Bisnis & Ekonomi

Mega Proyek di Madura, China Siap Masuk Garap Kawasan Industri Bangkalan

×

Mega Proyek di Madura, China Siap Masuk Garap Kawasan Industri Bangkalan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Madura Siap-Siap Berubah Total karena Ada Mega Proyek, China Mau Masuk

jurnalistik.co.id – Pengembangan kawasan industri di Bangkalan, Madura, tidak semata bertumpu pada ketersediaan lahan. Di balik rencana besar itu, ada dorongan pemerataan ekonomi serta upaya menciptakan aktivitas manufaktur berskala luas.

Kawasan Industri Wiraraja Madura diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur. Pemerintah sebelumnya juga menilai Bangkalan berpeluang menjadi penyeimbang kawasan industri berat yang telah lebih dulu berkembang di sekitar Gresik.

Perimbangan ekonomi dan pekerjaan sebagai benang merah

Menurut Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana, pilihan arah pengembangan tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat setempat. Ia menekankan bahwa pemerintah sejak lama menyiapkan infrastruktur untuk mendukung industrialisasi.

“Jadi gini, sekarang kan kita kan enggak fokus hanya di Jawanya sendiri. Kenapa Bangkalan? Pertama kita fokus di situ kan memang dari dulu pemerintah menyiapkan infrastruktur yang sudah dipersiapkan untuk zaman B.J. Habibie untuk industrialisasi,” kata Ma’ruf Maulana dalam keterangan yang dikutip Selasa (25/8/2026).

Infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya dipandang menjadi modal penting agar kawasan bisa diarahkan menjadi basis industri. Namun, Ma’ruf menilai kesiapan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh masuknya pengembangan kawasan oleh pihak swasta.

Ia menyebut ada faktor sosial-ekonomi yang ikut menentukan keputusan investasi. “Nah, tetapi kenapa kita swastanya enggak masuk? Nah, ya saya masuk kebetulan sebagai putra daerah. Nah tetapi kan infrastruktur di sana sudah masuk, terus kemiskinan juga ekstrem ya kan, sangat keras sekali kemiskinan di sana kan, ekstrem sekali,” ujarnya.

Dalam pendekatan tersebut, industri diharapkan tidak berhenti pada investasi dan proses produksi saja. Pengembangan kawasan diarahkan untuk menghadirkan aktivitas ekonomi baru, sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar lokasi.

“Nah, tetapi kenapa kita swastanya enggak masuk? Nah, ya saya masuk kebetulan sebagai putra daerah,” lanjut Ma’ruf, menggambarkan pertimbangan dari sisi pelaku yang ikut mengambil peran. Ia menempatkan industrialisasi sebagai jalan untuk memperkuat pemerataan ekonomi di wilayah.

Rencana pengisian kawasan juga diarahkan pada manufaktur skala besar. Sejumlah sektor dijajaki, termasuk plastik, benang, matras, furnitur, makanan, serta pengalengan ikan.

Masuknya pabrik-pabrik di sektor-sektor itu diharapkan mendorong efek lanjutan bagi ekonomi sekitar kawasan. Perputaran ekonomi diprediksi meningkat melalui kebutuhan tenaga kerja dan tumbuhnya usaha pendukung dari aktivitas industri.

“Jadi makanya saya masuk ke sana supaya ada penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi,” kata Ma’ruf.

Masih menunggu tahapan perizinan sebelum konstruksi dimulai

Meski rencana pembangunan sudah bergulir, pembangunan fisik kawasan industri belum dimulai. Alasannya, proses masih menunggu penyelesaian tahapan perizinan.

Setelah tahapan administratif tersebut rampung, pembangunan akan dilanjutkan untuk menyiapkan area bagi perusahaan yang telah dijajaki. “Lagi tahap perizinan, mungkin awal bulan depan atau ya perizinan kalau selesai langsung saya bangun,” pungkas Ma’ruf.

Dengan kata lain, fase awal diarahkan pada memastikan proses perizinan selesai lebih dahulu, agar tahap berikutnya bisa langsung mengakomodasi kebutuhan pihak yang berencana berinvestasi. Pada tahap ini, keputusan skala produksi menunggu kepastian administratif yang menjadi prasyarat operasional.

China masuk sebagai penggerak klaster industri, namun tidak sendirian

Di sisi investor, kawasan industri Wiraraja Madura disebut mulai memasuki tahap persiapan untuk menarik investasi manufaktur dari berbagai negara. China disebut sebagai salah satu sumber investasi terbesar, dengan rencana pengembangan satu klaster industri di kawasan tersebut.

Pengembangan itu diposisikan sebagai bagian dari kerja sama Indonesia-China guna memperkuat basis industri baru di Madura. Sebelumnya, pemerintah juga mendorong kerja sama pengembangan kawasan melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP).

Akhmad Ma’ruf Maulana menegaskan bahwa investasi tidak hanya datang dari satu perusahaan. “Tetapi bukan hanya China, itu kebetulan yang China yang lebih besar. Kalau yang China saya tarik itu satu klaster, satu klaster kawasan industri,” kata Ma’ruf.

Artinya, meski China disebut lebih dominan dalam rencana awal, pengisian kawasan tetap dipersiapkan agar tidak bergantung pada satu asal modal saja. Hal ini tercermin dari kesiapan sektor manufaktur yang akan diisi dalam klaster yang diproyeksikan.

Ma’ruf menyebut kawasan tidak dimaksudkan hanya menjadi lokasi pabrik, melainkan bagian dari rantai produksi yang terhubung dengan pasar ekspor. “Jadi pabriknya itu ada pabrik plastik, benang, matras, furniture, terus cokelat, terus kemasan makanan, makanan, kayak ikan itu kan pengalengan ikan, pengalengan ikan, makanan gitu, tapi semuanya ekspor semua,” ujarnya.

Penyiapan ragam industri tersebut mencerminkan karakter manufaktur dan pengolahan yang relatif beragam. Rangkaian unit produksi yang diproyeksikan mencakup pengolahan bahan baku menjadi produk turunan, mulai dari komponen berbasis plastik dan tekstil hingga olahan makanan dan perikanan.

Dalam pengembangan tersebut, kerja sama dengan investor China menjadi elemen yang cukup penting. Di saat yang sama, Ma’ruf juga menyebut keterlibatan negara lain dalam penjajakan investasi.

“Tapi bukan hanya China, saya juga ada beberapa industri yang datang ke situ yaitu kayak Korea, Jepang, gitu,” kata Ma’ruf. Pernyataan ini menegaskan adanya upaya diversifikasi sumber investor sehingga proyek tidak terkunci pada satu negara.

Daya serap tenaga kerja diproyeksikan besar

Secara arah kebijakan, pemerintah menyebut kawasan industri di Bangkalan diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur. Kawasan ini juga diharapkan melengkapi kawasan industri berat yang telah berkembang di wilayah Gresik.

Konsekuensinya, kawasan industri disebut akan menyerap banyak tenaga kerja. Meski Ma’ruf belum menyampaikan jumlah tenaga kerja secara rinci, ia memperkirakan penyerapan mencapai ribuan orang.

Pada fase yang berjalan, pengembangan masih berada pada tahapan awal sebelum pembangunan fisik direalisasikan. Setelah proses administratif dan perizinan selesai, pembangunan kawasan industri akan mulai dijalankan untuk menampung perusahaan yang telah dijajaki.

Penegasan peran pengembang juga disampaikan Ma’ruf melalui klaim yang bersifat langsung. “Jadi itu masuk saya yang develop, saya kawasan industrinya, saya yang bawa, saya yang bangun kawasan industrinya, kawasan industri saya,” tegas Ma’ruf.

Dengan kerangka tersebut, rencana klaster manufaktur di Wiraraja Madura diposisikan sebagai proyek yang menghubungkan tujuan industrialisasi dan ekspor, sekaligus memprioritaskan kebutuhan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja. Rangkaian keputusan investasi pun tetap mengikuti kesiapan perizinan yang menjadi penentu kapan konstruksi fisik bisa dimulai.