Entertainment

Yayoi Kusama tutup usia 97 tahun, seniman avant-garde Jepang

×

Yayoi Kusama tutup usia 97 tahun, seniman avant-garde Jepang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Yayoi Kusama: Japanese avant-garde artist dies aged 97

jurnalistik.co.id – Yayoi Kusama, seniman avant-garde Jepang yang terkenal lewat karya-karya patung dan instalasi, telah meninggal dunia pada usia 97 tahun.

Menurut konfirmasi perusahaannya, Kusama berpulang di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026.

Kabar duka dari pihak keluarga

Dalam pernyataannya, perusahaan Kusama menyampaikan “with profound sorrow… the passing of Yayoi Kusama at a hospital in Tokyo on August 14, 2026, at the age of 97”.

Ia juga disebut menghabiskan “Throughout an extraordinary lifetime devoted entirely to artistic creation” dengan menjalani karier yang diakui secara internasional sebagai pionir seni avant-garde.

Praktik seninya mencakup karya seni visual, performans, fiksi, hingga puisi.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Kusama terus melukis hingga hari-hari terakhir, “never setting aside her brush”, serta tetap mengekplorasi “forever love and eternal soul”.

Pihaknya menyebutkan, “We will carry forward Kusama’s wishes and, through art, continue to bring hope and strength for the future to people around the world.”

Karya yang membentuk identitas visualnya

Selama bertahun-tahun, Kusama dikenal dengan wig berwarna merah cerah dan busana bermotif polkadot yang khas.

Ia juga menjalani perawatan kesehatan jiwa secara sukarela di sebuah fasilitas psikiatri selama puluhan tahun, namun tetap berkarya.

Kisahnya menjadi semakin menonjol karena ia mampu menjaga ritme penciptaan meski berada dalam lingkungan medis.

Dalam penjelasan pernyataannya, Kusama “continued exploration” dan tetap aktif mengolah gagasan, termasuk melalui cara pandang yang berakar pada pengalaman batinnya.

Dari keterisolasian hingga sorotan dunia

Meski kemudian menjadi salah satu figur seni paling dikenal di dunia, Kusama sempat lama kurang mendapat perhatian.

Di New York pada era 1960-an, ia dinilai buruk dalam sebuah kancah seni yang disebut didominasi budaya maskulin.

Ia kemudian memancing perhatian melalui pameran karya-karya yang menonjolkan unsur maskulin, termasuk patung-patung bertema seksual seperti couch berbahan kain, serta sering menampilkan ketelanjangan.

Pada 1965, karyanya yang dikenal sebagai “Infinity Mirror Rooms”, dengan cermin dan lampu yang menciptakan ruang seolah tak berujung, menarik jutaan pengunjung.

Setelah itu, karya bertema polkadot dan labu menjadi makin dicari.

Namun, Kusama juga dilaporkan mengalami tekanan ketika idenya disalin atau “inspired” oleh seniman laki-laki sezamannya.

Narasi tersebut menyebut sejumlah nama seperti Andy Warhol, Claes Oldenburg, dan Lucas Samaras, yang karya-karyanya kemudian dipamerkan di galeri yang lebih bergengsi.

Di Jepang sendiri, ketelanjangan dalam karya-karyanya juga kerap memicu penolakan dan cibiran.

Rumah sakit, terapi seni, dan babak berikutnya

Setelah bertahun-tahun menyaksikan seniman laki-laki mendapatkan pengakuan atas gagasannya, Kusama kembali ke Jepang dalam keadaan tertekan dan terpuruk.

Ia masuk fasilitas psikiatri untuk menerima perawatan bagi penyakit mental, lalu tinggal dan bekerja di sana selama sisa hidupnya.

Ia dikisahkan menemukan rumah sakit yang dokter-dokternya tertarik pada terapi seni, sehingga lingkungan tersebut memungkinkan Kusama kembali membuat karya.

Sepanjang dekade 1970-an hingga awal 1980-an, karyanya menampilkan rangkaian kolase yang lebih gelap dari kebiasaannya, dengan tema siklus hidup alami.

Pengakuan nasional dan panggung internasional

Kusama kemudian menjadi seniman solo pertama dari Jepang yang mewakili negaranya pada Venice Biennale 1993.

Kesuksesan pameran itu mendorong perubahan besar dalam cara ia dipandang, baik di Jepang maupun di luar negeri.

Sebuah lukisannya dilaporkan terjual sekitar $10.5m (ÂŁ7.7m) dalam lelang pada 2022.

Selanjutnya, karya Kusama tampil di museum-museum besar dan terlibat dalam kolaborasi dengan brand mewah, termasuk Louis Vuitton.

Pengalaman masa kecil dan motif labu

Sejak kecil, Kusama mengalami halusinasi berupa bara yang berkelip dan munculnya kilatan.

Ia kemudian menggunakan seni sebagai medium agar orang lain dapat memahami pandangannya tentang dunia.

Dari autobiografinya, Kusama menulis: “One day, after seeing a tablecloth with a red flower pattern on a desk, I saw the same red flower pattern all over the ceiling, windows and pillars. It filled the room, and covered my body,”.

Kusama lahir pada 1929 di kota pedesaan Matsumoto, yang berada di wilayah Nagano bagian tengah.

Orang tuanya tidak mendukung langkah awalnya untuk belajar melukis di Kyoto, dan kemudian ia diberitahu bahwa kecenderungan seninya membuat keluarga konservatifnya merasa sangat malu.

Pemberitaan pers AS juga disebut mengkritik apa yang mereka anggap sebagai hasrat yang tak ada habisnya untuk publisitas—baik melalui pesan yang mempromosikan perdamaian maupun kritik terhadap kemapanan seni.

Namun, persepsi dunia, termasuk di Jepang, dilaporkan berubah secara radikal pada masa hidupnya yang kemudian.

Minat publik meningkat pesat beberapa tahun belakangan, dipicu oleh media sosial yang menjadikan bentuk bunga berani dari museum dan bola-bola baja mengkilap sebagai latar yang diidamkan untuk swafoto dan berpose.

Di antara banyak motifnya, labu menjadi ikon dalam karya-karyanya.

Menurut Kusama, sayur itu melambangkan kenyamanan dan nostalgia.

Ia pernah mengatakan dalam sebuah wawancara, “Pumpkins speak to me.”

Ia juga menambahkan, “They embody a sense of stability and gives me peace of mind.”

Di kampung halamannya, Naoshima, pengunjung yang datang dengan feri disambut oleh patung “Red Pumpkin” yang berada di luar ruang dan tertutup polkadot hitam tebal.