jurnalistik.co.id – Perdagangan Kamis (5/11/2026) menunjukkan pelebaran sentimen positif di pasar keuangan domestik. IHSG menguat tajam, rupiah turut menguat terhadap dolar AS, sementara pelaku pasar tetap mencermati perkembangan dari luar negeri yang membayangi arah risiko.
Pada akhir sesi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,25% ke level 5.030,26. Kenaikan tersebut setara dengan tambahan 110,49 poin, dan menjadi kelanjutan penguatan setelah perdagangan sebelumnya masih naik 0,32%.
IHSG dibuka menguat di 4.998,34 dan sepanjang sesi tidak sempat masuk zona merah. Indeks kemudian terus bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi harian di 5.072,05, atau menguat sekitar 3,1% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Meski laju penguatan sedikit melandai di penghujung perdagangan, IHSG tetap bertahan di atas batas psikologis 5.000. Aktivitas transaksi tercatat ramai dengan volume mencapai 22,9 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp10 triliun.
Dari sisi komposisi pergerakan saham, sebanyak 440 saham menguat, 178 saham melemah, dan 99 lainnya stagnan. Di pasar, investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp65,53 miliar.
Penguatan IHSG juga ditopang oleh pergerakan sektor. Berdasarkan data Refinitiv, sektor teknologi menjadi pendorong utama dengan kenaikan 4,60%, sementara sektor barang baku (basic materials) menguat 3,48%.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut menopang pergerakan indeks, termasuk PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
Secara sentimen, investor tampak menangkap sinyal dari kombinasi data ekonomi dalam negeri dan kondisi eksternal. Penguatan terjadi ketika pelaku pasar mencermati hasil pemilu sela AS, anjloknya harga minyak dunia, serta rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026.
Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara year-on-year (YoY) pada kuartal III-2026. Angka ini melampaui konsensus CNBC Indonesia yang berada di 5,20%, dan sekaligus menunjukkan akselerasi dibanding kuartal II-2026 yang tercatat tumbuh 5,29% YoY.
Dari sisi rupiah, mata uang domestik menguat cukup signifikan terhadap dolar AS pada Kamis (5/11/2026). Rupiah ditutup di posisi Rp18.075/US$, menguat 0,44% dibanding penutupan Rabu (4/11/2026) di Rp18.155/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.055 hingga Rp18.170/US$. Penguatan ini sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,16% ke 101,405. Kondisi tersebut membuat daya tarik aset rupiah semakin terasa ketika sentimen domestik juga mendukung.
Selain pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi, BPS turut mencatat penurunan jumlah pengangguran pada Agustus 2026. Jumlah pengangguran tercatat 7,38 juta orang, turun 77.000 orang dibanding Agustus 2025, sementara jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,4 juta orang menjadi 147,9 juta orang.
Rilis tenaga kerja ini memberi tambahan dukungan bagi optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik. Karena itu, pasar tampak bersiap mempertahankan nada positif pada perdagangan berikutnya.
Pada hari Jumat (6/11/2026), perhatian pasar domestik akan beralih pada agenda data ketenagakerjaan AS. Rilis tersebut dijadwalkan menjadi indikator kunci untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar juga akan menimbang dinamika politik AS pascapemilu sela, setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres. Di saat yang sama, pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan tajam juga berpotensi memengaruhi dolar AS serta aliran modal global.
Pada instrumen pendapatan tetap, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat berada di level 7,740% pada Kamis (5/11/2026). Berdasarkan pergerakan grafik Refinitiv, yield tersebut melanjutkan kenaikan dan berada lebih tinggi dibanding posisi sehari sebelumnya.
Kenaikan yield mengindikasikan adanya tekanan pada harga obligasi pemerintah, mengingat pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga. Dengan demikian, pasar SBN bergerak seiring beragam sinyal dari dalam dan luar negeri.
Di sisi lain, sentimen risiko global justru mendapat pukulan dari ambruknya Wall Street pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Penurunan tersebut menghapus sebagian besar kenaikan tajam yang sempat tercatat setelah reli usai hasil pemilu paruh waktu AS.
Berita Terkait
Investor tampak makin ramai meninggalkan saham teknologi, terutama karena kekhawatiran pembangunan pusat data (data center) akan melambat. Dalam pandangan sejumlah pihak, biaya dan dampak industri tersebut terhadap lingkungan serta layanan publik berpotensi menjadi sumber penolakan yang lebih luas.
Indeks Nasdaq Composite terkoreksi 5,52% dan ditutup di level 24.315,00. Indeks yang didominasi saham teknologi itu juga secara resmi masuk zona koreksi setelah turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya yang dicapai bulan lalu.
Penurunan serupa terlihat pada Nasdaq 100 yang berakhir anjlok 6,4%. Indeks tersebut menghapus sekitar US$2,5 triliun nilai kapitalisasi pasar, sementara saham Amazon.com dan Alphabet masing-masing turun 2,2%.
Sejumlah analis menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak yang harus ditanggung masyarakat AS akibat ekspansi industri pusat data. “Akan ada banyak penolakan terhadap pembangunan pusat data di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Fasilitas tersebut dapat membebani jaringan listrik dan sistem pasokan air,” ujar Bruce Zaro, Managing Director Granite Wealth Management di Plymouth, Massachusetts.
Tekanan juga merembet ke indeks utama lain. Indeks S&P 500 turun 4,36% ke 7.353,73, sedangkan Dow Jones Industrial Average terpangkas 1.833,06 poin atau 3,44% ke level 51.523,06.
Penurunan Dow bahkan menghapus lebih dari seluruh kenaikan yang dicatat dalam reli besar sehari sebelumnya setelah hasil pemilu paruh waktu AS. Pola ini menggambarkan perubahan sikap investor yang semakin selektif terhadap aset berisiko.
Tekanan jual semakin nyata pada sektor yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur terkait. Saham Broadcom serta Nvidia masing-masing anjlok 10% dan 9%, sementara saham Oracle turun hampir 7%.
Saham semikonduktor lain seperti Qualcomm juga terkoreksi 9%. Meski demikian, penurunan terjadi meski perusahaan melaporkan laba yang melampaui ekspektasi analis.
Di tengah dinamika itu, ETF semikonduktor iShares Semiconductor (SOXX) juga terjun lebih dari 12% dan mencatat penurunan harian terburuk sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020. Ketertarikan investor pada ekosistem neocloud turut melemah.
CoreWeave kehilangan hampir 10%, sementara Nebius dan Iren masing-masing merosot sekitar 15% dan hampir 17%. Investor juga terlihat menarik diri hingga memperoleh gambaran lebih jelas mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal (capital expenditure/capex) AI.
“Investor sedang mengambil jarak hingga mereka mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai dampak pemilu paruh waktu terhadap siklus belanja modal AI. Sektor ini merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar yang kita miliki selama sekitar tiga tahun terakhir,” kata Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, kepada CNBC International.
Menurutnya, fokus pasar tertuju pada arah kebijakan dan sikap partai yang meraih kemenangan besar, baik di tingkat federal maupun negara bagian. Adanya tekanan pada Kamis juga membuat aksi jual melebar ke sektor lain.
Saham raksasa industri Caterpillar turun 6%, sementara saham sektor keuangan JPMorgan merosot 4%. Di segmen lain, saham Boeing dan Nike masing-masing terkoreksi 2%.
“Berbeda dengan kemarin, kini kita melihat aksi jual saham teknologi, dengan skala yang begitu besar, mulai merambat ke pasar secara lebih luas. Tekanan pasar semakin membesar,” ujar Keith Lerner, Chief Investment Officer Truist Wealth.
Perbandingan pergerakan sebelumnya juga terlihat jelas. Pada Rabu (4/11/2026), Dow Jones melonjak lebih dari 1.500 poin dan mencatat kenaikan harian terbaik sejak April 2025 setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu paruh waktu AS.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga sempat menguat lebih dari 1% saat itu. Namun, saham terkait AI justru berada di bawah tekanan, sementara saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi mencatat kenaikan.
Implikasi untuk perdagangan Jumat (6/11/2026)
Dengan IHSG dan rupiah yang menguat pada Kamis, pasar Indonesia berpeluang mempertahankan penguatan pada Jumat (6/11/2026). Namun, arah pasar tetap akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik AS pascapemilu sela dan pergerakan harga minyak dunia.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi. Pasar juga menanti hasil rapat OJK serta langkah kebijakan pemerintah terkait insentif investasi dan tax holiday.
Dari luar negeri, ambruknya Wall Street serta pelemahan saham teknologi menjadi perhatian utama. Lonjakan inflasi produsen Zona Euro dan rilis indeks harga pangan dunia dari FAO turut menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan global.












