jurnalistik.co.id – Rencana mengubah rumah masa kecil David Bowie di Bromley menjadi pusat pengunjung mendapat penolakan dari sejumlah warga sekitar. Mereka menilai skema tersebut berpotensi mengubah suasana jalan perumahan yang selama ini tenang, terutama karena proyeksi jumlah pengunjung yang besar.
Kelompok Heritage of London Trust (HOLT) mengajukan permohonan kepada Dewan Bromley untuk memulihkan rumah bernomor 4 Plaistow Grove—tempat Bowie tinggal sejak usia delapan tahun hingga ia meninggalkan rumah. Selain pemugaran bangunan, HOLT juga berencana membangun pusat pengunjung di area taman rumah tersebut.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi menyatakan keberatan karena proyek diperkirakan akan menarik sekitar 20.000 orang setiap tahun. Bagi mereka, angka itu terlalu tinggi untuk sebuah kawasan suburban yang relatif sepi dan berkarakter permukiman.
Menurut pihak yang menolak, rencana tersebut juga belum mempertimbangkan secara memadai aspek akses masuk, pengaturan tempat parkir, serta rencana kegiatan pada malam hari. Mereka berpendapat detail operasional yang berpotensi berdampak langsung pada keseharian warga belum dijelaskan secara meyakinkan.
Ruth Dickie, yang tinggal di rumah nomor 6 berdampingan, menyampaikan keberatan karena ukuran dan posisi bangunan pusat pengunjung. Ia menyoroti bahwa pusat seluas 14 sq m itu akan berdiri setinggi 3 meter, menempel berhadapan dengan pagar taman, serta “rise almost a metre above it”.
Dickie mengatakan sejak rencana diumumkan ia merasa sangat tidak nyaman dan mempertimbangkan untuk pindah. Ia menyatakan, “He had Parkinson’s and dementia so this was a safe place for him. The garden here was our solace. I pottered while he sat,” seraya menambahkan bahwa sejak pengumuman rencana tersebut ia merasa “sick” dan sedang mempertimbangkan kemungkinan meninggalkan rumah yang ia tempati bersama suaminya, Jim, yang meninggal dua tahun lalu.
Sementara itu, HOLT menyatakan proyeknya akan memberi manfaat bagi lingkungan. Dalam penjelasannya, HOLT menyebut rencana tersebut akan “bring value to the area”. Trust juga menegaskan desain pusat pengunjung selaras dengan bangunan taman lain di area sekitar, serta “designed ‘explicitly to reduce our impact on nearby properties’”.
HOLT menambahkan langkah mitigasi yang dimaksudkan untuk menekan dampak visual maupun suara. Mereka menyatakan, “By ensuring that visitors are kept on site, briefed within an enclosed building, and spend a limited amount of time within the garden, we will all act to reduce both visual and auditory impact for our neighbours.”
Berita Terkait
Warga lain menilai proses komunikasi sejak awal tidak berjalan seperti konsultasi yang semestinya. Mereka mengaku mengetahui skema hanya saat pengumuman dibuat pada bulan Januari, dan pertemuan lanjutan justru terasa seperti rangkaian acara pamer ketimbang ruang diskusi.
Ollie Pain, yang tinggal di jalan yang sama, menilai sikap penyelenggara proyek terlalu mengabaikan keberatan warga. Ia mengatakan, “We’re not saying it’s a terrible idea and it can never happen, but rather the people who are running the outfit are dismissive and arrogant and the plan in its current form is not viable.”
Penolakan paling tegas juga diarahkan pada rencana lokasi akses masuk. Warga menyebut pintu masuk yang diusulkan berada di sebuah lorong belakang yang selama ini dipakai penduduk untuk menuju kebun mereka sekaligus digunakan pub Crown untuk pengiriman.
Di lokasi lorong itu, menurut warga, terdapat empat tempat sampah industri. Mereka menilai tempat sampah tersebut “do not appear in the planning documents” dan mempertanyakan bagaimana pengelola proyek akan menangani situasi tersebut apabila akses lorong benar-benar dipakai sesuai rencana.
HOLT disebut tidak memberi respons ketika ditanya mengenai apa yang akan dilakukan terhadap tempat sampah industri yang dimaksud. Selain itu, pengelola pub Crown—yang meminta namanya tidak disebut—menyebut rencana tersebut “horrendous” dan menyatakan tidak ada lokasi lain untuk memindahkan tempat sampah itu.
Dalam penjelasan alternatif, HOLT menyatakan pengunjung akan diarahkan menuju tempat parkir yang berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki, serta diarahkan juga ke stasiun kereta. Trust menambahkan bahwa mereka sedang berdiskusi secara “in ‘detailed conversation’” dengan dewan terkait urusan mobilitas dan perjalanan pengunjung.
Pemohon juga meminta izin untuk menyelenggarakan hingga 10 acara pada malam hari setiap tahun, dengan perkiraan sekitar 45 orang per kegiatan. HOLT menyebut kebutuhan ini berkaitan dengan keberlanjutan finansial setelah jam operasional yang semula direncanakan dipangkas.
Trust juga mengklaim telah menjaga kontak rutin dengan warga dan menggelar empat kegiatan sejak Januari. Di sisi proses perizinan, dewan telah menerima 58 surat keberatan dan tujuh surat dukungan.
Keputusan atas permohonan HOLT diperkirakan akan diumumkan pada akhir September. Bagi warga yang menolak, yang menjadi sorotan bukan sekadar gagasan atraksi, melainkan dampak konkret pada akses, arus pengunjung, serta perubahan suasana lingkungan perumahan yang selama ini mereka jaga.








