jurnalistik.co.id – Perdagangan Jumat (25/9/2026) mencatat pelemahan harga minyak mentah global sekitar 2%. Pergerakan ini ditopang oleh respons pasar terhadap sinyal diplomatik yang dinilai berpotensi meredakan gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah.
Menurut data Refinitiv, minyak Brent ditutup melemah 2,14% menjadi US$104,32 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 2,33% ke level US$92,41 per barel.
Dalam konteks pergerakan mingguan, Brent masih menguat 0,43%, sedangkan WTI justru terkoreksi lebih dalam yakni turun 7,87%. Artinya, meski penurunan terjadi pada hari itu, komposisi performa tetap menunjukkan perbedaan arah antara kedua acuan minyak.
Tekanan harga pada sesi Jumat muncul ketika harapan mengenai kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menguat. Harapan tersebut merujuk pada laporan bahwa negosiator AS dan Iran di New York sedang membahas langkah bertahap untuk mengakhiri konflik yang selama ini menjadi sumber ketidakpastian pasar energi.
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam perundingan adalah kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Selat ini dikenal sebagai jalur penting bagi perdagangan energi dunia, sehingga setiap prospek perubahan akses di kawasan tersebut kerap memengaruhi penilaian risiko oleh pelaku pasar.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, pembukaan kembali Hormuz dikaitkan dengan sejumlah rangkaian langkah, termasuk pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran. Meski demikian, Tehran disebut masih mempertahankan sikap keras terkait program nuklirnya, yang membuat ruang kepastian kesepakatan tidak sepenuhnya tertutup.
Berita Terkait
“Pasar terus menilai kemungkinan perkembangan diplomatik menuju pembukaan Selat Hormuz,” tulis analis Ritterbusch and Associates dalam catatannya. Dalam pembacaan pasar, potensi normalisasi situasi dinilai mendorong investor untuk mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Namun, meski sentimen diplomasi memberi angin segar, pasar minyak tetap berhadapan dengan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Salah satu pemicunya datang dari laporan bahwa kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran dilaporkan kembali melakukan serangan terhadap Arab Saudi.
Serangan tersebut menjadi perhatian karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir minyak terbesar dunia. Kondisi ini turut memengaruhi antisipasi pasar terhadap kemungkinan terganggunya infrastruktur energi atau jalur ekspor, yang pada akhirnya dapat mengangkat kembali harga minyak jika eskalasi meluas.
Dalam upaya merespons perkembangan di lapangan, para kepala militer Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan membahas dukungan bagi Riyadh dalam menghadapi serangan Houthi. Apabila pembahasan tersebut tidak cukup menekan eskalasi, risiko volatilitas harga berpotensi kembali meningkat.
Di sisi lain, data awal pelacakan kapal yang dirilis Kpler mengisyaratkan bahwa arus minyak mentah yang melewati Selat Hormuz masih relatif stabil. Pada pekan yang dimulai 20 September, sekitar 33,7 juta barel minyak mentah tercatat keluar melalui selat tersebut, jumlahnya relatif tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya.
Gambaran kestabilan arus melalui Selat Hormuz juga menjadi pembanding penting mengingat sebelum konflik dengan Iran pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia diketahui melewati jalur tersebut. Dengan latar itu, setiap sinyal perubahan akses atau peningkatan ketegangan cenderung segera direfleksikan ke harga, baik melalui premi risiko maupun penyesuaian ekspektasi pasokan.
Secara keseluruhan, pelemahan sekitar 2% pada Jumat (25/9/2026) memperlihatkan bahwa pasar berusaha menyeimbangkan dorongan dari kemungkinan perkembangan diplomatik AS–Iran dengan kewaspadaan terhadap ketidakpastian keamanan di Timur Tengah. Pergerakan harian pun mencerminkan bagaimana harapan gencatan senjata dapat meredakan sebagian tekanan, tetapi belum cukup untuk menghapus risiko gangguan pasokan sepenuhnya.












