Hukum & Kriminal

Rangkaian Kejadian Penembakan di Pelabuhan Speedboat Balikpapan, Bermula dari Mobil Salah Arah

×

Rangkaian Kejadian Penembakan di Pelabuhan Speedboat Balikpapan, Bermula dari Mobil Salah Arah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kronologi Penembakan di Pelabuhan Speedboat Balikpapan, Berawal dari Mobil Salah Arah

jurnalistik.co.id – Penembakan terjadi di Terminal Kawasan Pelabuhan Speedboat Baru Tengah, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Rabu (12/8/2026) sore. Keterangan seorang warga menyebut rangkaian insiden bermula saat sebuah mobil melintas melalui jalur yang seharusnya bukan untuk kendaraan masuk.

Muhammad Nur Fadli, yang akrab disapa Sadli, masih mengingat detail suasana di lokasi. Ia sempat menjadi bagian dari kerumunan yang ditargetkan tembakan ketika berusaha meredakan keributan yang terjadi di terminal.

Menurut Sadli, peristiwa itu tidak berujung korban. “Beruntung, tidak ada warga yang terluka,” ujarnya, berdasarkan pengamatannya saat kejadian berlangsung.

Awalnya, sebuah mobil hitam yang ditumpangi empat orang masuk ke area terminal dari jalur keluar. Di dalam kendaraan tersebut terdapat dua perempuan dan dua laki-laki.

Sadli menjelaskan orang-orang di mobil itu, dari sudut pandangnya, menunjukkan sikap yang langsung memicu ketegangan dengan pihak lain. Ia menyebut mobil tersebut “masuk lewat jalur orang keluar” hingga kemudian berpapasan dengan sopir taksi bandara.

“Papasan dengan sopir taksi bandara, tapi justru malah marah-marah ke sopir bandara,” kata Sadli menirukan situasi yang ia lihat saat awal keributan.

Keributan lantas menarik perhatian warga lain di sekitar terminal. Sadli kemudian mendatangi lokasi dan mencoba menenangkan keadaan, berharap salah paham yang terjadi bisa segera reda.

Dalam upayanya meredakan situasi, Sadli menyampaikan teguran langsung kepada pengemudi. “Mas, mas ini salah arah, ini jalan keluar,” ujarnya, mengulang kalimat yang ia sampaikan saat itu.

Namun, menurut Sadli, respons dari orang-orang di dalam mobil justru membuat ketegangan semakin memuncak. Ia menuturkan kemarahan itu berlanjut dan akhirnya memancing kerumunan makin besar di sekitar lokasi.

Ketika keramaian sudah terbentuk, tembakan mulai terdengar. Sadli menyatakan pelaku melepaskan tembakan ke arah warga yang berada di sekitarnya, termasuk dirinya.

“Lalu dia menembak ke arah warga, termasuk saya. Saya sempat menunduk, lalu dia menembak lagi dan kena tiang listrik sampai berbunyi,” tutur Sadli. Ia menggambarkan momen itu sebagai kejadian cepat yang membuat orang-orang di sekitar refleks mencari perlindungan.

Setelah beberapa tembakan dilepaskan, Sadli melihat pengemudi kemudian memacu mobil menuju pintu keluar terminal. Dari arah mobil tersebut, suara tembakan kembali terdengar.

Sadli merinci bahwa rangkaian tembakan tidak terjadi sekali, melainkan berulang. “Jadi tidak cuma sekali dia menembak, empat kali totalnya dia melepaskan tembakan,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa setelah mobil bergerak, tembakan yang terdengar dari dalam kendaraan berjumlah dua kali yang diarahkan ke arah kerumunan.

Meski situasi sempat menegangkan, Sadli menegaskan tidak ada warga yang terkena tembakan. “Tidak ada yang terkena tembakan,” katanya, seraya menyatakan ia tidak melihat adanya korban luka akibat penembakan tersebut.

Dengan informasi yang ia sampaikan, kronologi insiden di terminal memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang cepat: jalur yang seharusnya tidak digunakan dilalui dari arah yang keliru, keributan berkembang, kerumunan terbentuk, lalu tembakan dilepaskan hingga tiang listrik terdengar tersentuh akibat tembakan.

Hingga saat Sadli menceritakan ulang peristiwa, fokus utamanya adalah upaya meredakan konflik yang berlangsung singkat, serta detail waktu tembakan yang ia dengar dan ia rasakan saat berada di lokasi.

Sadli menekankan bahwa keributan di terminal bermula dari percekcokan kecil yang cepat berubah menjadi ketegangan fisik, ketika kendaraan yang masuk dari arah yang salah bersinggungan dengan situasi di sekitar terminal. Ia menilai suasana lantas menjadi sulit dikendalikan karena emosi yang langsung meluas.

Ia juga menggambarkan bahwa setelah suara tembakan pertama terdengar, perhatian warga langsung terpecah antara upaya mencari tempat aman dan mengamati arah tembakan. Dari keterangannya, tembakan sempat berulang hingga terdengar lagi saat mobil sudah bergerak, sebelum akhirnya suasana mereda tanpa korban.