Bisnis & Ekonomi

Lelang Surat Utang Tunjukkan Pelemahan, Permintaan Terkoreksi Hampir 30%

×

Lelang Surat Utang Tunjukkan Pelemahan, Permintaan Terkoreksi Hampir 30%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lelang Surat Utang Mendingin, Permintaan Turun Hampir 30% - Market

jurnalistik.co.id – Lelang surat utang pada Selasa (29/9/2026) memperlihatkan respons pasar yang melemah dibanding lelang sebelumnya pada 15/9/2026. Indikasi utamanya terlihat dari menurunnya permintaan pasar secara agregat.

Secara total, nilai yang dimenangkan turun 29,69% menjadi Rp42,8 triliun. Pada lelang sebelumnya, nilai yang dimenangkan tercatat Rp60,96 triliun.

Penurunan itu tidak hanya terjadi pada sisi pasar. Nilai yang dimenangkan pemerintah juga ikut turun, meski dengan penurunan yang lebih kecil dibanding penurunan total nilai yang dimenangkan.

Dalam lelang periode 29/9/2026, nilai yang dimenangkan pemerintah tercatat Rp28,8 triliun. Angka tersebut lebih rendah 15,29% dibanding Rp34 triliun pada lelang 15/9/2026.

Jika dibandingkan keduanya, terlihat bahwa minat pasar turun lebih dalam ketimbang pengurangan nominal yang diserap pemerintah. Perbandingan ini dapat dibaca dari besarnya penurunan total nilai yang dimenangkan versus penurunan nilai yang dimenangkan pemerintah.

Penurunan permintaan, kenaikan yield yang dimenangkan

Selain nilai yang dimenangkan, pergerakan yield juga menjadi sorotan dalam lelang kali ini. Meskipun permintaan melemah, yield yang dimenangkan tercatat naik pada hampir semua seri yang dilelang.

Data lelang menunjukkan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan naik menjadi 7,08%. Di lelang sebelumnya, angka yang sama berada di level 7,04%.

Dengan kata lain, arah pergerakan yield tidak sejalan dengan penurunan nilai yang dimenangkan. Kondisi tersebut tampak dari kombinasi: nilai yang dimenangkan menyusut, sementara yield yang dimenangkan justru meningkat.

Seri FR0110 jadi sumber tekanan terbesar

Dari sisi seri, tekanan terbesar terlihat pada FR0110 dengan tenor lima tahun. Penawaran untuk seri tersebut merosot 45,15% dari Rp23,60 triliun menjadi Rp12,94 triliun.

Pada saat yang sama, nominal yang dimenangkan pemerintah untuk FR0110 juga turun. Nilainya berkurang 25,39% dari Rp12,8 triliun menjadi Rp9,55 triliun.

Perubahan pada FR0110 menunjukkan bahwa pelemahan tidak merata hanya pada total pasar, tetapi juga tercermin pada seri tertentu. Penurunan penawaran yang cukup dalam disertai dengan penurunan nominal yang dimenangkan pemerintah pada seri yang sama.

Secara keseluruhan, hasil lelang pada 29/9/2026 dapat dirangkum lewat dua temuan utama. Pertama, nilai yang dimenangkan turun hampir 30% dibanding lelang sebelumnya. Kedua, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan naik dari 7,04% ke 7,08% meski nilai turun.

Untuk pemerintah, respons penyerapan juga mencatat penurunan, namun tidak sedalam penurunan total nilai yang dimenangkan. Nilai yang dimenangkan pemerintah turun 15,29% menjadi Rp28,8 triliun, dari Rp34 triliun pada lelang 15/9/2026.

Melalui kombinasi data tersebut, gambaran yang muncul adalah pasar yang lebih selektif saat menyerap surat utang. Seri FR0110 memperlihatkan penurunan paling menonjol pada sisi penawaran, sedangkan yield yang dimenangkan justru bergerak lebih tinggi.

Lelang kali ini menjadi pengingat bahwa indikator permintaan dan indikator harga dapat bergerak dengan arah yang berbeda dalam satu periode. Hasilnya, angka-angka lelang menunjukkan pendinginan sentimen yang tercermin pada penurunan nilai, sementara yield yang dimenangkan justru naik.

Di tengah penurunan nilai yang dimenangkan, sinyal harga justru menunjukkan kecenderungan yang berlawanan. Saat total serapan menyusut, kenaikan yield yang dimenangkan dapat dibaca sebagai respons investor yang meminta kompensasi lebih tinggi. Pola ini menguatkan bahwa pelemahan tidak hanya terlihat dari nominal, tetapi juga tercermin dari preferensi tingkat imbal hasil dalam lelang periode 29/9/2026.

Pergeseran juga tampak pada komposisi seri yang dilelang. Tekanan paling nyata terlihat pada FR0110 tenor lima tahun, yang mengalami penurunan penawaran cukup besar, sekaligus diikuti turunnya nominal yang dimenangkan pemerintah pada seri yang sama. Dengan demikian, melemahnya minat pasar tidak hanya bersifat agregat, melainkan mengenai pembentukan hasil di seri tertentu, terutama FR0110.

Secara keseluruhan, perbandingan antarperiode memperlihatkan bahwa penurunan nilai dan kenaikan yield dapat terjadi bersamaan dalam satu rangkaian lelang. Untuk pasar, kondisi ini menggambarkan selektivitas yang lebih kuat dalam penempatan surat utang. Sementara itu, bagi pemerintah, pergeseran serapan tetap terjadi, namun tetap menunjukkan penurunan yang lebih terbatas dibanding penurunan total nilai yang dimenangkan.