jurnalistik.co.id – Penolakan Amerika Serikat terhadap tawaran Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dinilai membuat AS terlihat terlalu percaya diri menghadapi Iran. Penilaian itu disampaikan oleh pakar militer Mohamad Elmasry setelah Trump menolak usulan tersebut sebagai langkah awal meredakan ketegangan.
Elmasry mengatakan, sikap Washington masih berangkat dari keyakinan bahwa pihaknya memegang kendali penuh atas arah situasi. Menurutnya, cara pandang tersebut mendorong AS merasa bisa menentukan ketentuan-ketentuan yang mengatur prosesnya.
“Amerika Serikat terus memandang dirinya berada dalam posisi yang memiliki kekuasaan dan kendali atas situasi ini. Jadi, mereka masih berpikir bahwa mereka bisa mendikte ketentuan-ketentuannya,” ujar Elmasry. Pernyataan itu ia sampaikan kepada Al Jazeera.
Dalam pandangannya, anggapan soal posisi tawar semacam itu tidak otomatis membuat negosiasi berjalan sesuai keinginan AS. Elmasry menilai, respons yang dipilih justru dapat memperbesar peluang ketegangan kembali meningkat.
Elmasry menyebut penolakan Presiden AS Trump terhadap tawaran Iran sebagai sebuah kesalahan perhitungan. Ia menilai, tawaran itu dinilai mempunyai kesamaan yang kuat dengan draf kesepahaman yang pernah dibahas pada bulan Juni.
“Bagi pihak Amerika untuk menolak usulan Iran ini—yang sangat mirip dengan nota kesepahaman bulan Juni, yang sebenarnya sudah cukup menguntungkan bagi pihak Iran—menurut saya Trump telah salah perhitungan,” kata Elmasry. Ia menilai bahwa keputusan menolak tersebut tidak mempertimbangkan besarnya keuntungan yang justru ada di pihak Iran.
Elmasry juga menegaskan bahwa AS tidak memiliki daya tawar sebagaimana yang mereka bayangkan. Menurutnya, Washington keliru menilai kapasitas negosiasi yang dimiliki ketika berhadapan dengan Iran.
“Saya rasa AS tidak memiliki daya tawar sebesar yang mereka kira… Jadi, kita bisa saja menghadapi eskalasi sebelum pemilihan paruh waktu [AS]. Menurut saya, itu adalah kemungkinan yang nyata,” lanjutnya. Uraiannya merujuk pada dinamika politik dalam negeri AS yang dapat memengaruhi kalkulasi kebijakan luar negeri.
Berita Terkait
Dari sudut pandang Elmasry, penolakan yang terjadi setelah tawaran pembukaan Selat Hormuz ditolak dapat menjadi pemicu rangkaian langkah timbal balik. Ia melihat ruang untuk meredakan ketegangan menjadi makin sempit ketika kanal yang dapat menahan eskalasi tidak dimanfaatkan.
Ia juga mengaitkan keputusan Trump dengan kemungkinan respon yang lebih keras dalam waktu relatif dekat. Dengan kata lain, setelah satu opsi untuk mengurangi tensi ditutup, pihak-pihak yang terlibat berpeluang memilih pendekatan lain yang lebih konfrontatif.
Elmasry menilai, keputusan AS untuk menolak usulan Iran tidak hanya memengaruhi arah negosiasi, tetapi juga persepsi kekuatan di lapangan. Saat satu pihak merasa masih dominan, pihak lain bisa merespons dengan cara yang menurutnya lebih aman dan lebih menguntungkan.
Dalam konteks itu, Elmasry menyinggung bahwa tawaran yang diajukan Teheran memiliki kemiripan dengan nota kesepahaman bulan Juni. Ia memandang kemiripan tersebut sebagai sinyal bahwa usulan itu bukan tawaran yang sepenuhnya baru, melainkan kelanjutan dari pembahasan yang sebelumnya telah dinilai membawa keuntungan.
Penilaian Elmasry kemudian mengarah pada prospek eskalasi yang muncul sebelum masa pemilihan paruh waktu AS. Ia menganggap potensi peningkatan ketegangan tersebut merupakan kemungkinan nyata, bukan sekadar skenario yang jauh.
Menurut artikulasinya, eskalasi dapat muncul karena pihak AS dan Iran cenderung memilih strategi yang paling sesuai dengan posisi masing-masing. Ketika daya tawar dianggap tidak sebanding, negosiasi bisa macet dan perhitungan berubah menjadi manuver jangka pendek.
Setelah Trump menolak tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, Elmasry memperkirakan kemungkinannya adalah terjadinya kembali aksi saling serang antara AS dan Iran. Ia menyebut kemungkinan itu dapat terjadi dalam waktu dekat.
Dengan demikian, pesan utama dari penilaian Elmasry adalah adanya jarak antara cara pandang Washington dan realitas daya tawar di hadapan Teheran. Penolakan yang dinilai keliru perhitungan berpotensi membuka peluang eskalasi sebelum kalender politik AS berubah, sekaligus membuat ketegangan berbalik bergerak cepat kembali.












