jurnalistik.co.id – Kasus antisemitisme di lingkungan kampus Inggris terus menunjukkan tren kenaikan, menurut laporan lembaga amal yang memantau insiden bernuansa antisemit. Community Security Trust (CST) melaporkan bahwa selama tahun akademik 2025-26, jumlah insiden terkait perguruan tinggi tercatat lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
CST menyebut telah mencatat 95 “university-related” incidents pada tahun akademik 2025-26, naik dari 83 pada tahun akademik sebelumnya. Meski angka itu lebih rendah dari puncak setahun setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 dan perang Gaza dimulai, CST menilai kondisinya tetap “substantially higher” dibanding sebelum titik waktu tersebut.
Dari sisi sektor pendidikan tinggi, Universities UK (UUK) menyatakan anggotanya—yang mewakili lebih dari 140 institusi—perlu bergerak lebih tegas. Organisasi ini menegaskan upaya perlindungan bagi mahasiswa serta staf Yahudi, seraya menyebut temuan tersebut sebagai “serious concern”.
Lucy Powell, education secretary di Inggris, menilai hasil dalam laporan CST “deeply troubling”. Ia mengatakan pemerintah mengharapkan universitas menerapkan pendekatan “zero-tolerance” terhadap antisemitisme dan menyediakan pelatihan agar staf kampus dapat mengenali serta merespons insiden dengan cepat.
Dalam klasifikasinya, CST mendefinisikan insiden antisemit sebagai “university-related” apabila menyasar atau melibatkan seorang mahasiswa, anggota staf, atau akademisi di universitas Inggris “in their academic or student capacity”. Definisi itu mencakup kejadian baik di area kampus maupun secara daring.
Untuk menggambarkan perubahan dari waktu ke waktu, CST mencatat pada 2022-23—tahun akademik terakhir sebelum serangan 7 Oktober—jumlah insiden tercatat 53 kasus. Angka itu kemudian melonjak menjadi 272 pada 2023-24, sebelum laporan berikutnya menunjukkan dinamika yang berbeda pada dua tahun akademik setelahnya.
Laporan amal tersebut menyatakan insiden yang dilaporkan turun pada 2024-25, lalu meningkat lagi pada 2025-26. Dengan kata lain, meski tidak selalu naik tiap periode, tren besarnya tetap menunjukkan bahwa masalah antisemitisme di kampus tidak kembali ke level sebelum meletusnya konflik Gaza.
Jenis insiden yang paling sering muncul
Menurut CST, bentuk insiden yang paling umum dalam dua tahun yang dikaji adalah “abusive behaviour”. Kategori ini mencakup pelecehan verbal, komentar yang disampaikan baik secara langsung maupun melalui platform online, serta “antisemitic graffiti”.
Laporan CST juga menyoroti bahwa untuk pertama kalinya, terdapat dua kejadian yang tergolong “extreme violence” pada 2024-25. Selain itu, tercatat enam laporan “assaults” sepanjang dua tahun tersebut.
Berita Terkait
CST melaporkan delapan insiden “damage and desecration” terhadap properti milik komunitas Yahudi, di mana lima di antaranya terjadi di hunian mahasiswa. Sementara itu, terdapat sepuluh “threats” yang dilaporkan dalam periode yang sama.
Dari keseluruhan insiden yang tercatat, sekitar dua pertiga melibatkan penggunaan bahasa antisemit atau penargetan yang disertai rujukan pada Israel, Gaza, Hamas, serangan 7 Oktober, serta konflik lanjutan di Timur Tengah. Pola ini menurut laporan menunjukkan bagaimana isu-isu dalam perang kemudian turut membentuk ekspresi permusuhan di ruang pendidikan.
Dalam konteks yang lebih luas, CST mengaitkan latar konflik dengan peristiwa pemicu perang Gaza. Perang itu dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, ketika “about 1,200 people were killed” dan 251 lainnya “taken hostage”.
Setelah serangan tersebut, Israel melancarkan ofensif militer besar-besaran di Gaza sebagai respons. CST menyebut tindakan itu telah menewaskan “around 74,000 people”, berdasarkan data dari kementerian kesehatan yang dikelola Hamas.
Dalam laporannya, CST menekankan bahwa kritik terhadap Israel dan Zionisme tidak otomatis identik dengan antisemitisme. Pernyataan itu berbunyi: “While criticism of Israel and Zionism is not inherently antisemitic, the data in this report continue to demonstrate that anti-Zionist language is frequently deployed in conjunction with hostility towards Jews and Jewish organisations.”
Kepemimpinan CST dan respons universitas
Mark Gardner, chief executive CST, mengatakan “Jews are still facing a very serious campus antisemitism problem”. Ia menyoroti aspek yang dianggapnya paling mengkhawatirkan: “particularly troubling that a growing proportion of the anti-Jewish actions involve university staff”.
Gardner menambahkan bahwa universitas memiliki “a duty to ensure that Jewish students and staff can study, work and participate on campus the same as anyone else”. Menurutnya, tanggung jawab itu menjadi bagian dari kewajiban institusi pendidikan dalam menjaga keamanan komunitasnya.
Raphi Leon, presiden Union of Jewish Students (UJS), menyebut laporan CST sebagai dorongan agar tindakan nyata segera diperluas. Ia mengatakan laporan tersebut “must be a shot in the arm to boost action to support Jewish students and tackle antisemitism”.
Vivienne Stern, chief executive UUK, juga menyatakan kenaikan insiden antisemitisme di Inggris—termasuk di kampus—merupakan “a serious concern”. Ia menekankan bahwa universitas bertanggung jawab melindungi mahasiswa dan staf Yahudi dari pelecehan, sekaligus memastikan peserta kampus memahami batas ketika pandangan yang dipegang kuat berubah menjadi antisemitisme dan “harassment”.
Stern menyampaikan UUK telah bekerja sama dengan berbagai organisasi termasuk CST untuk menyusun panduan bagi universitas. Meski demikian, ia menilai masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, terutama dalam “building confidence in the effectiveness of disciplinary processes”.












