Bisnis & Ekonomi

Potensi Untung Emiten Usai Kemenangan Demokrat Picu Turunnya Harga Minyak Dunia

×

Potensi Untung Emiten Usai Kemenangan Demokrat Picu Turunnya Harga Minyak Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Deretan Emiten Ini Diuntungkan Penurunan Harga Minyak Dunia - Market

jurnalistik.co.id – Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat berdampak cepat terhadap pergerakan komoditas global, termasuk harga minyak dunia. Jika penurunan tersebut berlanjut, sentimen ini berpotensi merambat ke kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia secara tidak langsung.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut menguat. Indeks komposit ditutup menguat 2,25% pada posisi 5.030,26 pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Penguatan IHSG juga terlihat pada beberapa kelompok industri. Saham sektor barang baku, saham perindustrian, dan saham konsumen primer mencatat kenaikan paling tinggi, masing-masing menguat 3,78%, 2,81%, dan 2,42%.

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, ada sektor dan emiten yang paling berpotensi diuntungkan ketika harga minyak dunia melemah. Ia menekankan bahwa manfaat terbesar biasanya datang pada industri yang struktur biayanya sensitif terhadap bahan bakar dan turunan minyak mentah.

Peran bahan bakar dan derivatif minyak dalam struktur biaya

Nafan menyebut penurunan harga minyak dapat menekan komponen biaya produksi dan operasional untuk kelompok industri tertentu. Karena itu, emiten di subsektor yang beban aktivitasnya terkait bahan bakar dan derivatif minyak cenderung lebih cepat merasakan efeknya.

Dalam konteks ini, sektor penerbangan dan logistik dinilai menjadi salah satu pihak yang paling merasakan imbas positif. Penurunannya bersumber dari harga Avtur yang melemah, karena Avtur menyumbang porsi terbesar dari beban operasional pada rantai aktivitas kedua sektor tersebut.

Dengan berkurangnya tekanan pada biaya yang terkait Avtur, pelaku usaha pada sektor penerbangan dan logistik dapat memperoleh ruang perbaikan pada komponen pengeluaran yang sebelumnya terbebani oleh harga energi. Nafan menempatkan penurunan harga Avtur sebagai kunci yang menjelaskan mengapa sektor tersebut termasuk yang paling diuntungkan.

Berkah untuk industri petrokimia lewat harga naphtha

Nafan juga menyoroti sektor petrokimia sebagai penerima dampak langsung dari melunaknya harga minyak dunia. Ia menyatakan bahwa pelemahan harga Naphtha ikut berpengaruh karena pergerakannya bergantung pada minyak dunia, sekaligus berhubungan dengan kebutuhan bahan baku dalam proses industri.

Dalam keterangannya yang dikutip Jumat (6/11/2026), Nafan menyampaikan, “Sektor petrokimia juga menerima berkah langsung dari melunaknya harga Naphtha (yang pergerakan harganya bergantung pada minyak dunia) sebagai bahan baku cracking plant.”

Pernyataan tersebut menegaskan hubungan sebab-akibat antara harga minyak global dan biaya input di industri petrokimia. Ketika harga Naphtha bergerak lebih rendah, biaya penyediaan bahan baku yang digunakan untuk proses cracking plant ikut mendapat tekanan turun.

Dengan demikian, potensi keuntungan bagi emiten tidak hanya bersumber dari sentimen pasar setelah pemilu sela AS, tetapi juga dari perubahan dinamika biaya yang terkait energi. Apabila tren penurunan harga minyak benar-benar berlanjut, mekanisme penyesuaian pada komponen biaya di sektor-sektor yang sensitif terhadap bahan bakar dan derivatifnya dapat menjadi pendorong lanjutan bagi kinerja perusahaan.

Di saat bersamaan, penguatan IHSG pada 5.030,26 dan kenaikan pada beberapa sektor yang mencatat performa tertinggi mencerminkan reaksi pasar terhadap prospek yang terbentuk. Sementara itu, penjelasan Nafan menggarisbawahi bahwa fokus perhatian investor biasanya mengarah pada emiten dengan keterkaitan biaya operasional terhadap harga minyak.

Intinya, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS menjadi katalis yang ikut menggerakkan harga minyak dunia. Dari sana, bila penurunan harga minyak terus berlanjut, sektor-sektor seperti penerbangan dan logistik melalui Avtur, serta petrokimia melalui Naphtha dan kebutuhan bahan baku cracking plant, dipandang berpeluang memperoleh manfaat lebih besar.