jurnalistik.co.id – Dua pria dijatuhi hukuman penjara atas pembunuhan Federico Martin Aramburu, mantan pemain rugby internasional Argentina, dalam kasus penembakan fatal di Paris pada 2022.
Dalam sidang di pengadilan Paris pada Jumat, Loik Le Priol (32), yang menembakkan tembakan mematikan, divonis 26 tahun penjara. Romain Bouvier (35), yang semula lebih dulu membuka tembakan, menerima hukuman 19 tahun.
Menurut berkas perkara, Aramburu tewas dalam penembakan jenis drive-by pada 2022, setelah terjadi pertengkaran di sebuah bar pada pagi hari dekat Boulevard Saint-Germain. Aramburu sempat tercatat pernah bermain lebih dari dua puluh pertandingan untuk timnas Argentina.
Selama persidangan berakhir, Le Priol menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Aramburu. Ia menyinggung kunjungan Paus Leo XIV ke Prancis dan menyatakan, “I’m Christian like you, the pope is here today”. Ia melanjutkan, “I don’t know if it’s a sign… [I] hope one day you can find the strength to forgive me”.
Federico Martin Aramburu wafat pada usia 42 tahun. Ia mencatat 22 penampilan untuk Argentina, termasuk tampil pada Piala Dunia 2007 di Prancis, ketika ia mencetak try melawan tuan rumah yang membantu negaranya finis di posisi ketiga.
Karier Aramburu juga mencakup periode bersama klub-klub Prancis, yakni Perpignan, Biarritz, dan Dax. Setelah itu, ia bergabung dengan Glasgow Warriors pada tahun 2010.
Dalam investigasi, polisi menelaah rekaman CCTV pada 19 Maret 2022. Rekaman menunjukkan Aramburu dan rekan setimnya dalam dunia rugby, Shaun Hegarty, duduk di sebuah bar yang berhadapan dengan Le Priol dan Bouvier pada waktu tersebut.
Rekaman tersebut memperlihatkan adanya perselisihan antara dua kelompok pria. Setelah dua mantan pemain rugby itu berjalan menuju hotel, Le Priol dan Bouvier mengendarai kendaraan untuk mencari mereka kembali, lalu membuka tembakan.
Berita Terkait
Aramburu dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Le Priol kemudian ditangkap di Hungaria ketika mencoba menyeberang perbatasan menuju Ukraina. Ia mengatakan kepada polisi Hungaria bahwa ia hendak pergi ke Ukraina untuk berperang.
Jaksa dan pembelaan juga mengulas keterkaitan para terdakwa dengan kelompok ekstremis sayap kanan pada saat peristiwa terjadi. Pada saat itu, Le Priol dan Bouvier disebut memiliki tautan ke kelompok tersebut, dan kelompoknya sejak itu dinyatakan sudah bubar.
Di ruang sidang, pihak pembela menyampaikan penjelasan kejiwaan. Kasus Le Priol, menurut pembelaan, dipengaruhi post-traumatic stress disorder. Sementara itu, kasus Bouvier dikaitkan dengan trauma masa kecil.
Meski demikian, pengadilan menilai lain. Le Priol digambarkan sebagai “animated by the will to kill”. Hakim juga menyatakan, “The narcissistic, intrusive and uncontrollable rage of Loik Le Priol ultimately led to the gratuitous killing of Mr. Aramburu,”.
Sementara itu, Maria, janda Aramburu, menyampaikan harapannya agar vonis yang dijatuhkan dapat memungkinkan dirinya dan tiga anak mereka “to build their lives as adults”. Permintaan tersebut menjadi salah satu sorotan saat persidangan mendekati akhir.
Dengan vonis yang dijatuhkan, kasus ini menutup rangkaian proses hukum terkait penembakan yang berujung kematian Aramburu—sebuah peristiwa yang mengguncang komunitas rugby dan mempertemukan unsur konflik di jalanan dengan pembahasan motif, keadaan psikologis, serta tanggung jawab pidana para terdakwa.
Di persidangan, uraian jaksa menyoroti rangkaian peristiwa yang berawal dari insiden di bar, lalu berlanjut dengan serangan penembakan yang dikategorikan sebagai drive-by pada 2022. Penyelidikan juga menempatkan rekaman CCTV pada 19 Maret 2022 sebagai salah satu dasar untuk memetakan posisi dan pergerakan para pihak sebelum tembakan dilepaskan.
Sementara itu, tim pembela menekankan dimensi psikologis para terdakwa, dengan menyebut Loik Le Priol terdampak post-traumatic stress disorder, dan menautkan Romain Bouvier pada trauma masa kecil. Pengadilan kemudian mengambil sudut pandang berbeda, menilai motif dan eskalasi tindakan bersifat sengaja, sehingga putusan menutup proses hukum terkait kasus yang mempertemukan unsur konflik jalanan dan pertanggungjawaban pidana.











