jurnalistik.co.id – Kabar duka datang dari insiden penembakan saat kampanye Presiden Donald Trump di Butler, Pennsylvania, pada 2024. Jim Copenhaver, salah satu peserta yang menjadi sasaran tembakan, meninggal dunia pada Rabu setelah mengalami komplikasi dari luka-lukanya.
Jim Copenhaver berusia 76 tahun. Ia dilaporkan terkena tembakan sebanyak dua kali saat seorang pelaku membuka api dari atap bangunan di sekitar lokasi kampanye.
Dalam peristiwa yang sama, Corey Comperatore juga tewas. Pada insiden itu, telinga Trump disebut sempat tergores oleh peluru, meski tidak sampai menimbulkan kematian.
Penyerang yang dimaksud adalah Thomas Crooks, berusia 20 tahun. Ia kemudian dinyatakan tewas setelah ditembak oleh Secret Service.
Menurut pernyataan kantor kejaksaan negara bagian Pennsylvania yang dikutip dari informasi yang disampaikan kepada media lokal, Copenhaver meninggal di sebuah rumah sakit di Pittsburgh, Pennsylvania.
Rangkaian luka Copenhaver tidak berhenti pada hari kejadian. Setahun setelah peristiwa tersebut, ia bersama David Dutch—satu lagi peserta yang juga tertembak—menceritakan bahwa mereka harus menjalani serangkaian infeksi dan operasi setelah terluka. Copenhaver menuturkan ia ditembak di bagian lengan dan perut.
Copenhaver juga mengatakan bahwa peluru yang menancap di tubuhnya masih berada di dekat tulang belakangnya. Kondisi itu membuatnya berjalan dengan bantuan tongkat (kane), sebagaimana ia sampaikan dalam wawancara tersebut.
Dalam perkembangan lain di luar proses medis, keluarga Copenhaver juga mendapat perhatian dari tokoh-tokoh politik. Trump, melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, menyebut Copenhaver sebagai bagian dari kehormatan bagi pendukungnya.
Berita Terkait
Trump menulis: “More than two years ago in Butler, Pennsylvania, a crazed gunman attempted to stifle our America First Movement. Instead, Jim and so many other wonderful Patriots who love our Country, stood united in defense of our shared values of Freedom, Liberty, and Justice,” lalu menambahkan, “Our hearts and prayers are with the Copenhaver family, especially his incredible wife Marianne.”
Seorang pengacara yang mewakili keluarga Copenhaver juga menyampaikan pandangannya. Ia mengatakan pengabdian Copenhaver kepada Amerika merupakan bagian penting dari hidupnya, dengan menyatakan bahwa itu adalah “defining part of his life”.
Pengacara itu melanjutkan, “As a veteran, he proudly served our nation in the armed forces, and his love of country never wavered,” dalam pernyataan yang disampaikan kepada BBC melalui mitra siarannya di Amerika, CBS News.
Selain respons publik dan pernyataan politik, jalur hukum juga ditempuh. Pada bulan Juni, Dutch dan Copenhaver mengajukan gugatan terhadap pemerintah federal dengan argumen bahwa Secret Service dinilai tidak memastikan keselamatan mereka secara memadai, sehingga pihak tersebut bertanggung jawab atas cedera yang dialami.
Di tingkat politik nasional, sejumlah anggota Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat AS juga menyampaikan belasungkawa pada hari Jumat. Dalam unggahan media sosialnya, mereka menuliskan: “Jim endured unimaginable hardship with strength and perseverance.”
Dengan meninggalnya Jim Copenhaver, perhatian kembali tertuju pada dampak jangka panjang dari penembakan tersebut—bukan hanya pada peristiwa hari kejadian, tetapi juga pada perjalanan pemulihan yang panjang, proses hukum, serta perhatian publik yang mengikuti insiden itu.
Setelah insiden itu, cerita Copenhaver tidak berhenti pada luka awal. Ia menggambarkan pemulihan yang berlarut-larut, termasuk penanganan terhadap infeksi serta sejumlah tindakan medis lanjutan bersama David Dutch. Rasa sakit dan kondisi fisik yang dialami juga memengaruhi aktivitas hariannya, sehingga bantuan tongkat menjadi bagian dari rutinitas selama masa penyembuhan.
Di luar ruang perawatan, dinamika seputar kasus ini terus berkembang. Gugatan yang diajukan Dutch dan Copenhaver pada Juni menempatkan Secret Service dalam sorotan terkait tanggung jawab atas keselamatan para peserta. Pada saat yang sama, respons dari sejumlah tokoh publik—baik melalui pernyataan belasungkawa maupun dukungan politik—semakin menegaskan bahwa dampak penembakan tersebut tetap bergema, baik dalam proses hukum maupun perhatian masyarakat.












