Internasional

Kampanye Be Ready, Inggris Minta Warga Siapkan Stok Makanan dan Air Hadapi Kelangkaan serta Ancaman Siber

×

Kampanye Be Ready, Inggris Minta Warga Siapkan Stok Makanan dan Air Hadapi Kelangkaan serta Ancaman Siber

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Inggris di Ambang Perang, Pemerintah Minta Warga Stok Makanan dan Air

jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris meluncurkan kampanye nasional bertajuk Be Ready untuk mendorong rumah tangga menyiapkan diri menghadapi beragam gangguan, mulai dari potensi kelangkaan pangan hingga layanan publik yang terganggu akibat serangan siber dan situasi darurat lain. Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan rumah tangga selama tiga tahun.

Lewat panduan yang diperkenalkan Menteri Pertahanan Wes Streeting, warga diminta mempertimbangkan skenario gangguan jangka pendek yang dapat mengacaukan aktivitas harian. Pemerintah menyarankan agar setiap keluarga memiliki persediaan kebutuhan pokok yang mencukupi hingga tiga hari apabila layanan sehari-hari ikut terganggu.

Persediaan yang dianjurkan mencakup uang tunai, air minum kemasan, serta makanan kaleng. Selain itu, pemerintah juga meluncurkan situs khusus yang menyediakan daftar perlengkapan darurat untuk diunduh.

Seusai panduan tersebut diumumkan, sejumlah laporan menyebut adanya peningkatan penjualan untuk makanan kaleng. Penjualan radio putar manual dan senter dilaporkan turut naik.

Streeting menyatakan bahwa respons publik terhadap imbauan tersebut merupakan perkembangan positif. Ia menegaskan kesiapan yang bersifat praktis di rumah bisa membantu keluarga menghadapi gangguan, baik yang dipicu banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah.

“Ini menggembirakan karena masyarakat mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap menghadapi keadaan darurat. Memiliki sejumlah kebutuhan sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, dapat membantu keluarga menghadapi gangguan, baik akibat banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah. Kita semua bisa berperan dalam membuat Inggris lebih tangguh,” ujar Streeting, dalam keterangan yang dikutip BBC Newsnight.

Pemerintah juga menekankan agar warga tetap waspada tanpa perlu panik saat menghadapi risiko-risiko tersebut. Kampanye Be Ready, menurut penjelasan pemerintah, menitikberatkan kesiapsiagaan saat terjadi gangguan yang dapat berlangsung singkat, seperti listrik padam atau pasokan air terhenti.

Untuk kebutuhan minum, setiap orang disarankan menyiapkan sekitar tiga liter air per hari. Angka tersebut berada di luar kebutuhan untuk memasak dan mencuci, sehingga keluarga dapat tetap menjaga kebutuhan dasar selama gangguan berlangsung.

Dalam aspek makanan, warga dianjurkan menyimpan pangan tahan lama yang bisa dikonsumsi tanpa proses memasak. Pilihan yang disebut antara lain daging, buah, dan sayuran kalengan, disertai pembuka kaleng serta makanan bagi hewan peliharaan.

Ketika pasokan air tidak tersedia, pemerintah menyarankan warga menyiapkan cairan pembersih tangan dan tisu basah. Untuk kebutuhan penerangan dan perlindungan saat cuaca buruk, perlengkapan yang dianjurkan mencakup senter beserta baterai cadangan.

Selain itu, warga diarahkan menyiapkan selimut, kantong tidur, pakaian hangat, serta pengisi daya portabel untuk ponsel. Radio bertenaga baterai atau putar manual juga diperlukan agar informasi tetap bisa diperoleh ketika listrik padam, dan radio mobil disebut sebagai alternatif.

Pemerintah, namun, mengingatkan agar masyarakat tetap berada di dalam rumah bila cuaca ekstrem terjadi dan situasi mengharuskannya. Dalam kerangka kesehatan darurat, warga diminta menyiapkan perlengkapan pertolongan pertama seperti plester tahan air, perban, termometer, antiseptik, larutan pencuci mata, kasa steril, sarung tangan, plester medis, serta pinset.

Untuk rumah tangga yang memiliki bayi, pemerintah menyebut popok dan susu formula perlu disiapkan. Formula siap minum dinilai lebih disarankan karena kondisi darurat bisa membuat warga kesulitan merebus air atau mensterilkan botol.

Di luar kebutuhan fisik, pemerintah mengajak warga menyiapkan uang tunai dalam berbagai pecahan, termasuk koin dan kartu. Turut dianjurkan pula menyiapkan salinan kartu identitas dan dokumen penting, sekaligus mencatat nomor telepon darurat serta informasi obat rutin beserta dosisnya agar mudah ditemukan.

Imbauan tersebut tidak mengharuskan warga membeli seluruh perlengkapan sekaligus. Persediaan dapat dikumpulkan bertahap sesuai kemampuan, lalu ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau, termasuk ketika rumah dalam kondisi gelap.

Bagi warga yang mengonsumsi obat resep secara rutin, pemerintah menyarankan persediaan untuk beberapa hari. Sementara itu, mereka yang bergantung pada perangkat medis diminta menyimpan petunjuk penggunaan dalam bentuk cetak dan memastikan baterai cadangan selalu terisi penuh.

Kesiapsiagaan ini juga muncul di tengah kekhawatiran pemerintah Inggris terhadap ancaman keamanan, khususnya dari Rusia. Pada Sabtu, Streeting memperingatkan bahwa Inggris harus bersiap menghadapi kemungkinan perang dalam waktu 1.000 hari.

Menurut Streeting, negara-negara yang berpotensi menjadi lawan Inggris dapat memiliki kemampuan untuk menyerang pada 2030. Dalam tulisannya di The Telegraph, Streeting menyatakan, “Kesediaan musuh-musuh kita untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang berubah adalah kemampuan mereka. Pada 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk menyerang. Itu berarti kita memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan menang.”

Streeting menambahkan, “Untuk mencegah hal terburuk, kita harus mempersiapkan diri menghadapinya.” Ia menilai kampanye Be Ready diperlukan karena ancaman yang dihadapi Inggris bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata yang makin mendekati kehidupan masyarakat.

Ketegangan dengan Rusia juga terlihat dari peringatan pemerintah Presiden Vladimir Putin. Moskow menyatakan fasilitas Inggris di Ukraina dapat dianggap sebagai “target yang sah” apabila digunakan untuk mendukung serangan jarak jauh terhadap Rusia.

Laporan The Independent turut menyebut drone tak dikenal hampir setiap hari menyasar pangkalan militer Inggris. Data dari permintaan informasi publik memperlihatkan adanya sekitar 340 insiden keamanan yang melibatkan drone di atau dekat fasilitas Kementerian Pertahanan Inggris dalam periode hingga Agustus 2026.

Angka tersebut disebut meningkat dibandingkan 250 insiden sepanjang 2025 dan 126 kasus pada tahun sebelumnya. Di luar ancaman keamanan, pemerintah Inggris juga mengkhawatirkan dampak gelombang panas ekstrem yang terjadi pada musim panas ini.

Suhu yang memecahkan rekor memperburuk kekeringan sekaligus memicu kebakaran hutan di sejumlah wilayah. Sejumlah analis memperingatkan bahwa suhu ekstrem dan kekeringan berkepanjangan dapat mendorong Inggris menghadapi krisis ketahanan pangan terburuk dalam beberapa dekade.

Analis bank investasi Shore Capital menilai lima gelombang panas yang terjadi berturut-turut, ditambah kondisi kering berkepanjangan, berpotensi merusak hasil panen petani. Dampaknya dapat berupa kelangkaan pangan pada akhir tahun ini sekaligus meningkatnya ketergantungan Inggris terhadap impor dari luar negeri.

Serikat Petani Nasional Inggris, National Farmers Union (NFU), juga menyebut kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan. Para peternak sapi perah bahkan disebut sudah menggunakan persediaan pakan musim dingin karena rumput tidak lagi tumbuh akibat kekeringan.