Bisnis & Ekonomi

CPO Acuan Menguat pada Jumat 28 Agustus 2026, Pengusaha Makin Optimistis

×

CPO Acuan Menguat pada Jumat 28 Agustus 2026, Pengusaha Makin Optimistis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Minyak Sawit Terbang, Pengusaha Makin Senyam-Senyum

jurnalistik.co.id – Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) acuan global mencatat penguatan pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026. CPO acuan untuk kontrak yang berakhir November 2026 ditutup melonjak 1,62% ke level RM 4.894 per ton.

Kenaikan itu terjadi pada akhir pekan, meski pergerakan sepekan justru melemah. Sepanjang pekan berjalan, harga CPO terkoreksi 2,47% secara point-to-point.

Penguatan pada hari Jumat mengemuka di tengah persediaan yang sedang meningkat. Namun, pasar juga menilai perubahan pada pasokan jangka pendek mengarah pada risiko kondisi yang lebih ketat pada 2027.

Beberapa dorongan utama datang dari penguatan El Niño, mandat biodiesel B50 Indonesia, serta gangguan pada minyak nabati pesaing. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat analis mulai mengangkat perkiraan harga.

Secara tren, CPO telah mengalami kenaikan lebih dari 15% sejak awal tahun. Sebelumnya, harga rata-rata CPO Malaysia berada di angka RM 4.493 per ton pada bulan lalu, naik 9,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk periode Januari hingga Juli 2026, harga rata-rata CPO tercatat di level RM 4.388 per ton. Angka-angka itu menjadi latar yang memperlihatkan bahwa kenaikan harian pada Jumat tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari momentum sepanjang 2026.

Di sisi prospek, beberapa pelaku industri memandang masih ada ruang kenaikan lebih lanjut. SD Guthrie, salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, memperkirakan CPO akan diperdagangkan pada kisaran RM 4.600 hingga RM 5.000 per ton untuk sisa tahun ini.

Perusahaan yang sama juga menilai harga berpotensi mencapai setinggi RM 5.200 per ton pada kuartal pertama 2027, apabila El Niño berkembang. Proyeksi tersebut menunjukkan harapan pasar terhadap ketatnya pasokan di periode berikutnya.

Dalam pandangan riset dan analisis, pasar dinilai mulai melihat tanda yang lebih nyata setelah sebelumnya lebih banyak bergerak mengikuti ekspektasi. Ivy Ng Lee Fang, kepala riset Malaysia dan analis perkebunan regional CIMB Securities, mengungkapkan, “Sebelumnya, pasar diperdagangkan berdasarkan ekspektasi [tentang dampak El Niño terhadap tanaman] dan sekarang pasar melihat beberapa tanda nyata. Banyak pihak setuju bahwa harga CPO akan lebih tinggi, terutama dengan potensi penurunan produksi hingga 2027,” kata Ivy Ng Lee Fang, dikutip dari The Edge Malaysia.

Penguatan harga tetap dapat bertahan meskipun stok menumpuk. Salah satu penopangnya adalah permintaan yang dinilai tetap kuat, disertai posisi minyak sawit yang semakin kompetitif dibanding minyak nabati lainnya.

Dari sisi pembeli terbesar, India turut menjadi faktor pengarah. Importir minyak nabati terbesar di dunia itu meningkatkan pembelian pada Juli lalu, dengan impor minyak sawit melonjak 50% dari bulan sebelumnya menjadi sekitar 733.000 ton—tertinggi dalam lima bulan.

Lonjakan pembelian tersebut disebut terjadi karena para pengolah minyak menambah stok menjelang musim perayaan besar di India dari Agustus hingga November 2026. Pola penambahan stok musiman ini memberi bantalan pada permintaan minyak sawit.

Di saat yang sama, pasar menaruh perhatian pada prakiraan cuaca. Ivy Ng juga menyoroti bahwa El Niño diperkirakan akan menguat, dengan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) memperkirakan probabilitas 81% terjadinya El Niño yang sangat kuat selama Oktober hingga Desember 2026.

Menurut penjelasannya, kondisi cuaca El Niño yang lebih kuat dapat mengurangi hasil dan produksi kelapa sawit di Asia Tenggara dengan jeda waktu. Dampaknya lalu menimbulkan risiko penurunan pasokan yang lebih besar mulai 2027 dan seterusnya.

Namun, dampak tersebut tidak selalu bekerja secara instan. Fenomena cuaca yang cenderung lebih panas dan kering di Asia Tenggara diperkirakan tidak langsung diterjemahkan menjadi penurunan produksi kelapa sawit.

Penurunan hasil di kebun kerap berkaitan dengan stres pada pohon, yang memengaruhi pembentukan buah. Dengan mekanisme seperti itu, dampak terbesar terhadap hasil panen dapat muncul lebih dari setahun setelah peristiwa cuaca terjadi.

Perkiraan produksi juga turut menyesuaikan ekspektasi tersebut. Departemen Pertanian AS memangkas perkiraan produksi minyak sawit Indonesia untuk tahun 2026/27 menjadi 47,2 juta ton di tengah ekspektasi kondisi kekeringan.

Selain aspek pasokan, faktor harga minyak mentah ikut memberi dukungan pada CPO. Harga minyak mentah yang lebih tinggi dinilai membuat biodiesel berbasis sawit menjadi lebih menarik secara ekonomi, sehingga meningkatkan permintaan dari Indonesia.

Dengan demikian, optimisme pelaku industri berlabuh pada kombinasi dua arah: dorongan permintaan yang masih kuat serta risiko ketatnya pasokan pada 2027 akibat penguatan El Niño dan ekspektasi dampaknya pada produksi. Di akhir pekan, pasar tetap merespons penguatan harian Jumat sambil menimbang koreksi sepekan yang terjadi.