Bisnis & Ekonomi

Negosiasi AS-Iran Masih Abu-abu, IHSG Anjlok 0,4% ke 6.121

×

Negosiasi AS-Iran Masih Abu-abu, IHSG Anjlok 0,4% ke 6.121

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Negosiasi AS-Iran Belum Jelas, IHSG Ditutup Turun 0,4% - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (29/9/2026) berakhir dengan nada melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,43% ke level 6.121, sejalan dengan kecenderungan negatif yang juga terjadi di bursa saham Asia lainnya.

Pelaku pasar terlihat menahan diri setelah optimisme mengenai peluang terobosan diplomatik di Timur Tengah mulai memudar. Ketidakjelasan jalur negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor yang membuat sentimen cenderung risk-off sepanjang sesi.

Di saat yang sama, ketegangan AS dan Iran yang berkepanjangan tercermin pada pergerakan harga minyak global. Kondisi ini ikut mendorong kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi, sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed.

Pada penutupan, IHSG berada di angka 6.121 dengan pelemahan 0,43%. Indeks LQ45 juga ikut terkoreksi, turun 0,61% ke 608,16, menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada segmen tertentu.

Sepanjang sesi, pergerakan IHSG sempat mencoba berada pada area lebih tinggi sebelum akhirnya kembali tertekan. Level terendah yang tercatat selama perdagangan menyentuh 6.013, sedangkan level tertinggi sempat berada di 6.150 sebelum berbalik melemah.

Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar relatif ramai namun tidak cukup untuk membalik arah. Volume transaksi mencapai 38,33 miliar saham, sementara nilai transaksi tercatat sebesar Rp13,23 triliun melalui 1,8 juta kali transaksi.

Komposisi pergerakan saham menggambarkan variasi arah tanpa ada dominasi penuh. Tercatat masih ada 303 saham yang menguat, 373 saham melemah, dan 118 saham lainnya stagnan.

Penurunan terlihat lebih terasa pada sejumlah sektor yang menjadi perhatian investor. Saham teknologi memimpin pelemahan dengan turun 3,36%, disusul saham properti yang terkoreksi 1,31% dan saham energi yang melemah 1,09%.

Perbedaan arah dalam portofolio ini memberi sinyal bahwa pelaku pasar memilih strategi yang lebih selektif. Sentimen yang berpusat pada dinamika AS–Iran dan dampaknya terhadap harga minyak membuat investor mempertimbangkan kembali potensi biaya ekonomi, khususnya terkait ekspektasi inflasi dan lintasan kebijakan suku bunga.

Dengan IHSG yang ditutup lebih rendah pada akhir sesi, perhatian pasar kemungkinan beralih pada perkembangan berikutnya terkait negosiasi diplomatik AS dan Iran. Selama kejelasan arah pembicaraan belum terlihat, pasar cenderung menjaga kewaspadaan dan tetap merespons cepat terhadap sinyal-sinyal dari komoditas energi serta ekspektasi kebijakan moneter.

Meski sempat terlihat ada dorongan untuk mengangkat IHSG ke area yang lebih tinggi, sentimen yang cenderung risk-off akhirnya lebih dominan sepanjang sesi. Memudarnya optimisme terkait peluang terobosan diplomatik di Timur Tengah membuat pelaku pasar cenderung menjaga posisi, sehingga kenaikan yang sempat muncul tidak bertahan lama dan harga kembali tertekan.

Ketika dilihat dari komposisi penurunan, pelemahan tidak terjadi secara seragam. Saham teknologi yang turun 3,36% menjadi salah satu penekan utama, sementara saham properti terkoreksi 1,31% dan saham energi melemah 1,09%. Pola ini menunjukkan investor lebih memilih pendekatan selektif, dengan menekan area yang dianggap lebih rentan terhadap perubahan ekspektasi, khususnya terkait dinamika inflasi dan suku bunga.

Aktivitas perdagangan yang relatif ramai juga memberi gambaran bahwa minat transaksi ada, namun arah pergerakan tetap mengikuti tekanan jual. Dengan volume mencapai 38,33 miliar saham dan nilai transaksi Rp13,23 triliun melalui 1,8 juta kali transaksi, pasar terlihat tetap aktif, tetapi keberimbangan jumlah saham menguat dan melemah tidak berpihak pada kenaikan: 373 saham melemah dibanding 303 saham menguat, sementara 118 lainnya stagnan.

Penutupan pada level IHSG 6.121 menguatkan sinyal bahwa pasar masih menunggu kepastian berikutnya, terutama terkait jalur negosiasi AS dan Iran serta kelanjutan pergerakan harga minyak yang ikut memengaruhi kekhawatiran inflasi. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed tetap menjadi fokus, pelaku pasar kemungkinan akan terus responsif terhadap setiap perubahan informasi, sehingga volatilitas dapat berlanjut hingga arah kebijakan dan komoditas lebih jelas.