kuartal IV 2025, penurunan itu terlihat makin besar. Pada kuartal IV 2025, arus minyak melalui Selat Hormuz tercatat 21,6 juta bph, sehingga volume pada kuartal II 2026 turun sekitar 77 persen.

Komponen energi di Selat Hormuz ikut turun

Penurunan tersebut tampak pada komponen minyak mentah dan kondensat. EIA mencatat arus komoditas tersebut melalui Selat Hormuz turun dari 10,9 juta bph pada kuartal I menjadi 3,7 juta bph pada kuartal II 2026.

Produk minyak juga melemah. Arus produk minyak di Selat Hormuz turun dari 4 juta bph menjadi 1,1 juta bph.

Tak hanya minyak, LNG juga ikut menunjukkan penurunan. Arus LNG melalui Selat Hormuz turun dari 7,4 miliar kaki kubik per hari pada kuartal I menjadi 0,8 miliar kaki kubik per hari pada kuartal II 2026.

Gambaran ini menunjukkan bagaimana gangguan pada satu jalur pelayaran strategis dapat memengaruhi pola perdagangan energi global. Ketika tekanan terjadi di koridor tertentu, rute alternatif menjadi semakin penting untuk menjaga arus distribusi.

EIA menyebut salah satu kawasan alternatif yang mengemuka adalah sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Dengan adanya tekanan pada jalur seperti Selat Hormuz, pemilihan rute lain ikut berperan dalam membentuk ulang arus energi.

Bagi Indonesia, implikasi utamanya terletak pada perubahan ritme arus energi yang melintasi jalur yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas. Turunnya arus minyak melalui Selat Malaka—baik pada komponen minyak mentah dan kondensat maupun produk minyak—serta penurunan LNG, dapat menjadi sinyal bahwa dinamika pelayaran global sedang mengalami penyesuaian.