Hukum & Kriminal

5 Hari Setelah Dakwaan Kriminal AS, Huawei Dipastikan Pindahkan Rp20 Triliun dari London

×

5 Hari Setelah Dakwaan Kriminal AS, Huawei Dipastikan Pindahkan Rp20 Triliun dari London

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Huawei Terbukti Pindahkan Rp20 T per 5 Hari Setelah Didakwa Kriminal

jurnalistik.co.id – Huawei disebut memindahkan dana senilai US$1,3 miliar (sekitar Rp20 triliun) dari rekeningnya di London, hanya lima hari setelah pemerintah Amerika Serikat secara resmi mendakwa perusahaan asal China itu.

Menurut laporan yang terungkap dalam penyelidikan jurnalis internasional, pemindahan dilakukan secara mendadak pada akhir pekan dan diproses dalam waktu beberapa jam.

Pergerakan dana tersebut juga disebut melewati rangkaian prosedur pengawasan keuangan yang semestinya berlaku. Namun, pelaksanaan transaksi tetap berjalan setelah kantor pusat bank di Beijing memberikan instruksi agar proses tidak dihentikan.

Temuan ini muncul dari dokumen rahasia yang ditinjau oleh Konsorsium Jurnalis Penyelidikan Internasional (ICIJ), dan peristiwa tersebut diletakkan pada 2 Februari 2019.

Pada tanggal itu, sembilan petugas bank diminta masuk bekerja di hari Sabtu untuk menyelesaikan pemindahan dana Huawei. Upaya tersebut terjadi beberapa hari sebelum proses hukum di AS benar-benar bergulir.

Dokumen yang sama menyebutkan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah mengajukan dakwaan resmi terhadap Huawei sebelum kejadian itu. Perusahaan dituduh melakukan tindakan kriminal berupa penipuan, pelanggaran sanksi internasional, serta pencucian uang.

Dalam konteks penegakan hukum AS, Direktur Keuangan Huawei, Meng Wanzhou, juga telah ditangkap di Kanada atas permintaan Amerika Serikat.

Kendati menghadapi situasi tersebut, Bank Industri dan Komersial China (ICBC) cabang London justru memproses permintaan penarikan seluruh simpanan Huawei secara mendesak, alih-alih menunggu penjelasan atau membekukan dana sementara.

Catatan internal bank mencatat adanya kekhawatiran bahwa Huawei berusaha memindahkan aset agar tidak dibekukan oleh otoritas penyidik sanksi Amerika Serikat.

“Ada kemungkinan Huawei berusaha memindahkan dana agar terhindar dari pembekuan aset oleh penyidik sanksi Amerika Serikat,” tulis petugas pencegahan pencucian uang ICBC London dalam laporan internalnya.

Namun, peringatan itu disebut diabaikan. Di sisi lain, kantor pusat di Beijing memerintahkan transaksi tetap dilaksanakan.

ICBC diuraikan sebagai bank BUMN terbesar di China. Dalam dokumen terungkap, Huawei diperlakukan sebagai “klien strategis” yang mendapat sejumlah kelonggaran atau perlakuan istimewa.

Akibatnya, aturan pemeriksaan yang biasanya ketat justru kerap dikesampingkan atas arahan dari Beijing. Di London, petugas kepatuhan juga disebut sempat meminta penundaan transaksi sampai ada kejelasan asal-usul dana, tetapi manajemen menolak.

Pemindahan dana berlangsung di luar jam kerja resmi tanpa pemeriksaan menyeluruh. Setelah itu, bank disebut membuka rekening baru bagi Huawei di negara lain untuk memudahkan pergerakan keuangan.

Seorang pengamat keuangan kemudian menilai bahwa bank milik China bisa beroperasi dengan aturan yang berbeda dibanding bank-bank internasional lain. “Jika harus memilih mengikuti peraturan pengawas negara tempat beroperasi atau perintah dari partai di Beijing, yang menang adalah Beijing,” ungkapnya.

Hampir tujuh tahun setelah peristiwa itu, sidang pengadilan terhadap Huawei baru dimulai di New York pekan ini. Jaksa penuntut menyatakan bahwa selama puluhan tahun perusahaan beroperasi dengan pola kebohongan dan penipuan, serta menyebut Huawei sebagai organisasi kriminal.

Pihak pembela menolak tuduhan tersebut dan menyampaikan bahwa keberhasilan perusahaan diperoleh melalui kerja keras, bukan kejahatan.

Benang merah dukungan finansial

Dalam proses yang sama, terungkap pula bahwa ICBC telah menyalurkan pinjaman lebih dari US$2 miliar untuk proyek-proyek Huawei di berbagai negara sejak tahun 2003. Disebutkan pula keterlibatan di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan India.

Rangkaian dukungan finansial itu, menurut uraian dokumen, memungkinkan Huawei menawarkan perangkat jaringan dengan harga murah ke seluruh dunia sekaligus memperluas pengaruh teknologi China di berbagai benua.

Dengan demikian, pemindahan dana miliaran dolar yang dilakukan secara diam-diam tidak diposisikan sekadar sebagai urusan keuangan rutin. Peristiwa ini digambarkan sebagai gambaran bagaimana kekuatan pendanaan dapat dipakai untuk melindungi perusahaan strategis, bahkan ketika perusahaan tersebut sedang berhadapan dengan proses hukum di negara lain.