jurnalistik.co.id – Keluarga Nicholas Brandram, yang diduga terkait kasus yang dijuluki “Putney pusher”, menyampaikan versi mereka kepada BBC. Menurut keterangan saudara perempuannya, Brandram tidak sesuai dengan deskripsi polisi dan polisi dinilai tidak bertindak cukup cepat untuk membersihkan namanya.
Brandram ditemukan meninggal pada Selasa malam. Keluarganya mengatakan ia “mengambil nyawanya sendiri” setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan besar yang dipicu proses penyelidikan.
Dalam program BBC Radio 4 Today, dua saudaranya—Alexia Hicks dan Sophie Voelcker—berbicara kepada pembawa acara Justin Webb. Mereka menilai penanganan pihak Metropolitan Police tidak sejalan dengan kebutuhan untuk memastikan kebenaran identitas tersangka.
Hicks dan Voelcker menyebut adanya kekeliruan pada awal proses yang melibatkan nama Brandram. Keduanya mengatakan bahwa saudara mereka tidak cocok dengan deskripsi yang disebutkan polisi terkait perkara yang disebut “Putney pusher”.
Selain membantah kecocokan deskripsi, saudara Brandram juga mengkritik respons kepolisian. Mereka menyatakan pihak kepolisian menunjukkan “no urgency” atau tidak ada urgensi untuk segera memulihkan nama baik Brandram.
Menurut keterangan Hicks dan Voelcker, tuduhan terhadap Brandram membuat kondisi mentalnya memburuk setelah ia ditangkap. Dalam wawancara tersebut, mereka bahkan menuduh Metropolitan Police bersikap “negligent and reckless”.
Dua saudari Brandram juga mempertanyakan mengapa tes DNA tidak segera dilakukan. Mereka menyoroti bahwa tes tersebut, sebagaimana mereka yakini, berpotensi membuktikan ketidakbersalahan Brandram.
Voelcker dan Hicks mengungkapkan kekhawatiran soal langkah yang seharusnya mempercepat klarifikasi statusnya di tahap penyelidikan. Di mata mereka, keputusan untuk tidak melaksanakan tes DNA turut memperpanjang tekanan yang dialami keluarga.
Berita Terkait
Dalam penjelasan yang disampaikan kepada Today, mereka menggambarkan rangkaian dampak yang tidak hanya terkait proses hukum. Fokusnya, kata mereka, terletak pada konsekuensi terhadap kondisi psikologis Brandram setelah penangkapan, yang kemudian makin berat di tengah ketidakpastian.
Keluarga Brandram menyampaikan bahwa kematian tersebut terjadi setelah periode tekanan panjang. Mereka mengaitkan tekanan tersebut dengan investigasi yang berjalan dan keadaan yang menurut mereka tidak memberi ruang untuk pembuktian lebih cepat melalui DNA.
Pada bagian wawancara program tersebut, Hicks dan Voelcker juga menegaskan keberatan mereka terhadap cara perkara diposisikan sejak awal. Dengan menyatakan Brandram tidak sesuai deskripsi polisi dan mengkritik lambannya klarifikasi, mereka berharap perhatian publik tidak berhenti pada label tersangka semata.
Berita ini muncul dari percakapan yang berlangsung di BBC Radio 4 Today. Melalui kesaksian keluarga, kasus yang disebut “Putney pusher” kembali mendapat sorotan terkait proses penyelidikan, termasuk langkah verifikasi seperti tes DNA dan kecepatan upaya membersihkan nama.
Dalam penuturan keluarga, inti keberatan mereka terletak pada rangkaian proses yang, menurut mereka, berjalan terlalu lambat untuk mengoreksi kekeliruan identitas. Mereka menggambarkan bahwa setelah penangkapan, tekanan yang terus berlangsung justru membuat keadaan psikologis Brandram makin tidak stabil, hingga memuncak pada kematiannya pada Selasa malam.
Pada kesempatan yang sama, para saudari juga menyoroti bahwa pihak kepolisian tidak cukup cepat mengarah pada langkah verifikasi yang dapat memperjelas situasi. Mereka menilai ketidakjelasan status tersebut diperparah oleh keputusan untuk tidak segera melakukan tes DNA, yang, menurut keyakinan keluarga, dapat menjadi jalan untuk membuktikan ketidakbersalahan.
Lebih jauh, Hicks dan Voelcker menilai cara perkara diposisikan sejak awal membuat narasi publik terlalu cepat melekat pada label tersangka. Dengan menekankan adanya “no urgency” dan menyebut sikap kepolisian “negligent and reckless”, mereka ingin perhatian tidak berhenti pada sebutan kasus, tetapi juga pada upaya mempercepat klarifikasi.
Keluarga juga menggambarkan bahwa dampak yang mereka soroti bukan hanya persoalan prosedur hukum, melainkan konsekuensi yang mengalir ke kehidupan sehari-hari dan ruang psikologis Brandram selama penyelidikan. Ketika proses berlangsung di tengah ketidakpastian, tekanan yang menurut mereka dapat dikurangi melalui pengujian DNA justru terus bertambah.












