jurnalistik.co.id – Produser film peraih Oscar, Jeremy Thomas, meninggal dunia pada usia 77 tahun. Kabar duka itu disampaikan oleh publikisnya dalam sebuah pernyataan.
Thomas “berpulang dengan tenang” dikelilingi keluarga dan orang-orang terkasih di kediamannya di Oxfordshire pada Jumat. Pernyataan tersebut menyebut ia wafat secara damai, tanpa menyertakan rincian tambahan di luar konteks saat kepergiannya.
Sepanjang kariernya, Thomas membangun reputasi internasional yang terbentuk lewat durasi kerja yang mencapai lima dekade. Ia dikenal aktif bekerja di berbagai proyek, dari film-film mandiri hingga produksi arus utama.
Dalam lintasan profesionalnya, Jeremy Thomas turut berkolaborasi dengan sejumlah nama besar, termasuk David Cronenberg, Nagisa Oshima, Julian Temple, dan Nicolas Roeg. Peran yang ia jalani tidak hanya terkait eksekusi produksi, tetapi juga memosisikannya sebagai penghubung kreatif antara sutradara dan visi film yang sedang dikerjakan.
Oscar lewat karya yang mengukir sejarah
Salah satu karya yang paling melekat pada publik adalah The Last Emperor garapan Bernardo Bertolucci. Film tersebut meraih sembilan Academy Awards, termasuk penghargaan untuk best picture, dan sekaligus menghadirkan Oscar untuk Thomas sebagai produser.
The Last Emperor adalah drama biografis tahun 1987 yang mengisahkan perjalanan penguasa terakhir Dinasti Qing di Tiongkok. Di dalamnya, Joan Chen berperan bersama Peter O’Toole dan Vivian Wu, dengan narasi yang menempatkan perubahan sosial dan politik sebagai benang utama.
Keberhasilan itu membuat Thomas semakin menonjol dalam industri film internasional. Selain meraih pengakuan tertinggi lewat produksi The Last Emperor, ia juga dikenal menjaga hubungan kerja berkelanjutan dengan Bertolucci dalam beberapa proyek berikutnya.
Kolaborasi berulang Thomas bersama Bertolucci melahirkan beberapa judul penting, antara lain The Sheltering Sky, Little Buddha, Stealing Beauty, dan The Dreamers. Rentang pilihan film yang beragam tersebut memperlihatkan kecakapan Thomas dalam mengelola proyek dengan karakter estetika dan pendekatan yang berbeda-beda.
Bekerja bersama sutradara lintas generasi dan gaya
Di luar hubungan dengan Bertolucci, Thomas juga kerap dipercaya untuk proyek-proyek yang dikerjakan oleh sutradara asal Britania Raya. Ia tercatat bekerja bersama Ben Wheatley, Jonathan Glazer, Stephen Frears, serta David Mackenzie pada tahap-tahap awal karier sejumlah pembuat film tersebut.
Berita Terkait
Daftar kredit Thomas juga mencakup berbagai film yang menampilkan kekuatan sinema dari sutradara dunia. Salah satunya adalah Merry Christmas, Mr Lawrence dari Nagisa Oshima, yang dibintangi David Bowie.
Dari rumah produksi yang terhubung dengan nama-nama besar Eropa dan internasional, Thomas turut menggarap karya-karya yang masuk dalam lanskap film auteur. Ia terlibat pada A Dangerous Method milik Cronenberg, serta Bad Timing dan Eureka arahan Nicolas Roeg.
Selain itu, Thomas ikut mengerjakan proyek-proyek lain seperti Fast Food Nation dan The Great Rock ’n’ Roll Swindle. Ia juga berpartisipasi dalam adaptasi film dari karya JG Ballard, termasuk Crash dan High-Rise, yang sama-sama dikenal karena tema dan pendekatan visualnya yang kuat.
Dari ruang potong hingga pengakuan formal
Jejak karier Jeremy Thomas berawal dari pengalaman praktis di ruang pemotongan (cutting room). Dari posisi awal tersebut, ia kemudian memperoleh peran produksi pertamanya pada film Australia Mad Dog Morgan yang dirilis tahun 1976.
Perjalanan kariernya kemudian terus meningkat seiring reputasinya sebagai produser yang mampu menyatukan kebutuhan produksi dengan tuntutan kreatif sebuah film. Ia menjadi sosok yang dapat merangkum kerja lintas budaya, mengingat karya-karyanya melibatkan beragam negara dan bahasa produksi.
Pada 2006, Thomas menerima penghargaan dari European Film Academy untuk Outstanding European Achievement in World Cinema. Ia kembali meraih pengakuan pada 2009 melalui gelar CBE yang diberikan dalam New Year Honours.
Karya terakhir yang menunggu penayangan
Di akhir masa kerjanya, Jeremy Thomas masih terlibat dalam kolaborasi yang dinantikan. Kabar terakhir menyebut ia bekerja bersama sutradara Jepang Takashi Miike untuk Bad Lieutenant:Tokyo.
Bad Lieutenant:Tokyo dijadwalkan untuk tayang perdana di Toronto Film Festival pada Senin, sehingga proyek tersebut menjadi penanda bahwa Thomas masih memiliki agenda profesional yang belum sempat ia saksikan hingga tahap penayangan. Dengan kepergiannya, industri film kehilangan salah satu produser yang selama puluhan tahun berdiri di garis depan produksi film-film berpengaruh.
Keberhasilan Thomas, terutama melalui The Last Emperor, meninggalkan warisan yang terus dikenang, baik dari sisi pencapaian penghargaan maupun dari jejak kolaborasinya bersama para pembuat film penting. Ia dikenal karena konsistensi dalam memilih proyek, serta kemampuannya menjaga kualitas produksi ketika film menuntut keberanian artistik.
Jeremy Thomas kini akan dikenang sebagai produser yang menjembatani banyak gaya sinema—dari drama epik sampai karya-karya bernuansa auteur—yang membuktikan bahwa produksi yang kuat dapat menjadi fondasi bagi film untuk meraih pengaruh jangka panjang.












