Bisnis & Ekonomi

Rupiah Mulai Dibuka di Rp17.763/US$ Dipengaruhi Sentimen Aksi Demo dan Arah Kebijakan BI

×

Rupiah Mulai Dibuka di Rp17.763/US$ Dipengaruhi Sentimen Aksi Demo dan Arah Kebijakan BI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Dibuka Rp17.763/US$, Ini Penyebabnya - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah mengawali perdagangan pada Kamis (27/8/2026) dengan kecenderungan melemah. Pada pembukaan, mata uang ini turun 0,29% dan berada di level Rp17.763/US$.

Setelah beberapa waktu perdagangan berjalan, rupiah kembali melanjutkan pelemahan. Sekitar pukul 09:05 WIB, rupiah tercatat melemah 0,36% ke level Rp17.775/US$.

Pergerakan awal tersebut mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen yang datang dari dalam negeri. Meskipun sentimen eksternal disebut relatif mereda, tekanan dari faktor domestik masih menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan.

Dalam penilaian pasar, hari ini menjadi momen penting karena adanya potensi dinamika di ruang publik. Pelaku pasar mengamati perkembangan aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama.

Lokasi yang dipantau disebut berada di depan Gedung DPR/MPR. Fokus pemantauan ini berangkat dari kemungkinan eskalasi yang dapat memengaruhi persepsi risiko pelaku pasar.

Jika demonstrasi berlangsung dengan eskalasi dan ketegangan yang meningkat, pasar memperkirakan kondisi dapat bergeser menjadi risk-off. Pada skenario tersebut, rupiah disebut berpotensi kembali mengalami tekanan seiring pelepasan aset-aset berbasis rupiah.

Sebaliknya, apabila situasi tetap relatif kondusif dan terkendali, pergerakan rupiah dinilai bisa lebih terjaga. Meski demikian, arah pelemahan tetap disebut akan tampak dengan bias menuju rentang Rp17.740-17.850/US$.

Artinya, pasar tidak mematok skenario pemulihan yang langsung. Pelaku pasar justru mengantisipasi bahwa pergerakan masih akan cenderung melemah, namun dalam batas rentang yang disebutkan.

Selain isu demonstrasi, perhatian lain juga tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia. Pasar menyoroti perkembangan setelah pemaparan Destry Damayanti dan Aida Suwandi Budiman dalam proses di DPR.

Destry Damayanti disebut sebagai kandidat tunggal Gubernur BI. Sementara itu, Aida Suwandi Budiman dicantumkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI yang turut mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR.

Pemaparan tersebut menjadi pertimbangan karena pasar menilai kebijakan moneter ke depan akan dipengaruhi oleh arahan yang ditawarkan dalam proses tersebut. Dalam konteks ini, arah kebijakan BI menjadi salah satu variabel yang ikut menentukan arah rupiah pada sesi berjalan.

Dengan dua fokus utama yang sama-sama berada dalam pengamatan pasar—yakni demonstrasi dan perkembangan kebijakan BI—pergerakan rupiah pada awal perdagangan tampak mengikuti logika selektif. Pasar mencoba memadukan ekspektasi jangka pendek dari dinamika domestik dengan sinyal kebijakan dari proses di DPR.

Hingga awal sesi, rupiah tercatat telah bergerak dari level Rp17.763/US$ ke Rp17.775/US$. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan masih berlangsung, meski belum mengubah kecenderungan bias yang dijelaskan sebelumnya.

Rentang Rp17.740-17.850/US$ kemudian menjadi rujukan skenario yang paling mungkin dipantau untuk kelanjutan pergerakan. Dalam skenario kondusif, pasar mengarah pada pergerakan yang relatif terjaga namun tetap dengan kecenderungan pelemahan.

Untuk dinamika demonstrasi, pergeseran sikap pasar tidak hanya dilihat dari keberadaan aksi, tetapi juga dari eskalasi dan ketegangan yang menyertainya. Apabila indikator tersebut meningkat, risk-off disebut dapat kembali menguat dan memicu pelepasan aset rupiah.

Pada saat yang sama, proses uji kelayakan dan kepatutan juga menjadi panggung bagi sinyal kebijakan. Pasar menempatkan pemaparan calon pimpinan BI sebagai referensi atas arah yang akan diambil, yang pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar.

Dengan demikian, laju rupiah di sesi pembukaan tidak berdiri sendiri. Ia bergerak dalam kerangka dua pemicu utama: sentimen domestik terkait aksi demonstrasi dan ekspektasi terkait arah kebijakan BI.

Di tengah pengamatan itu, pelaku pasar akan terus menilai apakah kondisi di lokasi demonstrasi tetap terkendali atau justru memicu eskalasi. Hasil penilaian tersebut diperkirakan akan menentukan apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut dengan bias ke rentang Rp17.740-17.850/US$, atau bergeser menjadi risk-off.

Sementara itu, kelanjutan perhatian terhadap kebijakan BI juga akan menjadi penopang arah ekspektasi. Setelah pemaparan Destry Damayanti dan Aida Suwandi Budiman dalam proses di DPR, pasar tetap memantau perkembangan yang relevan dengan arah kebijakan yang dimaksud.

Perdagangan berikutnya pada hari tersebut karenanya diperkirakan tetap berlangsung dengan sensitivitas tinggi terhadap kedua faktor itu. Pada akhirnya, pergerakan rupiah akan mengikuti respons pasar atas dinamika yang terjadi dan arah kebijakan BI yang menjadi sorotan setelah uji kelayakan di DPR.