jurnalistik.co.id – Pengadilan Banding Victoria mendengar bahwa vonis terhadap Erin Patterson berpotensi melemah karena dugaan kekeliruan layanan hotel yang disebut pengacara sebagai situasi “catastrophic”. Dalam sidang yang berlangsung Rabu di Melbourne, para juri dinilai tinggal di tempat yang sama dengan pihak penuntut dan sejumlah pihak terkait selama proses deliberasi.
Patterson saat ini menjalani hukuman seumur hidup setelah membunuh tiga anggota keluarganya serta berupaya membunuh seorang kerabat lain dengan cara menyajikan beef Wellington berisi death cap mushrooms di rumahnya di Victoria pada 2023.
Sidang banding juga menjadi forum bagi perubahan atas aspek lamanya masa pembebasan bersyarat. Di kesempatan yang sama, Director of Public Prosecutions Victoria mengajukan banding atas pidana Patterson, dengan alasan periode parole 33 tahun dinilai tidak memadai.
Dalam perkara ini, korban yang disebut adalah Don dan Gail Patterson yang masing-masing berusia 70 tahun, serta Heather Wilkinson yang merupakan saudara perempuan Gail, berusia 66 tahun. Patterson sendiri berusia 51 tahun.
Patterson tidak hadir secara langsung di Court of Appeal Melbourne dan memilih mengikuti persidangan melalui tautan video dari penjara. Tidak hadir pula Simon Patterson, suami Patterson yang sudah terpisah, yang sedianya direncanakan menghadiri makan siang terkait kasus tersebut namun membatalkan pada menit-menit terakhir.
Menurut laporan di persidangan, Simon Patterson membatalkan karena ia percaya bahwa istrinya telah berusaha meracun dirinya selama bertahun-tahun. Adapun Ian, suami Heather Wilkinson, adalah satu-satunya tamu yang masih hidup dan hadir di pengadilan.
Fokus pembahasan pada Rabu itu salah satunya adalah bagaimana para juri ditempatkan. Majelis banding mendengar bahwa saat para juri sedang mempertimbangkan putusan, mereka menginap di hotel yang sama dengan anggota tim penuntut, seorang saksi polisi yang menjadi kunci perkara, serta jurnalis.
Pengacara Patterson, Richard Edney, menyatakan kondisi tersebut “catastrophic” dan mengaku bahwa situasi itu “undermined the integrity of the verdicts and requires the quashing of the convictions”. Ia menilai proses ulang diperlukan agar “so that justice can not only be done but be seen to be done”.
Brendan Kissane selaku Director of Public Prosecutions mengakui kejadian itu disayangkan. Ia menyebutnya “happened, as far as we can tell… by accident”.
Namun, Kissane menekankan ukuran persoalan bergantung pada ada atau tidaknya komunikasi yang melintasi batas antara juri dan pihak lain. Menurutnya, inti pertanyaannya ialah apakah terjadi komunikasi antara juri dan siapa pun yang lain, dan bila pengadilan menerima bahwa tidak ada komunikasi, maka tidak ada pelanggaran yang bersifat fundamental.
Ia menjelaskan, “The issue is whether there was communication between this jury and any other person,” lalu menambahkan bahwa “The evidence as it stands points towards there being no communication.” Dalam pandangan penuntut, setelah pengadilan menerima tidak adanya komunikasi, maka hal itu tidak sampai menjadi kekeliruan mendasar yang merembes ke akar persidangan.
Di jalur argumentasi lain, pengacara Patterson menilai sebagian teori penuntutan tidak seharusnya disampaikan kepada juri. Mereka juga menyatakan bukti penting bagi kubu mereka justru “wrongfully excluded”.
Berita Terkait
Selama persidangan pertama, penuntut menyampaikan dugaan bahwa Patterson mencari death caps setelah dua kali terlihatnya jamur tersebut di sekitar kampung halamannya, yang dilaporkan lewat situs citizen scientist iNaturalist. Juri pada saat itu mendengar bahwa telepon Patterson sempat tersambung ke menara sel di dua area yang dimaksud.
Dalam sidang banding, Veronika Drago mengkritik pendekatan penuntut dengan menyebutnya “turning nothing into something”. Drago menilai bukti ponsel hanya “possibly” menunjukkan lokasi Patterson, sementara tidak ada bukti bahwa Patterson pernah mengakses atau melihat unggahan-unggahan di iNaturalist.
Ia menyatakan, “Speculation was invited by the prosecution,” dan menilai nilai bukti tersebut “was outweighed by its unfair prejudice”.
Jaksa penuntut, Jeremy McWilliams, membela penggunaan keterangan ahli menara ponsel. Ia berargumen bahwa juri dapat memakai bukti tersebut untuk menilai apakah Patterson memiliki kesempatan untuk memperoleh death cap mushrooms sesuai dengan skenario yang didalilkan penuntut.
Banding juga mempersoalkan rangkaian lain, termasuk pesan Facebook yang dikirim Patterson beberapa bulan sebelum makan siang. Tim Patterson mengatakan pesan-pesan itu dinilai tidak relevan sehingga tidak seharusnya boleh masuk ke pembuktian.
Lebih lanjut, tim pembela menuturkan bahwa jaksa utama Dr Nanette Rogers, pada saat pemeriksaan silang, bersikap “protracted and aggressive” yang disertai “impermissible conduct”. Mereka juga menyebut pidato penutup penuntut pada persidangan tahun lalu “problematic” karena diduga mengidentifikasi 35 keluhan.
Ketika ditanya oleh hakim banding Justice Peter Kidd mengapa isu-isu tersebut tidak langsung ditangani pada persidangan sebelumnya, Edney menjawab bahwa tim pembela berada di bawah tekanan saat itu, sehingga tambahan masalah baru ditemukan setelah persidangan selesai: “the dust [had] settled from the trial”.
Dalam dokumen yang diajukan sebelum sidang banding, kubu penuntut menyatakan bahwa vonis bersalah “guilty verdicts were inescapable”. Mereka menggabungkan beberapa elemen keadaan, mulai dari undangan makan siang, penyajian makanan pihak pemohon di piring yang berbeda, hingga perbedaan hasil medis antara pihak yang menjadi korban dengan tamu lainnya.
Penuntut menilai gabungan faktor-faktor itu, bersama “extensive array of incriminating conduct”, menunjuk secara kuat pada adanya tindakan meracuni secara sengaja: “pointed overwhelmingly to a deliberate act of poisoning”.
Menurut rencana, penuntut akan melanjutkan perdebatan pada Kamis, sekaligus tetap mengajukan banding atas aspek hukuman Patterson. Dalam perkara ini, Patterson dapat mengajukan parole setelah 33 tahun.
Namun Director of Public Prosecutions menyatakan periode tersebut “manifestly inadequate” dan menilai “inappropriate” bagi hakim untuk menetapkan periode parole tertentu. Majelis banding yang terdiri dari tiga hakim diperkirakan menunda keputusan, sehingga kabar resmi bisa baru diketahui dalam hitungan minggu.
Dengan demikian, sidang Rabu memperlihatkan dua poros keberatan yang bergerak sejajar: pertama, kemungkinan gangguan integritas putusan akibat kekeliruan akomodasi hotel selama deliberasi, dan kedua, sengketa atas cara penuntut membangun bukti serta relevansi sejumlah keterangan yang dipertentangkan dalam banding.












