jurnalistik.co.id – Céline Dion memulai rangkaian comeback yang telah lama ditunggu di Paris pada Sabtu, setelah absen selama enam tahun akibat persoalan kesehatan. Penyanyi pop legendaris berusia 58 tahun itu kembali ke panggung melalui pertunjukan dengan intensitas emosional yang terasa dari awal acara.
Dalam penampilan tersebut, Dion menghadapi kondisi saraf langka bernama stiff person syndrome yang didiagnosis pada 2022. Diagnosis itu memaksanya menghentikan aktivitas tur dan menarik diri dari jadwal konser secara lebih luas.
Bagi Dion, ini bukan sekadar tampil kembali, melainkan momen yang memerlukan keberanian tersendiri setelah jeda panjang. Ia terakhir kali menggelar pertunjukan penuh pada konser 2020 di New Jersey, sebelum pandemi Covid membuat rencana tur terpotong.
Meski sempat kembali dalam bentuk yang lebih terbatas, ia hanya tampil sekali pada 2024 di acara penutupan Olimpiade Paris. Kini, ia memulai babak baru dengan tinggal konser selama 26 pertunjukan di Paris La Défense Arena, venue konser indoor terbesar di Eropa.
Sabtu itu menjadi pembuka residensi 26 kali tersebut. Dion berbicara langsung kepada sekitar 30.000 penonton di arena, menyampaikan bahwa ia ingin menepati janji untuk kembali ke panggung.
“I made a promise,” ujar Dion kepada penonton, sebelum melanjutkan, “I made a promise to come back, to be back on stage. And here I am. Singing for you, and singing for me,”. Ia menutup bagian emosional itu dengan kalimat, “I am everything I am because you loved me,”.
Setelah menyelesaikan sebuah lagu, Dion bahkan sempat berlinang air mata. Ia berkata, “I had promised myself not to cry.” Namun, ia segera menambahkan, “But I’m so happy to see you all. I missed you,”, seolah menegaskan bahwa kerinduan pada penonton juga menjadi bagian dari kembali ke panggung.
Kembali dengan ritme yang diuji
Tak hanya Dion yang terlihat tersentuh, tetapi performanya juga menghadirkan momen-momen yang menunjukkan ia tengah beradaptasi dengan tubuh dan kondisi suaranya. Sejumlah pengamat mencatat cara ia menahan emosi, sekaligus menemukan kembali pijakan untuk melanjutkan penampilan.
Lucy Needham dari The Mirror melaporkan bahwa Dion memulai pertunjukan 50 menit lebih lambat dari jadwal. Menurut Needham, ia mungkin memerlukan waktu tambahan untuk “compose herself” atau “merangkai diri” sebelum benar-benar tampil.
Needham juga menuliskan bahwa Dion berkali-kali memberi isyarat kecil seolah mengecek setiap bagian lirik setelah melewati satu baris. Pada akhir lagu, Dion akhirnya menangis, tampak kewalahan karena merasa berhasil menjalani pertunjukan itu.
Dion memulai penampilan dengan gaun hitam, lalu kemudian berganti menjadi setelan celana. Needham menyebut perubahan kostum itu untuk menonjolkan gerak tari khasnya yang “kooky”, serta menggambarkan penampilannya seperti sedang menikmati setiap detik—bergerak aktif dan tampak bersemangat.
Neil McCormick dari The Telegraph menggambarkan malam itu sebagai rangkaian yang “tegang, penuh air mata, dan juga penuh kegembiraan”. Ia menilai suasananya mungkin bahkan lebih berat untuk Dion dibanding penonton setianya.
McCormick menambahkan bahwa awal pertunjukan berjalan pelan. Menurutnya, suara Dion terdengar rapuh dan terbuka, tetapi tetap merupakan suara khasnya—bukan tiruan yang diolah, termasuk tanpa kesan “autotuned approximation”.
Pada awalnya, McCormick menulis, Dion tampak berjuang menahan dirinya agar tetap stabil di atas panggung. Ia menyebut vokalnya sempat bergetar “dangerously”, seperti hampir retak atau runtuh, sebelum perlahan menemukan keyakinan dari waktu ke waktu.
Ketika lagu pertama selesai dan penonton langsung memberi sambutan gemuruh, Dion kembali menunjukkan sisi rentan dengan meneteskan air mata. Ia juga berbicara kepada penonton menggunakan bahasa Prancis dan Inggris selama sesi penampilan.
McCormick kemudian menyebut comeback Dion sebagai “high-stakes, high-wire return”, mungkin “the riskiest comeback in the history of showbusiness”. Ia mengaitkan penilaian itu dengan kondisi kesehatan Dion.
Berita Terkait
Di akhir ulasannya, McCormick menyatakan bahwa ia justru lebih menyukai versi Dion yang lebih manusiawi. Menurutnya, suaranya masih hebat, tetapi terdengar lebih mentah dan lebih nyata: nada lebih kasar, luncuran (runs) yang kurang halus, serta lebih banyak sisi tajam pada bagian “whoops and shrieks”.
Respon penonton dan nuansa pementasan
Sementara itu, Sarah Leavitt dari CBC yang meliput langsung dari Paris menilai penonton seperti kehilangan kata-kata. Ia mencatat Dion sempat mengatakan tidak ingin menangis, tetapi “of course she cried right away”.
Leavitt juga menyoroti bagaimana Dion membangun kedekatan dengan penonton melalui satu momen ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk berhenti dan memulai ulang selama salah satu lagu. Bagi banyak orang, gesture itu menjadi cara Dion “mencairkan jarak” di tengah ketegangan emosional.
Will Hodgkinson dari Times of London menilai pertunjukan itu “overwhelming” dan menekankan bahwa “miraculously, her art will go on”. Ia menggambarkan Dion tampak rendah hati dan berlinang air mata saat muncul ke hadapan penonton.
Hodgkinson juga mengutip kesan yang sama kuat tentang energi pertukaran kasih antara Dion dan penonton: “Truly, she was throwing the love at the crowd, who threw it right back at her. There was no holding back. It was quite overwhelming, actually,”. Ia memuji pengaturan panggung sekaligus suasana romansa yang terasa “tragic, important romance”.
Ia menilai kekuatan Dion terletak pada kemampuannya menjadi diva sekaligus tetap “common touch”, dengan gaya yang tetap terasa Prancis, meski Dion sendiri seorang musisi Kanada. Baginya, Dion memenuhi peran itu dengan “all the verve you could hope for”.
Variety melalui Elsa Keslassy menyebut pertunjukan memiliki rasa yang spiritual. Menurut Keslassy, jeda visual disisipkan dengan imagery bernuansa Alkitab yang mengisyaratkan perjalanan spiritual atau ziarah.
Dalam klip video, Dion terlihat berjalan di hamparan seperti gurun. Desain panggung disebut sangat sinematik, dengan tangga monumental yang memanjang di satu sisi, sementara sebuah bulan mendominasi panggung. Bagian latar belakang tampil dengan tekstur abu-abu yang tampak tegas, hampir seperti gaya brutalist.
Janji untuk terus melangkah
Dion dikenal lewat lagu-lagu balada besar seperti “My Heart Will Go On” dan “Because You Loved Me”. Ia juga pernah menegaskan bahwa diagnosis tidak boleh mengendalikan hidupnya, melainkan menjadi bagian dari strategi untuk tetap bekerja.
Dalam pernyataan kepada French Vogue pada 2024, Dion mengatakan, “The way I see it, I have two choices. Either I train like an athlete and work super hard, or I switch off and it’s over,”. Ia menambahkan, “I’ve chosen to work with all my body and soul, from head to toe, with a medical team,”.
Menurut rencana yang disampaikan setelah pengumuman residensinya, Dion akan terus tampil di Paris sepanjang September dan Oktober, dan berlanjut hingga Tahun Baru.
Antisipasi penonton juga sudah terlihat sejak awal. Saat residensi Paris leg pertama diumumkan pada Maret, sekitar sembilan juta penggemar mendaftar untuk akses tiket lebih awal. Dari laporan FRI, tiket habis begitu cepat hingga manajemen mengumumkan tambahan 10 pertunjukan yang dijadwalkan pada Mei 2027 dan juga ludes terjual.
Meski ada yang tidak kebagian tiket, penggemar tetap mendapat ruang untuk merayakan comeback lewat ragam acara bertema Dion. Dalam beberapa pekan terakhir, kegiatan di Paris didominasi perayaan yang mengusung konsep penghormatan, termasuk pelayaran kapal di Sungai Seine lengkap dengan kontes kostum, sing-along, serta DJ set yang berlangsung sepanjang September.
Menjelang pertunjukan Sabtu, penggemar sudah berkumpul di luar hotel Dion di Paris, LeRoyal Monceau, sejak pukul 06:00 waktu setempat. Sementara itu, Paris City Hall menyelenggarakan acara karaoke besar pada Jumat malam yang dihadiri ribuan orang.
Reuters melaporkan salah satu peserta bernama Rania. Ia mengatakan tidak bisa mendapatkan tiket, namun tetap menjaga harapan. “I couldn’t get tickets to the concert. I’m still keeping my fingers crossed and hoping, but I thought to myself: at least I can share a moment here with all the fans,” ujarnya.
Minggu ini, ribuan penggemar juga berkumpul di sebuah teater bersejarah di pusat Paris selama dua malam untuk karaoke dan berbagai aktivitas yang terinspirasi dari musik Dion. Di malam Sabtu, sejumlah venue dan klub malam di Paris juga menggelar acara bertema Dion untuk penggemar yang belum mendapatkan tiket ke pertunjukan utama.












