jurnalistik.co.id – Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda mengurangi perannya sebagai penopang utama tatanan keamanan di Timur Tengah. Meski begitu, perubahan ini tidak otomatis berarti Washington sepenuhnya meninggalkan kawasan tersebut.
AS masih mempertahankan kepentingan militer dan keamanan, termasuk perlindungan terhadap sekutu serta upaya kontraterorisme. Namun, arah kebijakan kini bergerak lebih selektif, terutama dalam cara Washington memposisikan diri sebagai pihak yang “mengatur” keseimbangan kawasan.
The Economist menilai Washington semakin enggan mempertahankan perannya sebagai “arsitek” utama kawasan. Pergeseran ini dipahami sebagai akumulasi dari perubahan prioritas setelah puluhan tahun keterlibatan yang intens di wilayah yang sama.
Selama periode panjang tersebut, keterlibatan AS mencakup pengerahan pasukan, pembangunan pangkalan militer, operasi rahasia, hingga diplomasi untuk membentuk keseimbangan kekuatan regional. Kini, model keterlibatan yang selama ini dominan mulai digantikan oleh penyesuaian yang lebih menekankan arah strategi lain.
Pemerintahan Presiden Donald Trump juga dikatakan memberi perhatian lebih besar pada kawasan Amerika serta persaingan dengan China. Dengan latar itu, konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai menyerap persenjataan dan sumber daya militer yang juga dibutuhkan AS untuk menghadapi tantangan di bagian lain.
Perhatian bergeser, termasuk karena faktor energi
Perubahan peran AS juga terkait dengan turunnya ketergantungan energinya terhadap wilayah Teluk. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan net impor minyak mentah dan produk petroleum AS dari negara-negara Teluk Persia sekitar 2,48 juta barel per hari pada 2000.
Angka itu sempat meningkat hingga menyentuh 2,76 juta barel per hari pada 2001, sebelum kemudian menurun. Pada 2025, net impor minyak AS dari kawasan tersebut hanya sekitar 667.000 barel per hari, atau kurang dari seperempat level puncaknya di awal 2000-an.
Penurunan ini tercermin pula pada minyak mentah. Impor AS dari kawasan Teluk Timur Tengah pada 2025 hanya sekitar 490.000 barel per hari, setara 8% dari total impor minyak mentah AS yang mencapai 6,2 juta barel per hari.
Dengan kondisi seperti itu, ketergantungan energi langsung AS terhadap kawasan Teluk jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, ruang strategis Washington dinilai lebih terbuka untuk mengalihkan fokus dan sumber daya ke prioritas lain yang dianggap lebih mendesak.
Di sisi lain, China disebut memiliki kepentingan ekonomi besar terhadap kawasan Teluk karena menjadi salah satu pembeli utama energi dari wilayah tersebut. Namun, The Economist menilai Beijing belum tentu ingin menggantikan Washington sebagai hegemon baru, mengingat besarnya biaya ekonomi dan militer yang dibutuhkan untuk mempertahankan dominasi regional.
Ruang lebih besar bagi kekuatan regional
Berpindahnya tumpuan keterlibatan AS membuka peluang bagi kekuatan regional untuk memainkan peran yang lebih menonjol. The Economist menyoroti tiga negara yang dinilai memiliki kapasitas mengisi sebagian kekosongan, yakni Iran, Turki, dan Israel.
Berita Terkait
Ketiganya digambarkan sebagai kekuatan non-Arab dengan pengaruh politik, militer, dan ekonomi yang besar di kawasan. Dengan berbagai jaringan dan kapabilitas masing-masing, ketiganya berpotensi membentuk arah politik-keamanan regional ketika AS tidak lagi tampil dominan sebagai penjamin utama.
Iran disebut tetap mempertahankan jaringan pengaruh di Irak, Suriah, dan Lebanon. Selain itu, Iran juga dinilai berpotensi memperkuat kelompok-kelompok sekutunya apabila rezim di Teheran mampu bertahan dari konflik saat ini.
Turki pada saat bersamaan digambarkan semakin aktif memperluas hubungan dengan negara-negara Arab. Peran Ankara disebut penting di Suriah, sekaligus mempererat kerja sama di sejumlah bidang seperti perdagangan, keamanan, infrastruktur, hingga industri pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan.
Sementara itu, Israel masih dipandang sebagai salah satu kekuatan militer dan intelijen terbesar di Timur Tengah. Hubungannya dengan beberapa negara Teluk juga disebut berkembang sejak lahirnya Abraham Accords, sehingga posisi Israel di jaringan diplomasi dan keamanan regional turut menguat.
Bukannya otomatis stabil, perebutan kepentingan bisa makin tajam
Meskipun peran Iran, Turki, dan Israel meningkat, hal itu tidak otomatis menciptakan keseimbangan baru yang stabil. Israel dan Turki disebut memiliki kepentingan yang berbeda di Suriah, sementara konflik antara Israel dan Iran tetap berlangsung.
Lebih jauh, hubungan Iran dan Turki juga memiliki sejarah panjang persaingan regional. Dengan demikian, ruang yang terbuka akibat penurunan keterlibatan AS bisa saja membuat pola rivalitas dan tarik-menarik kepentingan makin kompleks.
Negara-negara Arab menghadapi babak baru
Ketika pergeseran terjadi, negara-negara Arab berada dalam posisi yang lebih rumit. Irak dan Suriah masih berupaya pulih dari perang dan konflik berkepanjangan yang selama ini menekan stabilitas kawasan.
Mesir yang pernah menjadi salah satu pusat kekuatan politik Arab juga disebut menghadapi tantangan ekonomi dan politik domestik. Di saat yang sama, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar semakin mengandalkan pertumbuhan ekonomi, investasi, serta diversifikasi sebagai fondasi stabilitas.
Namun, masalahnya adalah arsitektur keamanan kawasan selama beberapa dekade sangat bergantung pada dukungan AS. Jika Washington benar-benar mengurangi perannya, negara-negara Timur Tengah perlu menambah kemampuan melalui kerja sama regional dan kapasitas militer yang lebih mandiri.
Dengan pendekatan seperti itu, mundurnya AS tidak bisa dibaca sebagai langkah yang sepenuhnya memutus hubungan dengan kawasan. Yang berubah adalah tingkat keterlibatan, sekaligus kesediaan Washington untuk menjadi penjamin utama tatanan regional.
Karena itu, pertanyaannya kemudian bergeser: bukan lagi apakah AS masih berada di Timur Tengah, melainkan siapa yang akan lebih banyak menentukan keseimbangan kekuatan saat Washington tidak lagi menjalankan peran sebesar sebelumnya.












