jurnalistik.co.id – Bursa saham Amerika Serikat melemah pada Senin (28/9/2026) seiring kebuntuan antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi bertahan lebih lama akibat harga energi yang naik. Kekhawatiran ini membuat ekspektasi pasar mengarah pada Federal Reserve yang dinilai perlu menaikkan suku bunga secara lebih agresif.
Tekanan di pasar muncul ketika pelaku melihat risiko konflik tetap mengganggu jalur suplai energi. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung menilai biaya energi yang lebih tinggi berpotensi ikut menjaga laju inflasi, sehingga kebijakan moneter bisa menjadi lebih ketat dari perkiraan awal.
Di sesi perdagangan Senin, indeks Nasdaq 100 ditutup turun 1,1% di New York. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,8% dan keduanya mengakhiri perdagangan pada level terendah dalam 10 hari.
Di sisi komoditas, harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$106 per barel. Pergerakan harga energi ini menjadi salah satu sinyal yang dipantau pasar, terutama ketika pembicaraan terkait kemungkinan jeda permusuhan antara AS dan Iran masih diwarnai beragam informasi.
Dalam dinamika perdagangan, saham sempat mengurangi pelemahannya setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran. Pemberian keringanan tersebut disebut sebagai imbalan atas kemajuan dalam isu nuklir.
Namun, arah pasar kemudian kembali tertekan setelah Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan itu, menurut laporan, memperdalam aksi jual di pasar obligasi pemerintah AS pada hari yang sama.
Lebih jauh, pejabat Iran secara pribadi menyatakan pesimistis mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dengan Washington. Sikap pesimistis tersebut juga menyinggung target waktu pembukaan kembali jalur perairan penting sebelum pemilihan umum sela AS pada November.
Berita Terkait
Dengan latar tersebut, pelaku pasar tampak menilai pergeseran sentimen bisa terjadi cepat, tergantung sinyal negosiasi dan respons dari kedua pihak. Saat kabar soal sanksi memberi dorongan terbatas, penolakan terkait Selat Hormuz justru memperkuat kekhawatiran risiko yang belum mereda.
Faktor inflasi dan kebijakan suku bunga menjadi benang merah yang terus memengaruhi pembentukan harga aset. Kenaikan harga energi yang dikaitkan dengan kebuntuan AS–Iran menjadi pemicu utama, sehingga pasar menaruh perhatian lebih pada seberapa besar The Fed harus melangkah untuk mengendalikan tekanan harga yang mungkin bertahan.
Menjelang perkembangan berikutnya, fokus perhatian tetap tertuju pada apakah pembicaraan dapat menghasilkan kemajuan yang nyata dan terukur. Sementara itu, level indeks saham yang turun ke posisi terendah dalam 10 hari mencerminkan bahwa suasana kehati-hatian masih dominan di tengah ketidakpastian antara AS dan Iran.
Penguatan kehati-hatian juga terlihat dari bagaimana pelaku pasar merespons setiap sinyal negosiasi. Ketika kabar tentang kemungkinan keringanan sanksi muncul, pasar sempat memberi ruang pemulihan sementara. Namun, respon cepat atas perubahan agenda menunjukkan betapa sensitifnya harga aset terhadap perkembangan AS–Iran.
Dalam konteks hubungan ketegangan geopolitik dengan kondisi ekonomi, kenaikan biaya energi menjadi faktor yang terus memengaruhi cara pasar membaca prospek inflasi. Setiap dorongan yang dianggap bisa mengurangi risiko gangguan suplai cenderung dilihat hanya sebagai jeda sesaat, sementara skenario inflasi yang lebih persisten tetap membayangi ekspektasi.
Pergerakan beruntun pada berbagai instrumen juga menegaskan bahwa fokus investor tidak hanya pada saham, tetapi merembet ke pasar lain. Penolakan proposal terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, misalnya, disebut memperdalam aksi jual di pasar obligasi pemerintah AS pada hari yang sama, sehingga sentimen berubah lebih cepat dari yang semula diantisipasi.
Ke depan, suasana pasar diperkirakan tetap dipandu oleh kejelasan arah pembicaraan dan kemampuan kedua pihak menutup jarak dalam isu kunci. Dengan pernyataan pejabat Iran yang pesimistis serta rujukan pada batas waktu menjelang pemilihan umum sela AS pada November, investor tampak mempertimbangkan bahwa proses negosiasi mungkin tidak berjalan lurus dan bisa kembali bergejolak.












