jurnalistik.co.id – Fenton Bailey, co-creator Drag Race, angkat bicara setelah BBC memutuskan menghentikan edisi Inggris dari acara tersebut. Ia menyatakan keprihatinannya terhadap dampak keputusan itu pada representasi kaum queer di televisi.
Bailey mengatakan ada “crisis of representation” di layar kaca, seraya menilai keputusan BBC tidak didorong “hidden agenda”. Namun, ia tetap mengkhawatirkan “vulnerable communities are going to be even more vulnerable”.
Dalam wawancara yang ia lakukan secara khusus kepada BBC News, Bailey juga menyinggung bahwa keputusan pemutusan tayang ini memantik perbincangan publik terkait komposisi konten LGBTQ+ di BBC. Kekhawatiran itu muncul setelah BBC sebelumnya juga membatalkan dua acara kencan LGBTQ+.
Menurut juru bicara BBC, langkah tersebut diambil karena “significant financial pressures” ketika lembaga penyiaran berupaya memenuhi target penghematan £500m. Selain Drag Race UK, pembatalan juga menyasar Celebrity Mastermind, Blankety Blank, dan Live at the Apollo, sekaligus pengumuman lebih dari 500 kehilangan pekerjaan.
WOW Presents Plus menjadi jalur berikutnya
Bailey merespons keputusan BBC ini dengan nada yang berhati-hati, sekaligus menyoroti perjalanan Drag Race menuju titik sekarang. Saat Drag Race UK diluncurkan pada 2019, ia menggambarkan momen kerja sama dengan penyiar nasional sebagai “very special homecoming” bagi perusahaan produksinya, World of Wonder (WOW).
Versi Amerika dari acara tersebut—yang juga dibuat bersama RuPaul Charles, Bailey, dan partner bisnis mereka Randy Barbato—telah tayang lebih dari 10 tahun dan menjadi sukses yang luas, termasuk puluhan penghargaan Emmy serta basis penonton internasional. Setelah delapan musim serta tiga spin-off, program itu akan berhenti disiarkan oleh BBC setelah musim yang sedang berjalan berakhir.
WOW menyatakan akan melanjutkan Drag Race UK lewat seri-seri mendatang, termasuk versi All Stars yang baru. Program tersebut direncanakan disiarkan secara eksklusif melalui layanan streaming milik perusahaan, WOW Presents Plus.
Bailey menilai situasi ini menegaskan kerentanan budaya queer di ruang publik. Ia mengingatkan, “Even at the best of times, queer culture is vulnerable and you can’t take anything for granted,” lalu menambahkan, “Just because a door opened yesterday doesn’t mean it won’t be slammed shut the next.”
Diskusi perpanjangan berbulan-bulan gagal
BBC News memahami ada pembicaraan untuk memperbarui kesepakatan siaran acara yang berlangsung berbulan-bulan. Para produser sempat berharap kesepakatan dapat dicapai, tetapi pembicaraan akhirnya gagal karena skala penghematan yang sedang dikejar lembaga penyiaran.
Bailey menyebut keputusan ini sebagai pertanda kondisi finansial yang sulit: “horrible financial situations” yang tengah dihadapi penyiar. Ia juga menambahkan, “The team at the BBC are amazing and so passionate about the show, this is not an easy thing for any of the people I interacted with, or something they wanted to do,”.
Drag Race UK, menurut Bailey, tercatat konsisten sebagai salah satu tayangan BBC Three yang paling populer. Ia merujuk data Barb Audiences yang menunjukkan rata-rata penonton untuk seri tersebut sempat meningkat pada periode 2022 hingga 2024, meski dalam empat tahun terakhir secara keseluruhan turun sekitar 15% di tengah tren penurunan konsumsi televisi yang lebih luas.
Berita Terkait
Bailey menekankan bahwa penurunan itu bukan runtuh drastis: angka tersebut, katanya, “haven’t plummeted”, melainkan bergerak sejalan dengan tayangan televisi terrestrial lain. Ia juga menyatakan jumlah penonton yang menyaksikan lewat media sosial meningkat, karena “that’s where the audience has gone.”
Ketika pengumuman pembatalan terjadi, sebagian penonton berspekulasi acara itu bisa diambil alih stasiun Inggris lain. Namun Bailey mengisyaratkan kreator acara mungkin lebih memilih berproses sendiri, dengan menyebut mereka menyukai kemitraan tetapi saat ini lebih mengutamakan kebebasan membuat acara sesuai keinginan, alih-alih “potentially be in the same situation a few more seasons down the road.”
Tekanan biaya memengaruhi ruang cerita LGBTQ+
Scott Bryan, kritikus televisi dan penulis buku Out Now: A Queer History of Modern Television, memandang langkah BBC ini menunjukkan betapa beratnya tekanan finansial yang sedang menimpa penyiar. Ia mengatakan, “I can imagine Drag Race is an expensive show to make,” dan menyatakan ia memahami tekanan yang dihadapi BBC, tetapi tetap merasa ini “rather concerning in regards to queer storytelling.”
Bryan menambahkan bahwa representasi kehidupan LGBTQ+ di sinetron dan drama jam tayang perdana memang bisa terlihat lebih kasual, namun menurutnya tetap diperlukan tayangan yang secara khusus melayani audiens queer. Ia menilai atmosfer yang muncul seperti “very quickly the drawbridge is pulling up.”
Ia juga mengaitkan keputusan ini dengan pembatalan acara kencan LGBTQ+ lain yang diumumkan BBC lebih awal, yaitu I Kissed a Boy dan I Kissed a Girl. BBC saat itu menyatakan mereka “exceptionally proud” dengan acara-acara tersebut, tetapi harus mengambil “difficult choices in light of our funding challenges”.
Sementara itu, Juno Dawson—penulis dan penulis skenario—menilai penonton mulai melihat pola perubahan yang berlangsung berurutan. Ia mengatakan, “I think that’s why perhaps eyebrows have been raised, because Drag Race hasn’t been cancelled in isolation. A couple of other LGBTQ+ shows have gone as well.”
Dawson menyatakan perasaan kecewa karena menurutnya BBC memiliki kewajiban yang lebih luas dibanding saluran komersial. Ia menegaskan, “It’s a shame this is happening at the BBC, because commercial channels don’t necessarily have an obligation to represent all the communities in the UK, but the BBC does and it’s supposed to represent all of us, including LGBTQ+ people.”
Dari sisi ekosistem industri, Dawson juga mengkhawatirkan menyusutnya ruang bagi cerita queer di Inggris. Ia mengutip laporan GLAAD—organisasi advokasi asal Amerika—yang menemukan representasi film turun untuk tahun ketiga berturut-turut, serta memperkirakan lebih dari 200 karakter televisi LGBTQ+ akan hilang dari layar pada 2026 akibat pembatalan, berakhirnya tayangan, atau format serial terbatas.
Walau angka serupa untuk Inggris tidak dihimpun dalam laporan yang ia sebut, Dawson tetap khawatir industri yang menyempit akan membuat proses pemesanan cerita LGBTQ+ menjadi lebih sulit bagi para pengambil keputusan. Ia berkata, “So many of my personal shows have gotten right up to green light, but for lots of different reasons, different commissioners – not just at the BBC – have decided to back away,” serta menambahkan, “Nobody is ever going to say to you ‘it’s because it was too niche’, but all I can keep doing is writing television that feels true to me and represents me and my life.”
Di saat yang sama, BBC juga menyampaikan bahwa Smoggie Queens—tayangan yang menampilkan karakter dengan dominasi LGBTQ+—akan kembali untuk musim ketiga. Program itu, kata BBC, ikut merepresentasikan komunitas melalui alur cerita yang juga tampak pada tayangan seperti Mr Loverman, Amandaland, Vigil, dan EastEnders.
Drag Race sendiri dikenal dengan humor camp dan kilau glamor, tetapi sejumlah episode juga membahas isu-isu serius yang dekat dengan pengalaman banyak peserta. Dari identitas non-biner dan trans hingga persoalan penyalahgunaan zat serta realitas hidup dengan HIV, acara ini kerap menggabungkan hiburan dengan pembahasan yang lebih berat.
Menurut Dawson, “There’s something very clever about Drag Race,” karena penonton datang untuk “the sequins and the sparkles”, namun di balik itu mereka berhadapan dengan topik-topik besar yang penting. Ia merangkum, acara seperti ini membuat hiburan mampu menjadi wadah diskusi mendalam tanpa kehilangan daya tariknya.











