jurnalistik.co.id – Meena Geltink dan Minal Tijssen sempat menjalani persahabatan yang terasa seperti takdir, meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga berbeda. Tes DNA kemudian membuktikan bahwa dua perempuan yang pernah saling mengenal sebagai “sahabat” itu ternyata saudara kandung.
Keduanya lahir pada awal 1980-an dan diadopsi saat masih bayi dari panti asuhan di Mumbai. Meena dan Minal berasal dari dua panti yang berbeda, serta dibesarkan di Belanda oleh dua keluarga Belanda yang juga berbeda, tetapi jarak tempat tinggal mereka ternyata cukup dekat.
Ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya pada usia remaja awal, di sebuah acara yang diselenggarakan oleh agen adopsi yang pernah digunakan orang tua mereka, keduanya langsung merasakan kedekatan yang sulit dijelaskan. Mereka tertegun oleh kemiripan penampilan dan cara bertingkah yang terasa “tidak wajar” sebagai kebetulan.
Meena, yang saat ini berusia 43 tahun, menceritakan bahwa suasananya seperti pertemuan untuk menjalin ikatan. Ia mengingat detailnya, “All the adopted children were brought together to hang out and bond and have dinner.”
Dalam momen itu, teman-teman mereka juga turut memperhatikan kesamaan mereka. Meena menyebut, “They said, ‘Look at yourselves in the mirror’. ”
Ia lalu menambahkan reaksi spontan yang masih diingatnya sampai sekarang. “And I was like, ‘Oh my God, she has my nose! We have the same laugh’. ”
Menurut Meena, sepanjang makan malam ia terus menatap Minal. “At dinner, I kept looking at her the whole time,” katanya dalam wawancara dari rumahnya di Belanda.
Keesokan harinya, keduanya saling bertukar nomor telepon dan alamat. Mereka berjanji untuk tetap berhubungan, meski pada saat itu tidak ada petunjuk bahwa hubungan mereka memiliki dasar biologis.
Mereka tidak hanya berkomunikasi dengan intensitas yang terjaga, tetapi juga membangun dunia bersama melalui surat-surat yang panjang. Bertahun-tahun lamanya, mereka sering menyapa satu sama lain dengan sebutan “Sis”, karena, menurut Meena, “we felt that way”.
Isi surat mereka mencakup berbagai bagian hidup sehari-hari: sekolah, teman, hubungan asmara, hingga kebiasaan keluar bersama dan menari. Mereka juga berdiskusi tentang olahraga yang digeluti serta musik yang mereka sukai, termasuk fakta bahwa keduanya sama-sama menyukai Backstreet Boys.
Namun setelah kurang lebih 15 tahun, hubungan itu mereda dan akhirnya terputus. Minal pindah ke Prancis, sedangkan Meena semakin sibuk karena baru memiliki anak pertamanya.
Memori itu mulai bergeser ketika pada 2017 Meena menghadiri pertemuan sesama adopsi dari India. Di sana ia mendengar tentang tes DNA, lalu memutuskan mengambil langkah serupa. Tetapi pada pengujiannya, ia tidak menemukan pasangan yang cocok.
Ia bahkan sempat menghapus aplikasi terkait karena ruang penyimpanan ponselnya penuh. Meski begitu, cerita mereka kembali bergerak pada awal musim ini.
Pada 20 Mei, Meena menerima pesan dari Minal melalui Facebook. “’Remember me?’ she asked,” tulis Meena mengingat isi pesan tersebut.
Ternyata Minal sudah lebih dulu melakukan tes DNA pada April, ketika ia sedang berkunjung ke orang tuanya di Belanda. Ia menyertakan tangkapan layar hasil tes tersebut ke pesan yang dikirimkan.
Meena menggambarkan proses masuk aplikasi yang membuatnya gugup. “I reinstalled the app. I was so nervous I entered wrong passwords 10 times before I was able to log in,” katanya.
Hasilnya, menurut Meena, tidak menyisakan ruang keraguan. Ia menyebut hasil itu berbunyi “a 100% match”.
Meena menjelaskan arti kecocokan tersebut dengan detail yang kuat. “I had a ‘full sister’ which means we shared the same biological mother and father,” ujarnya.
Reaksi emosionalnya pun langsung meledak. “It was like I had an adrenalin shot. I cried.”
Dalam penjelasannya, Minal menjadi seperti bagian teka-teki yang selama ini tidak ia temukan. “Minal was my missing puzzle piece I had waited so long for.”
Meena menegaskan bahwa mereka memang sejak awal saling memanggil saudara. “We had called each other sister.”
Baginya, hasil DNA itu sekaligus mengonfirmasi bahwa intuisi mereka selama ini benar. “This DNA match was the confirmation that all our intuition was right.”
Ditemukan kembali, lalu bertemu sebagai keluarga
Berita Terkait
Pada hari yang cerah di bulan Agustus, dua perempuan “lama” itu akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah mengetahui bahwa mereka saudara kandung. Meena menyebut pertemuan itu terasa seperti kembalinya sesuatu yang seharusnya ada sejak lama.
“It was amazing. It felt like homecoming,” kata Meena, yang kini menjadi ibu dari tiga anak.
Ia menggambarkan bahwa selama bertahun-tahun, mereka merasa ada ruang kosong yang besar di dalam hati. “For years, Minal and I had felt a big hole in our hearts.”
Dengan kejelasan hubungan darah, keduanya merasa hidup mereka “lengkap”. “We feel like we’ve been completed. Everything now feels like it’s supposed to be.”
Reuters, saat melaporkan “emotional reunion” mereka, menulis, “tears, hugs and laughter punctuated their meeting… followed by their first selfie together”.
Minal, yang berusia 44 tahun dan tinggal di Prancis bersama pasangan serta dua putra, menyampaikan kepada agensi bahwa ketika hasil DNA keluar pada April, ia pada awalnya tidak menyadari bahwa kecocokan itu adalah perempuan remaja yang selama ini menempel padanya saat mereka pertama kali bertemu 30 tahun lalu.
Ia baru menyadari hubungan itu saat meninjau kembali foto-foto mereka di media sosial. “’Meena: Sister.’ I couldn’t believe it. We were friends before we were sisters. ”
Minal menyimpulkan pengalamannya dengan kalimat yang tegas. “We were sisters the whole time,” she said, “but we didn’t know.”
Meena dan Minal dibesarkan oleh dua keluarga Belanda berbeda, dan keduanya mengakui bahwa kemiripan gerak maupun kebiasaan mereka sering terasa seperti pola yang sama, meski waktu itu mereka tidak punya dasar untuk menamai hubungan tersebut.
Meena mengatakan bahwa ia tumbuh di sebuah desa kecil di Belanda. Ia dibesarkan oleh orang tua yang bekerja sebagai pengajar di sekolah swasta.
Ia menekankan kedekatan perannya dengan orang tuanya. “They were also my teachers,” she says. “They were very loving people, very trusting.”
Ayah Meena meninggal beberapa tahun lalu, tetapi ibunya masih tinggal di desa yang sama. “We talk every day. She’s still my safe space,” tambahnya.
Pada tahun 2003, ketika berusia 19 tahun, Meena sempat mengunjungi panti asuhan di Mumbai bersama orang tuanya dan seorang saudara laki-laki yang juga diadopsi, berasal dari Goa. Saat itu, mereka meluangkan waktu dua minggu untuk menelusuri catatan.
Meena menjelaskan alasan keinginannya mencari latar biologis. “because for me it was important to know where I came from. ”
Meski berusaha, panti asuhan tidak bersedia memberikan rincian mengenai orang tua biologisnya. “But the orphanage would not reveal any details about them,” kata Meena.
Komunikasi kembali terjalin sejak Mei
Sejak Mei, Meena dan Minal saling berbicara setiap dua hari. Mereka juga saling berkenalan dengan pasangan masing-masing, anak-anak, saudara kandung, dan orang tua.
Meena menceritakan bahwa hal-hal kecil mudah terlihat sebagai “kemiripan keluarga”. “Everyone notices how we finish each other’s sentences, how we move our heads or walk similar,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa kenyataan mereka bersaudara masih terus meresap. Dalam percakapan mereka, waktu sering berjalan tanpa terasa karena obrolan bisa berlangsung sangat lama.
“Sometimes we talk for two hours and lose track of time, suddenly remembering that we have to do groceries or pick up children from school,” kata Meena.
Di masa mendatang, Meena menyimpan keinginan sederhana namun bermakna: kembali ke tempat asal mereka. Ia ingin mereka pergi ke India bersama untuk berjalan di jalanan Mumbai.
“We’d love to go to India together sometime, to walk through the streets of Mumbai together,” tuturnya.
Ia juga mengakui adanya masa-masa kesepian yang pernah ia rasakan. “There were times when we both felt very lonely, like when I lost my dad or went through a heartbreak,” katanya.
Meena menyampaikan penyesalan karena kesempatan berbagi pengalaman dengan saudara kandungnya hadir terlambat. “I regret we couldn’t be with each other – we could have shared happiness, helped each other in tough times.”











