jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia diproyeksikan tetap berada pada level tinggi sampai akhir 2026. Proyeksi ini, menurut laporan Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, terutama terkait gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah yang masih membayangi arus perdagangan minyak.
Dalam Short-Term Energy Outlook (STEO) yang dirilis EIA pada Selasa (11/8/2026), harga minyak mentah Brent diperkirakan rata-rata sekitar 85 dollar AS per barrel pada kuartal III-2026. Setelah itu, harga diproyeksikan turun secara bertahap pada kuartal berikutnya.
Angka proyeksi tersebut disusun dengan sejumlah asumsi yang mengaitkan pergerakan kapal dan pasokan. Salah satunya, EIA menilai arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas sepanjang Agustus, sebelum perlahan meningkat mulai September 2026.
Pembatasan lalu lintas di jalur tersebut menjadi faktor utama yang menekan ketersediaan minyak global. Kondisi ini juga turut menguras persediaan minyak dunia karena distribusi tidak sepenuhnya berjalan normal.
Fluktuasi harga dan dampak serangan di Selat Hormuz
EIA mencatat, harga spot Brent sempat bergerak turun hingga 69 dollar AS per barrel pada 2 Juli 2026. Penurunan tersebut terjadi setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Juni 2026.
Namun, pergerakan harga kemudian berbalik. Harga meningkat lagi sekaligus membuat volatilitas pasar minyak bertambah setelah serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kembali terjadi.
Dalam catatan EIA, Brent bahkan sempat mencapai 105 dollar AS per barrel pada 23 Juli 2026. Lonjakan tersebut menggambarkan bagaimana risiko di jalur strategis dapat cepat memengaruhi persepsi dan harga di pasar.
Berita Terkait
Produksi terhenti sementara dan proyeksi pemulihan
Di saat yang sama, EIA memperkirakan pembatasan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung hingga Agustus 2026. Implikasi langsungnya, produksi minyak mentah yang dihentikan sementara (shut-in production) meningkat dalam proyeksi terbaru.
EIA menyebut produksi yang terdampak shut-in production diperkirakan rata-rata mencapai 5,5 juta barrel per hari (bph) pada Juli 2026. Setelah periode itu, sebagian besar produksi yang terhenti dinilai baru akan kembali beroperasi pada kuartal I-2027.
Dengan asumsi tersebut, pola produksi dan perdagangan minyak dunia secara umum diperkirakan kembali mendekati kondisi sebelum konflik pada awal 2027. EIA menilai pemulihan ini dapat terlihat dari volume minyak yang melewati Selat Hormuz.
Realisasi volume menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Pada kuartal II-2026, minyak mentah dan produk cair minyak yang ditransportasikan melalui Selat Hormuz rata-rata hanya 4,9 juta bph, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 21,6 juta bph pada kuartal IV-2025 sebelum konflik dimulai.
Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa kendala distribusi yang terjadi di jalur Selat Hormuz masih membatasi aliran pasokan. Karena itu, proyeksi harga minyak dunia tetap bertahan tinggi sampai akhir 2026 masih sejalan dengan dinamika pasokan yang belum sepenuhnya kembali normal.
Dalam kerangka proyeksi STEO itu, EIA menempatkan jalur Selat Hormuz sebagai variabel kunci yang memengaruhi harga dari waktu ke waktu. Saat arus pengiriman masih tersendat di sepanjang Agustus, pasar cenderung menilai ketersediaan pasokan lebih sempit. Imbasnya, pergerakan harga tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga respons cepat terhadap perubahan kondisi di rute tersebut.
Lonjakan volatilitas juga terlihat dari perubahan arah harga setelah momen-momen penting yang disebut EIA. Harga Brent sempat terkoreksi setelah nota kesepahaman AS-Iran pada Juni 2026, namun kemudian berbalik seiring laporan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Perubahan ini menegaskan bahwa persepsi risiko dapat mengubah ekspektasi pasar dalam tempo yang relatif singkat, sehingga rentang harga menjadi lebih lebar.
Di sisi pasokan, penundaan distribusi tercermin pula dari produksi yang terkena shut-in production serta perbedaan volume pengiriman antarperiode. EIA memperkirakan produksi yang terdampak mencapai sekitar 5,5 juta bph pada Juli 2026, lalu pemulihan operasi baru banyak terjadi pada kuartal I-2027. Meski ada indikasi perbaikan melalui volume yang mulai kembali, kenyataannya pada kuartal II-2026 pengiriman yang tercatat masih jauh di bawah rata-rata kuartal IV-2025, sehingga tekanan terhadap harga diperkirakan tetap bertahan hingga akhir 2026.












