Bisnis & Ekonomi

Prospek Rupiah Belum Aman, Masih Tertekan dengan Bias Melemah

×

Prospek Rupiah Belum Aman, Masih Tertekan dengan Bias Melemah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Belum Aman, Masih Dibayangi Tekanan - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah diperkirakan belum lepas dari tekanan pada perdagangan hari ini, dengan bias pergerakan yang masih condong melemah. Kurs diproyeksikan lanjut berkonsolidasi di kisaran Rp17.700–17.800 per US$.

Di pasar spot, Jumat (28/8/2026), pelaku pasar masih mencermati faktor global yang berpotensi memengaruhi arah mata uang. Fokus utama datang dari pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole yang dinantikan sebagian pihak bernada hawkish.

Sentimen tersebut menjadi salah satu alasan mengapa rupiah dipandang berpeluang tetap mendapat dorongan tekan dari sisi ekspektasi kebijakan. Walau dinamika pergerakan dapat berubah intraday, arah risiko dinilai masih mengarah pada tekanan lanjutan.

Selain faktor The Fed, pergerakan komoditas juga ikut memperlihatkan sinyal yang tidak sepenuhnya memberi ruang lega bagi rupiah. Harga minyak mentah Brent pada perdagangan sebelumnya kembali terkerek 2,12% menjadi US$89,7 per barel, dari posisi US$87,27 per barel.

Pada pagi ini, harga minyak sempat terpangkas 0,13%, namun tetap berada pada level tinggi di sekitar US$89,58 per barel. Kondisi ini membuat pasar tetap membaca tekanan eksternal yang dapat merembet ke sentimen mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama masih bertahan di level 99,12. Ketika indeks dolar relatif stabil dan cenderung menguat, posisi rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) terlihat sedikit defensif.

Adapun pergerakan NDF rupiah menunjukkan perubahan tipis sebesar 0,04%, dengan kurs berada di Rp17.790 per US$. Angka tersebut mengindikasikan bahwa mata uang masih berada dalam fase konsolidasi, namun tekanan belum benar-benar surut.

Jika dilihat dari dinamika kawasan, beberapa mata uang Asia yang sudah bergerak justru mampu menguat meski terbatas. Won Korea Selatan tercatat menguat paling tajam sebesar 0,13% pada pembukaan, disusul oleh ringgit Malaysia dan dolar Singapura, serta yen Jepang yang menguat lebih terbatas.

Meski begitu, tidak semua mata uang mengikuti pola yang sama. Yuan offshore bergerak melemah tipis, yakni 0,01%, sehingga menunjukkan bahwa arah pelemahan tetap muncul pada bagian tertentu dari pasar Asia.

Dengan kondisi itu, pasar pada Jumat (28/8/2026) pagi sekitar 07.28 WIB berada dalam posisi menunggu perkembangan lanjutan dari arus sentimen global. Perubahan kecil pada indeks dolar dan harga minyak dapat menjadi pemicu lanjutan bagi penyesuaian posisi pelaku pasar.

Untuk rupiah, perhatian tertuju pada apakah penguatan dolar akan terus bertahan atau mulai kehilangan tenaga menjelang pidato Kevin Warsh. Ekspektasi pasar terhadap respons kebijakan The Fed menjadi variabel penting yang menentukan apakah tekanan akan memanjang atau hanya berwujud konsolidasi sementara.

Di tengah kondisi tersebut, pergerakan terbatas pada mata uang Asia juga memberi gambaran bahwa perdagangan kawasan cenderung selektif. Penguatan pada sejumlah mata uang seperti won, ringgit, dolar Singapura, dan yen tidak sepenuhnya menutup ruang risiko melemah pada rupiah, terutama ketika dolar AS tetap bertahan di 99,12.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen pidato The Fed dan posisi dolar AS menjadi penopang utama skenario tekanan pada rupiah. Sementara itu, pergerakan Brent yang berada di kisaran US$89,58 per barel turut mempertegas bahwa faktor eksternal tetap menjadi bagian dari pertimbangan pasar.

Bagi pelaku pasar, angka-angka yang telah terlihat sejauh ini—Brent US$89,7 per barel setelah naik 2,12%, NDF rupiah Rp17.790 per US$ naik 0,04%, serta indeks dolar 99,12—menjadi referensi untuk menilai arah lanjutan. Dalam kerangka itulah rupiah diproyeksikan masih bergerak dalam rentang Rp17.700–17.800 per US$ sambil menjaga kewaspadaan terhadap volatilitas saat narasi hawkish dari Jackson Hole mulai dipertimbangkan.