Bisnis & Ekonomi

Rupiah Bertahan di Rp17.695/US$ Sejalan Penguatan Mata Uang Asia

×

Rupiah Bertahan di Rp17.695/US$ Sejalan Penguatan Mata Uang Asia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Bergerak Stabil di Rp17.695/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan bias menguat tipis. Pada sesi Rabu (26/8/2026), mata uang Indonesia tercatat naik 0,1% ke level Rp17.695/US$, sebelum pergerakannya berlanjut namun dengan laju yang makin melandai.

Setelah sempat menguat, rupiah kemudian bergerak lebih rapat dengan kisaran baru. Pergerakan berikutnya menunjukkan penguatan 0,12% ke Rp17.690/US$, mencerminkan stabilitas yang relatif terjaga sepanjang awal perdagangan.

Kinerja rupiah yang cenderung sejalan dengan mata uang Asia lainnya mengindikasikan adanya pengaruh faktor eksternal yang sama. Dalam laporan tersebut, penguatan rupiah dihubungkan dengan meredanya harga minyak dunia serta melemahnya dolar Amerika Serikat (AS).

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent kembali mengalami penurunan. Brent tercatat turun 2% ke US$86,81 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 1,78% ke US$80,89 per barel.

Penurunan harga minyak ini disebut memberi ruang bagi sebagian mata uang kawasan untuk menguat. Dengan kondisi tersebut, rupiah bergerak dalam satu arah bersama mata uang di berbagai negara Asia yang pada umumnya menguat.

Di antara mata uang kawasan, ringgit Malaysia tercatat menjadi yang memimpin kenaikan. Ringgit Malaysia menguat 0,36%, disusul oleh peso Filipina, baht Thailand, serta rupiah dan yen Jepang yang ikut bergerak menguat.

Sementara itu, tidak semua mata uang bergerak searah. Won Korea Selatan kembali melemah, begitu pula yuan offshore dan dolar Hong Kong, menandakan arah pergerakan yang lebih beragam di tengah perbedaan sensitivitas pasar.

Dari sisi mata uang global, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama bergerak stabil. Indeks tersebut berada di level 98,91, sehingga pergerakan dolar tidak menunjukkan dorongan besar pada awal perdagangan.

Stabilnya dolar AS dikaitkan dengan perkembangan di pasar surat utang pemerintah AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan adanya penggandaan buyback untuk obligasi berjangka 10-30 tahun, yang kemudian tercermin pada pergerakan yield.

Setelah pengumuman itu, yield pada tenor panjang sempat turun cukup tajam. Bahkan, yield 30 tahun turun 10 basis poin (bps) ke kisaran 5,18%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Dengan yield yang melemah dan dolar yang relatif terjaga, pasar memberi reaksi yang mendukung penguatan pada sejumlah mata uang Asia. Kondisi tersebut kemudian kembali terlihat pada pergerakan rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.695/US$ dan bergerak tipis ke Rp17.690/US$.

Secara keseluruhan, laporan memperlihatkan bahwa rupiah bergerak stabil seiring pergerakan kawasan yang lebih luas. Perubahan diposisikan dalam konteks pelemahan dolar AS serta turunnya harga minyak mentah, yang sama-sama menjadi faktor pendorong awal perdagangan.

Perkembangan pada level US$86,81 untuk Brent dan US$80,89 untuk WTI menjadi salah satu indikator arah pasar komoditas yang ikut memengaruhi sentimen valas. Di saat yang sama, stabilitas indeks dolar AS di 98,91 memperlihatkan bahwa dorongan dari dolar belum berubah menjadi tekanan berarti pada fase awal sesi.

Bagi pergerakan lanjutan, kombinasi faktor eksternal itu tetap menjadi penyangga dinamika rupiah. Saat pasar mempertimbangkan respons terhadap buyback obligasi AS dan pergerakan yield tenor panjang, mata uang kawasan yang menguat berpeluang tetap mendapat dukungan selama arus sentimen dari dolar dan minyak bergerak searah.

Di tengah dinamika tersebut, rupiah terlihat menjaga arah penguatan meski pergerakannya tidak lagi terlalu agresif. Setelah mencatat kenaikan ke sekitar Rp17.695/US$, mata uang bergerak lebih rapat pada kisaran dekat Rp17.690/US$, sehingga sinyal konsolidasi makin terasa pada bagian awal sesi.

Perubahan yang mengemuka juga tampak pada hubungan antar-variabel di laporan. Saat minyak Brent dan WTI melemah, meredanya tekanan dari komoditas memberi ruang bagi mata uang kawasan untuk tetap bernada positif, sementara dolar AS yang relatif stabil ikut membatasi fluktuasi. Dengan yield tenor panjang yang turun pasca pengumuman buyback obligasi 10–30 tahun, pasar cenderung membaca kondisi sebagai dukungan lanjutan bagi perdagangan valas Asia.