jurnalistik.co.id – Sejumlah broker terlihat mengakumulasi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Langkah pembelian itu muncul menjelang kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas bawah harga saham (floor price) sebesar Rp50.
GOTO sendiri sudah lama berada di zona gocap. Saham ini terpantau terjerembab sejak Mei dan kemudian bertahan di level tersebut hingga perdagangan kemarin.
Di tengah kondisi harga yang menekan, GOTO pernah mencatat capaian lebih tinggi saat valuasinya sempat melonjak usai pencatatan saham perdana pada April 2022. Pada fase itu, kapitalisasi pasar perusahaan sempat menembus angka US$32 miliar.
Penghapusan floor price Rp50 menjadi pemantik perhatian pelaku pasar, khususnya menjelang sesi perdagangan yang akan menutup mekanisme pembatas bawah tersebut. Dengan perubahan aturan itu, minat akumulasi saham berpotensi semakin terlihat pada transaksi-transaksi di hari terakhir sebelum kebijakan berjalan.
Pembelian terbesar terjadi pada Sucor Sekuritas
Dalam rangkaian transaksi pada perdagangan kemarin, Sucor Sekuritas menjadi pembeli dengan nilai terbesar. Sucor Sekuritas membeli saham GOTO pada harga rata-rata Rp30 per saham.
Transaksi bersih (net value) yang tercatat melalui Sucor Sekuritas nyaris mencapai Rp700 juta dalam satu hari perdagangan saham. Besaran akumulasi itu tercatat sebesar Rp695,76 juta dengan harga rata-rata pembelian tetap di Rp30.
Setelah Sucor Sekuritas, Mandiri Sekuritas juga membukukan akumulasi yang cukup besar. Mandiri Sekuritas membeli saham GOTO dengan net value sebesar Rp443,25 juta dan harga rata-rata Rp30 per saham.
Berita Terkait
Berikutnya, Artha Sekuritas turut melakukan akumulasi pada perdagangan kemarin. Artha Sekuritas membeli saham GOTO dengan net value sebesar Rp341,3 juta pada harga rata-rata Rp29 per saham.
NH Korindo Sekuritas juga termasuk dalam daftar broker yang mengakumulasi saham GOTO. Broker tersebut mencatat net value sebesar Rp290 juta dengan harga rata-rata pembelian Rp29 per saham.
Di urutan berikutnya, Tuntun Sekuritas melakukan pembelian dengan nilai yang tercatat Rp151 juta. Harga rata-rata belinya berada di Rp30 per saham, sama seperti Sucor dan Mandiri.
Komposisi aksi beli dari beberapa sekuritas itu menunjukkan bahwa konsentrasi akumulasi tidak hanya bertumpu pada satu pelaku. Variasi harga rata-rata pembelian yang terlihat berkisar di Rp29 dan Rp30 menandakan adanya penyusunan posisi dari berbagai broker pada rentang harga yang menjadi perhatian pasar.
Dengan BEI yang menghapus batas bawah harga saham menjadi Rp50, transaksi pada perdagangan kemarin tampak menjadi bagian dari penyesuaian posisi menjelang perubahan aturan. Bagi investor dan trader, momentum akumulasi seperti ini kerap menjadi sinyal awal terkait arah pembentukan harga setelah mekanisme pembatasan bawah ditinggalkan.
Dari sisi komposisi transaksi, akumulasi yang muncul menjelang penghapusan floor price memperlihatkan pola pembentukan posisi yang bertahap. Setelah aturan pembatas bawah Rp50 dinyatakan berakhir, pelaku pasar cenderung menyiapkan kebutuhan beli lebih dulu pada hari-hari penutupan mekanisme tersebut.
Selain nilai yang besar, rentang harga rata-rata pembelian juga relatif rapat. Sucor Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Tuntun Sekuritas mencatat harga rata-rata Rp30, sementara Artha Sekuritas serta NH Korindo Sekuritas berada di kisaran Rp29. Variasi yang tidak terlalu jauh ini menunjukkan kesamaan patokan harga saat akumulasi dilakukan.
Besaran akumulasi yang tercatat juga menegaskan adanya “poros” transaksi. Sucor Sekuritas menjadi yang terdepan dengan net value Rp695,76 juta pada harga rata-rata Rp30, lalu disusul Mandiri Sekuritas (Rp443,25 juta), Artha Sekuritas (Rp341,3 juta), dan berikutnya NH Korindo Sekuritas (Rp290 juta). Urutan ini memperkuat gambaran konsentrasi minat pada fase yang sama.
Perhatian terhadap GOTO tidak lepas dari riwayat pergerakannya. Saham ini pernah menunjukkan lonjakan usai pencatatan perdana pada April 2022, ketika kapitalisasi pasar sempat menembus US$32 miliar. Kini, ketika harga kembali berada dalam tekanan zona gocap sejak Mei, akumulasi menjelang perubahan aturan menjadi bagian dari dinamika penentuan arah berikutnya.












