jurnalistik.co.id – Rupiah dibuka menguat di pasar spot pada Kamis (5/11/2026) sebesar 0,37% menjadi Rp18.097/US$. Penguatan ini muncul saat sentimen eksternal mereda, seiring harga minyak mentah yang menurun ke level US$94/barel.
Pergerakan rupiah turut dibarengi oleh perubahan indikator global yang lebih mendukung mata uang kawasan. Indeks dolar AS melandai ke 101,3, menandakan ketatnya dolar berkurang dibanding sesi sebelumnya.
Di sisi imbal hasil, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut turun menjadi 4,8%. Kombinasi penurunan yield tersebut ikut memberi ruang bagi pelaku pasar untuk lebih berani menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk mata uang Asia.
Data Bloomberg menunjukkan beberapa mata uang Asia bergerak lebih kuat pada awal perdagangan. Peso Filipina memimpin kenaikan dengan apresiasi 0,54%, disusul baht Thailand yang menguat 0,43% dan rupiah yang tercatat menguat 0,4%.
Selain itu, ringgit Malaysia turut menguat 0,32%, sementara yen Jepang menguat 0,22%. Sementara itu, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong ikut naik, tetapi kenaikannya lebih terbatas dibanding mata uang yang memimpin.
Di bagian lain kawasan, tidak semua mata uang bergerak searah. Dolar Taiwan melemah, bersamaan dengan won Korea Selatan yang juga ikut terkoreksi.
Dari dalam negeri, sejumlah sentimen pemberat masih membayangi persepsi investor terhadap prospek pasar valuta. Walau demikian, pelaku pasar tampak bertaruh bahwa prospek pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026 memiliki ketahanan.
Berita Terkait
Keyakinan itu ditopang oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% untuk kuartal III-2026. Dengan acuan tersebut, pasar menilai ada fondasi yang mampu menopang ekspektasi meski terdapat faktor yang masih menjadi beban.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah di sesi pembuka terlihat sebagai hasil pertautan antara meredanya tekanan dari luar dan adanya ruang ekspektasi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik. Pergerakan mata uang Asia yang cenderung menguat juga memperlihatkan bahwa dukungan dari kondisi global masih menjadi pendorong utama pada awal perdagangan.
Perubahan pada indikator global itu memberi sinyal bahwa biaya pendanaan di pasar uang mulai longgar. Ketika indeks dolar AS mereda dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut turun ke sekitar 4,8%, pelaku pasar cenderung membaca kondisi sebagai peluang untuk mengurangi posisi defensif.
Di tengah pergeseran tersebut, perhatian investor bergeser ke mata uang kawasan yang menunjukkan daya tarik relatif. Laporan pergerakan awal perdagangan mencatat penguatan beruntun di beberapa mata uang Asia, termasuk peso Filipina, baht Thailand, serta rupiah yang ikut menguat sekitar 0,4%.
Kenaikan tidak berhenti pada tiga mata uang utama itu. Ringgit Malaysia juga terangkat sebesar 0,32%, sementara yen Jepang menguat sekitar 0,22%. Meski beberapa mata uang lain juga mengalami kenaikan, kenaikannya cenderung lebih terbatas dibanding kelompok yang memimpin.
Namun arah pergerakan tetap tidak sepenuhnya seragam di seluruh kawasan. Dolar Taiwan disebut melemah, seiring won Korea Selatan yang ikut terkoreksi. Perbedaan respons antar mata uang ini memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya mengikuti satu arus global, tetapi juga mempertimbangkan dinamika masing-masing.
Dari dalam negeri, meski persepsi investor terhadap prospek valuta masih dibayangi sentimen pemberat, pelaku pasar terlihat tetap menaruh harapan pada ketahanan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Keyakinan itu dibangun atas perkiraan pertumbuhan sebesar 5,2% yang dianggap mampu menopang ekspektasi.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada sesi pembuka dapat dipahami sebagai hasil pertemuan dua dorongan: berkurangnya tekanan dari faktor eksternal serta adanya ruang dari proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik. Pola menguatnya mata uang Asia di awal perdagangan ikut menguatkan bahwa sentimen global masih menjadi pendorong utama pada fase awal tersebut.












