Bisnis & Ekonomi

Kurs Rupiah Anjlok ke Rp17.862 per Dollar AS, Tekanan Muncul dari Harga Minyak dan Utang

×

Kurs Rupiah Anjlok ke Rp17.862 per Dollar AS, Tekanan Muncul dari Harga Minyak dan Utang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah ke Level 17.862 per Dollar AS, Harga Minyak dan Utang Jadi Biang Kerok

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026) dan ditutup turun 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.862 per dollar AS. Pelemahan itu mencerminkan tekanan yang meningkat di pasar spot.

Sepanjang sesi, rupiah bergerak lebih rendah dibanding posisi awal. Pada pembukaan, rupiah tercatat melemah 52 poin atau 0,29% ke Rp17.850 per dollar AS, namun tekanan berlanjut hingga akhir perdagangan.

Pada saat yang sama, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah tipis 0,01% menjadi 99,626 pada pukul 15.00 WIB. Meski turun tipis, dinamika dollar tetap memberi ruang bagi volatilitas pada rupiah.

Ekonom dan analis mata uang-komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah berkaitan dengan kenaikan harga minyak mentah yang berada di atas 83 dollar AS per barrel. Menurutnya, lonjakan harga ini berpotensi menambah beban devisa Indonesia untuk memenuhi kebutuhan impor energi.

“Tingginya kebutuhan impor minyak mentah membuat pelaku usaha dan pemerintah harus melakukan pembayaran dalam denominasi dollar AS,” ujar Ibrahim, Selasa sore ini.

Kebutuhan pembelian minyak mentah dalam denominasi dollar AS dapat mendorong meningkatnya permintaan terhadap mata uang Amerika. Ketika permintaan dollar menguat, mata uang Paman Sam berpotensi tampil lebih solid, sehingga nilai tukar rupiah ikut tertekan.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai 453,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp8.089,1 triliun. Angka ini tumbuh 4,4% secara tahunan (year on year/yoy) dan menunjukkan pergerakan ULN yang masih relevan untuk memantau arus valuta asing.

Secara perbandingan, posisi ULN pada Mei 2026 sebesar 444,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp7.928,5 triliun. Dengan demikian, terjadi peningkatan baik dari sisi nominal maupun ekuivalen rupiah.

Perkembangan ULN pada kuartal II-2026 menunjukkan utang luar negeri tetap terjaga. Kondisi ini didukung oleh peningkatan ULN sektor publik serta kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.

ULN pemerintah pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 216,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp3.860,4 triliun. Nilainya tumbuh 2,9% secara tahunan, tetapi pertumbuhan itu lebih rendah dibanding kuartal I-2026 yang mencapai 3,8% yoy.

Menurut catatan yang disampaikan, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Hal itu turut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang masih terjaga.

Menanti Keputusan Bank Indonesia

Selain faktor minyak dan ULN, pelaku pasar juga menunggu keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, pada 18–19 Agustus 2026. Pengumuman kebijakan moneter dijadwalkan pada Rabu (19/8/2026).

Sejumlah pihak memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Perkiraan ini merujuk pada kebijakan sebelumnya ketika BI melakukan kenaikan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April–Juni 2026.

Keputusan suku bunga menjadi salah satu fokus, namun pasar juga menanti pandangan BI terkait stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun. Arah kebijakan dan panduan yang disampaikan BI disebut dapat menjadi penentu pergerakan rupiah berikutnya.

Hal tersebut juga menjadi penting di tengah ketidakpastian global. Di beberapa bulan terakhir, BI melakukan langkah stabilisasi yang cukup agresif di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Menjelang keputusan RDG tersebut, perhatian pasar biasanya bergeser dari pergerakan harian ke ekspektasi kebijakan ke depan. Dalam kondisi seperti ini, respons rupiah kerap lebih sensitif terhadap perubahan sentimen, terutama ketika pelaku pasar memperkirakan arah suku bunga dan panduan otoritas moneter.

Tekanan pada nilai tukar juga tercermin dari keterkaitan antara kebutuhan devisa dan posisi ULN yang terus dipantau. Dengan adanya pertumbuhan ULN secara year on year, pasar cenderung membaca arus valuta asing sebagai faktor yang dapat memengaruhi ketersediaan likuiditas dan ruang penyesuaian transaksi valuta.

Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi di penghujung perdagangan memperlihatkan bahwa faktor eksternal tetap menjadi pemicu volatilitas. Kombinasi melemahnya DXY secara tipis, serta dorongan dari harga minyak mentah yang berada di atas 83 dollar AS per barrel, membuat tekanan terhadap mata uang domestik masih terbawa hingga sesi penutupan.