Bisnis & Ekonomi

Isyarat Pembicaraan Selat Hormuz Menahan Koreksi Wall Street

×

Isyarat Pembicaraan Selat Hormuz Menahan Koreksi Wall Street

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kabar Negosiasi Selat Hormuz Redam Anjloknya Wall Street - Market

jurnalistik.co.id – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan Kamis (24/9) dengan pergerakan yang cenderung datar setelah sempat terpuruk di awal sesi yang berlangsung lebih bergejolak dari biasanya. Perhatian investor bergeser bolak-balik antara kekhawatiran kenaikan imbal hasil Treasury dan kabar kemungkinan pembicaraan AS-Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.

Menurut laporan yang beredar, indeks S&P 500 berakhir datar setelah pada pagi harinya sempat mengalami penurunan tajam. Sementara itu, Nasdaq 100 yang banyak ditopang saham-saham teknologi ikut memangkas kerugian awal dan berakhir pada level yang sama seperti posisi penutupan sebelumnya.

Dow Jones Industrial Average justru mencatat pelemahan sebesar 0,3% pada akhir perdagangan Kamis. Meski demikian, penurunan tersebut tidak cukup besar untuk mengubah gambaran umum sesi yang ditutup cenderung stabil dibanding dinamika yang terjadi sebelumnya.

Di awal sesi, investor terlihat lebih sensitif terhadap sinyal dari pasar obligasi. Kekhawatiran terhadap kenaikan imbal hasil Treasury AS serta kekhawatiran inflasi disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong tekanan jual dan membuat perdagangan sempat berlangsung “tersendat-sendat”.

Perubahan sentimen mulai muncul setelah Reuters menyinggung adanya pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Kabar tersebut sempat memicu penurunan harga minyak dari level tertingginya, sehingga meredakan sebagian ketidakpastian yang sempat membebani pasar.

Dalam konteks itu, Jonathan Krinsky, kepala teknisi pasar di BTIG LLC, menggambarkan suasana pasar yang sama-sama dipengaruhi pandangan berlawanan. “Frustrasi dari pihak bullish maupun bearish sama-sama terasa jelas karena kami terus bermain dengan berita utama yang berubah-ubah,” kata Jonathan Krinsky.

Krinsky menyoroti bahwa pergerakan harga pada sesi tersebut tidak benar-benar mengikuti satu arah yang solid, melainkan lebih sering merespons informasi yang silih berganti. Kondisi semacam itu membuat pelaku pasar sulit mempertahankan keyakinan pada satu skenario dalam waktu yang panjang.

Senada, Michael O’Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading Institutional Services LLC, menyebut pergerakan indeks pada sore hari tidak mengubah fundamental yang masih menjadi tantangan. Ia mengatakan pergerakan indeks yang “tersendat-sendat” pada Kamis sore tidak mengubah fundamental yang masih menjadi tantangan bagi pasar, seperti kenaikan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran inflasi.

Dengan demikian, meskipun ada sinyal dari pembicaraan terkait Selat Hormuz yang membantu meredakan tekanan sesaat di pasar minyak, pasar tetap menghadapi rangkaian faktor makro yang lebih mendasar. Keputusan investor tetap terlihat dipengaruhi oleh perkembangan imbal hasil Treasury dan ekspektasi terhadap dinamika inflasi, yang selama ini menjadi penentu arah perdagangan.

Pada akhirnya, sesi Kamis menampilkan gambaran pasar yang lebih “menahan” koreksi dibanding memperluasnya. S&P 500 dan Nasdaq 100 mampu mengakhiri sesi pada posisi datar, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,3%, mencerminkan bahwa sinyal dari berita negosiasi Selat Hormuz belum cukup untuk benar-benar menghapus keraguan, tetapi setidaknya membantu menahan pergerakan lebih dalam.

Di tengah pergeseran fokus tersebut, investor tampaknya menunggu kejelasan lanjutan—baik terkait perkembangan pembicaraan yang dimaksud Reuters maupun perkembangan lebih jauh di pasar obligasi. Selama fundamental yang menekan seperti kenaikan imbal hasil dan kekhawatiran inflasi masih menjadi latar utama, pergerakan Wall Street berpotensi terus berlangsung tidak seragam, namun tetap terarah pada pencarian titik konfirmasi berikutnya.

Dalam pola seperti itu, pelaku pasar cenderung memperlakukan kabar sebagai pemicu jangka pendek, lalu memeriksa ulang dampaknya melalui pergerakan imbal hasil Treasury dan kekhawatiran inflasi. Karena respons berubah-ubah, perdagangan akhirnya lebih banyak dipengaruhi dinamika sentimen ketimbang satu arah yang bertahan.

Ketika tekanan dari pasar minyak sempat mereda oleh kabar pembicaraan Selat Hormuz, suasana menjadi sedikit lebih kondusif bagi ekuitas untuk menutup hari tanpa memperdalam koreksi. Namun, tanpa konfirmasi yang lebih tegas pada faktor makro, investor tetap menjaga kehati-hatian dan menunggu sinyal berikutnya sebelum memperpanjang posisi.