Bisnis & Ekonomi

Prabowo Mengejar Level Rp 17.500 per Dolar AS, Penentu Banyak dari Kondisi Amerika

×

Prabowo Mengejar Level Rp 17.500 per Dolar AS, Penentu Banyak dari Kondisi Amerika

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prabowo Targetkan Rupiah Rp 17.500 Per Dollar AS, Faktor Penentu Ada di Amerika

jurnalistik.co.id – Pemerintah menargetkan rupiah bisa bergerak ke level Rp 17.500 per dollar AS, tetapi tren penguatan yang belakangan terjadi dinilai lebih banyak datang dari sentimen global ketimbang perubahan di dalam negeri.

Hingga pukul 14.18 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.870 per dollar AS, atau melemah 72 poin (0,42%). Sebelumnya, pada awal pekan kemarin, rupiah ditutup di Rp 17.798 per dollar AS, menguat 0,16% atau 29 poin dibanding pembukaannya.

Menurut Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, penguatan rupiah pada periode belakangan lebih banyak dipengaruhi faktor global. Ia menilai sektor domestik belum menunjukkan perubahan yang signifikan sehingga belum banyak menggeser kondisi pasar yang selama ini menjadi acuan.

Rully menjelaskan, “Jadi belum banyak mengubah kita, target IHSG masih 6.800, rupiah masih di 18.000. Kayanya di semester II-2026 ini secara kondisi dan secara makronya berada di situasi yang memang inflasi tinggi, dollar tinggi, suku bunga tinggi.” Dengan gambaran itu, ia melihat posisi rupiah dan variabel ekonomi lain masih berada dalam kerangka makro yang relatif sama.

Ia juga menyebut asumsi makro yang disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan akhir pekan lalu pada dasarnya berada di luar kendali pemerintah. “Dalam kaitannya dengan nilai tukar rupiah, posisinya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi global,” tambahnya, sekaligus menegaskan bahwa arah pergerakan rupiah sangat terkait dengan kondisi di luar negeri.

Rully menguraikan bahwa rupiah berpeluang menguat apabila bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tidak jadi menunda kenaikan suku bunga acuan, atau kenaikannya berada di bawah perkiraan pasar. Namun, dari sisi fundamental, ia menilai premi risiko (premium risk) masih cukup tinggi sehingga faktor penguatan rupiah tidak berdiri pada satu sisi saja.

Ia menyatakan, “Dengan kata lain yield (imbal hasil) harus lebih tinggi, kalau mau rupiahnya menguat.” Menurut penjelasan tersebut, imbal hasil yang lebih besar diperlukan untuk menyeimbangkan ekspektasi risiko, dengan yield yang dinilai masih menjadi penggerak penting arah pergerakan rupiah.

Dalam konteks target pemerintah, Rully menilai pencapaian level Rp 17.500 dipengaruhi secara kuat oleh faktor global, khususnya apabila yield saat ini berada pada kisaran 6,5 persen. Ia menyampaikan bahwa dengan kondisi tersebut, dinamika yang menentukan tidak sepenuhnya berasal dari domestik melainkan lebih dominan dipengaruhi situasi internasional.

Dengan demikian, target Rp 17.500 per dollar AS tampak diuji oleh kombinasi dua hal yang disebutkan dalam penilaian: arah kebijakan suku bunga AS dan besaran yield yang mencerminkan premi risiko. Jika sentimen global yang menggerakkan pasar bertahan, peluang rupiah bergerak ke level tersebut akan lebih terbuka; sebaliknya, bila kondisi global tidak mendukung, dorongan dari dalam negeri tidak cukup untuk mengubah arah lebih cepat.

Rully juga menggambarkan bahwa kerangka besar ekonomi yang sedang berjalan membuat arah pasar cenderung mengikuti variabel luar. Ia menilai bahwa pada semester II-2026, kombinasi inflasi yang masih tinggi, dolar yang tetap menguat, serta suku bunga yang berada pada level tinggi menjadi latar yang sama, sehingga perubahan pada rupiah tidak mudah terjadi hanya karena langkah di dalam negeri.

Dalam penilaiannya, kondisi premi risiko yang masih terbilang besar ikut menentukan seberapa kuat ruang pergerakan rupiah. Karena itu, penguatan yang diharapkan tidak cukup hanya bersandar pada satu dorongan, melainkan perlu dukungan dari imbal hasil yang lebih tinggi agar ekspektasi pasar terhadap risiko dapat kembali seimbang.

Ia menambahkan bahwa peluang rupiah menguat akan lebih terbuka jika keputusan The Fed tidak mengarah pada penundaan kenaikan suku bunga acuan, atau jika kenaikannya berada di bawah perkiraan yang sebelumnya terbentuk di pasar. Namun, ia tetap menekankan bahwa sinyal mengenai yield menjadi komponen penting yang ikut menggerakkan arah rupiah.

Dengan pertimbangan tersebut, target pemerintah untuk rupiah pada level Rp 17.500 per dollar AS diposisikan sebagai sasaran yang sangat bergantung pada kelanjutan sentimen global dan karakter yield yang berjalan. Jika indikator yang terkait kebijakan suku bunga AS dan besaran yield tetap menguatkan ekspektasi pasar, maka peluang menuju level tersebut akan lebih lebar; sebaliknya, ketika kondisi internasional tidak mendukung, dorongan domestik dinilai belum cukup untuk mengubah laju lebih cepat.