Bisnis & Ekonomi

Wall Street Turun, Investor Cermati Ketegangan AS–Iran dan Pergerakan Harga Minyak

×

Wall Street Turun, Investor Cermati Ketegangan AS–Iran dan Pergerakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wall Street Melemah, Investor Cermati Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak

jurnalistik.co.id – Wall Street berakhir melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026) waktu setempat. Investor mencermati ketegangan AS–Iran yang belum menunjukkan tanda mereda, sekaligus menyimak lonjakan harga minyak.

Menurut data yang dikutip dari CNBC, indeks S&P 500 turun tipis 0,06% dan ditutup pada level 7.753,11. Nasdaq Composite juga melemah 0,32% menjadi 26.605,36.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average ikut terkoreksi sebesar 60,95 poin atau 0,11% ke area 53.975,98. Gerak tiga indeks utama ini menunjukkan sentimen pasar yang lebih berhati-hati dibanding sesi sebelumnya.

Pelemahan pasar dipengaruhi pergerakan saham-saham teknologi besar. Saham Intel menjadi salah satu pemberat setelah perusahaan mengumumkan rencana menawarkan saham biasa senilai 15 miliar dollar AS.

Pasca pengumuman tersebut, saham Intel turun sekitar 4%. Tekanan serupa juga terlihat pada saham Nvidia yang melemah 2,9% serta Apple yang turun 1,5%.

Sementara itu, pasar tetap menyoroti dinamika konflik dan negosiasi antara AS dan Iran. Iran menyatakan pihaknya semakin mendekati kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz, tetapi tetap menahan langkah negosiasi langsung dengan AS.

Pihak Teheran, sebagaimana diberitakan, menolak memulai pembicaraan langsung sampai sejumlah persyaratan Iran dipenuhi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu (9/8/2026) menyebut tidak ada kemungkinan untuk mengulang negosiasi selama AS masih melanggar nota kesepahaman yang dicapai pada Juni.

Araghchi juga menyampaikan, menurut Tasnim News Agency, bahwa AS harus memberikan kompensasi atas pelanggaran tersebut. Pesan-pesan dari kedua pihak membuat ekspektasi pasar atas kemungkinan kesepakatan kembali bergerak dalam koridor ketidakpastian.

Ketidakpastian itu turut mendorong kenaikan harga minyak pada perdagangan Senin. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik sekitar 5,1% menjadi 82,13 dollar AS per barrel.

Pada saat yang sama, persediaan minyak AS di Strategic Petroleum Reserve (SPR) tercatat turun hingga level terendah sejak Januari 1983. Kondisi stok yang lebih tipis ini menambah sensitivitas pasar terhadap risiko gangguan pasokan.

Untuk acuan internasional, minyak mentah Brent menguat 5% menjadi 87,72 dollar AS per barrel. Kenaikan dua patokan tersebut mencerminkan penilaian investor bahwa eskalasi di wilayah Timur Tengah berpotensi memengaruhi premi risiko energi.

Pergerakan sentimen juga dipengaruhi perbedaan sinyal dari pejabat AS terkait arah negosiasi dengan Iran. Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, sebelumnya menyampaikan kepada CNBC bahwa kesepakatan dengan Iran tampak akan segera tercapai.

Namun, Presiden AS Donald Trump memberikan penjelasan yang berbeda kepada Axios pada Minggu, dengan menyebut AS melakukan “semi-negosiasi” dengan Iran. Trump juga mengatakan bahwa AS ingin Iran merasakan tekanan ekonomi.

Dari perspektif manajemen portofolio, Zachary Hill, Head of Portfolio Management di Horizon Investments, menilai setiap peningkatan ketegangan di Timur Tengah cenderung memiliki skala yang lebih kecil dibanding periode sebelumnya. “Semua orang sudah lelah dengan tarik-ulur ini,” katanya, sekaligus menambahkan bahwa pergerakan saat ini ikut dipengaruhi oleh cara pasar memandang eskalasi yang tidak sepenuhnya baru.

Hill juga menyatakan, “Setiap kali kita melihat peningkatan ketegangan di Timur Tengah, skalanya lebih kecil dibandingkan yang kita lihat sebelumnya. Saya pikir hal tersebut turut memengaruhi apa yang terjadi hari ini.” Menurutnya, fundamental perusahaan tetap kuat selama musim laporan keuangan, sehingga memengaruhi cara pasar menilai tekanan geopolitik.

Ia menambahkan, “Terutama dengan fundamental yang begitu kuat selama musim laporan keuangan.” Dengan kombinasi sentimen geopolitik yang belum jelas dan dukungan dari kinerja emiten, pasar menyelesaikan sesi dengan pelemahan tipis namun tetap mengantisipasi perkembangan lanjutan.

Secara keseluruhan, pelemahan Wall Street pada hari itu menggambarkan kehati-hatian investor dalam menghadapi ketegangan AS–Iran. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa risiko terkait jalur energi tetap menjadi variabel yang terus dipantau pelaku pasar.